Tawadhu dan Merendahkan Diri kepada Orang-Orang Mukmin

Dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ اللهَ أوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أحَدٌ عَلَى أحَدٍ، وَلاَ يَبْغِي أحَدٌ عَلَى أحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sehingga seseorang tidak membanggakan dirinya terhadap orang lain, dan tidak pula menzhalimi orang lain.” (HR Muslim).

Bahasa Hadits

أوْحَى
Memberi wahyu, yaitu pemberian informasi yang tersembunyi dan cepat. Kata ini digunakan untuk arti ilham dan penyampaian suatu makna ke dalam hati.

تَوَاضَعُوا
Tawadhu berarti tidak sombong, tunduk pada kebenaran, dan tidak menentang hukum.

لاَ يَفْخَرَ
Tidak bangga dan tidak membesar – besarkan keutamaan seperti status sosial dan nasab.

لاَ يَبْغِي
Tidak menzhalimi dan tidak melanggar hak.

Faidah Hadits

1. Kewajiban tawadhu, tidak berbangga, dan tidak menzalimi manusia.

2. Tawadhu yang wajib dan terpuji adalah tawadhu kepada Allah, Rasul-Nya, ulama, dan individu-individu manusia, apabila diniatkan untuk mencari ridha Allah. Barangsiapa berbuat demikian, maka Allah akan meninggikan derajatnya dan mengharumkan nama baiknya. Sedangkan tawadhu kepada orang yang zhalim itu pada hakikatnya merupakan kehinaan, bukan kemuliaan.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa dkk. Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *