Sebagian Rahmat Allah Ta’ala

Tafsir QS. Al-An’am: 54-55

وَإِذَا جَاۤءَكَ ٱلَّذِینَ یُؤۡمِنُونَ بِـَٔایَـٰتِنَا فَقُلۡ سَلَـٰمٌ عَلَیۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ أَنَّهُۥ مَنۡ عَمِلَ مِنكُمۡ سُوۤءَۢا بِجَهَـٰلَةࣲ ثُمَّ تَابَ مِنۢ بَعۡدِهِۦ وَأَصۡلَحَ فَأَنَّهُۥ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ * وَكَذَ ٰ⁠لِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ وَلِتَسۡتَبِینَ سَبِیلُ ٱلۡمُجۡرِمِینَ

Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu).” Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang-siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang shalih) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. QS. Al-An’am: 54-55.

Tafsir Al-Wajiz

Ketika datang kepadamu wahai Rasul, orang – orang yang beriman terhadap ayat – ayat Allah yang terdapat dalam al-Qur’an, dan mereka itu orang – orang yang dianggap lemah dari kaum mu’minin yang kami larang engkau dari mengusir mereka, katakanlah kepada mereka untuk mengobati pikiran mereka: “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu).” Rabb kalian menetapkan atas diri-Nya sifat rahmat sebagai anugerah dan kebaikan dari-Nya. Bahwasanya barang siapa yang melakukan dosa dengan sebab ketidaktahuan, tidak dengan sengaja dan berketetapan hati untuk terus melaksanakannya, kemudian ia bertaubat kepada Allah setelah ia mengerjakannya, dan ia memperbaiki amalnya serta memperbaiki apa yang ia rusak dengan maksiatnya, maka ia telah kembali kepada jalan yang benar. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun terhadap orang – orang yang meminta ampun dan Maha Penyayang terhadap orang – orang yang bertaubat. Ikrimah berkata: Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang – orang yang Allah ta’ala melarang Nabi-Nya untuk mengusir mereka, maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat mereka, beliau mendahului mereka dengan salam.

Sebagaimana perincian itu, kami jelaskan hujah – hujah dan dalil – dalil untuk menampakkan jalan orang – orang kafir dan menjelaskan jalan kesesatan mereka.

Fiqih Kehidupan dan Hukum – Hukumnya

Dua ayat tersebut menunjukkan kepada hal – hal sebagai berikut:

1. Allah memuliakan orang – orang yang lemah yang Allah larang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengusir mereka, maka ketika Nabi melihat mereka beliau mendahului mereka dengan mengucapkan salam. Dapat diambil faedah darinya, hendaknya kita menghormati orang – orang yang sholih dan menjauhi apa saja yang membuat mereka marah atau menyakiti mereka, karena sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat marahnya Allah. Yakni hukuman-Nya menimpa orang yang menyakiti salah seorang wali-Nya.

2. Adanya kemungkinan Allah menerima taubat hamba – hambanya yang jatuh dalam dosa – dosa kemudian mereka bertaubat dan memperbaiki perbuatan mereka di masa mendatang, sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

وَإِنِّی لَغَفَّارࣱ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ

Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk. QS. Thaha: 82.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, beliau berkata:

كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا قَالَ فَهَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ إِذَا هُمْ فَعَلُوا ذَلِكَ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ لَا يُعَذِّبُهُمْ

“Saya pernah membonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Hai Mu’adz! Apa hak Allah atas manusia?” saya menjawab; Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bahwa kalian menyembahnya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa kau tahu hak manusia atas Allah bila mereka melakukan hal itu?” saya menjawab; Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak menyiksa mereka.”

3. Luasnya rahmat Allah terhadap hamba – hamba-Nya. Sungguh Allah ta’ala menetapkan atas dirinya sifat rahmat sebagai anugerah dan kebaikan dari-Nya. Dia mengabarkan yang demikian itu dengan beritanya yang terpercaya dan janjinya yang benar, untuk memberitahu hamba-hambanya luasnya rahmat Allah, sebagaimana Allah berfirman:

وَرَحۡمَتِی وَسِعَتۡ كُلَّ شَیۡءࣲۚ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِینَ یَتَّقُونَ وَیُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلَّذِینَ هُم بِـَٔایَـٰتِنَا یُؤۡمِنُونَ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” QS. Al-A’raf: 156.

4. Pada Al-Qur’an Al-Karim itu, dirincikan setiap hukum – hukum agama: Maka sebagaimana Allah merincikan dalam surat ini dalil – dalil atas keberadaan-Nya dan ke-Esaan-Nya, Allah juga merincikan ayat – ayat bagi hamba – hambanya dalam setiap perkara penting yang diperlukan dalam urusan agama ini.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
1. Tafsir Al-Wajiz Syaikh Wahbah Zuhaili.
2. Tafsir Al-Munir Syaikh Wahbah Zuhaili.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *