Resolusi Debat Antara Rasulullah Dan Kaum Musyrikin

Tafsir QS. Al-An’am: 56-58

Allah ta’ala berfirman:

قُلۡ إِنِّی نُهِیتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِینَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ قُل لَّاۤ أَتَّبِعُ أَهۡوَاۤءَكُمۡ قَدۡ ضَلَلۡتُ إِذࣰا وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِینَ * قُلۡ إِنِّی عَلَىٰ بَیِّنَةࣲ مِّن رَّبِّی وَكَذَّبۡتُم بِهِۦۚ مَا عِندِی مَا تَسۡتَعۡجِلُونَ بِهِۦۤۚ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِۖ یَقُصُّ ٱلۡحَقَّۖ وَهُوَ خَیۡرُ ٱلۡفَـٰصِلِینَ * قُل لَّوۡ أَنَّ عِندِی مَا تَسۡتَعۡجِلُونَ بِهِۦ لَقُضِیَ ٱلۡأَمۡرُ بَیۡنِی وَبَیۡنَكُمۡۗ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِٱلظَّـٰلِمِینَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.” Katakanlah, “Aku tidak akan mengikuti keinginanmu. Jika berbuat demikian, sungguh tersesatlah aku, dan aku tidak termasuk orang yang mendapat petunjuk.” Katakanlah (Muhammad), “Aku (berada) di atas keterangan yang nyata (Al-Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.” Katakanlah (Muhammad), “Seandainya ada padaku apa (azab) yang kamu minta agar disegerakan kedatangannya, tentu selesailah segala perkara antara aku dan kamu.” Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zhalim. QS. Al-An’am: 56-58.

Tafsir Al-Wajiz

Katakanlah wahai Nabi kepada kaum yang musyrik: Sesungguhnya Allah melarangku untuk menyembah berhala yang kalian sembah selain Allah. Dia memerintahkanku agar tidak mengikuti hawa nafsu kalian yang rusak dan berada dalam kesesatan berupa ibadah kepada yang kalian sembah dan mengusir sebagian kelompok kaum mu’minin. Jika aku mengikuti hawa nafsu – hawa nafsu kalian maka aku adalah orang yang sesat.

Katakanlah kepada mereka: Sesungguhnya aku, pada apa saja yang aku menyalahi kalian, berada di atas hujah syariat Allah. Keadaan kalian yang mendustakan yang haq dan mendustakan Al-Quran yang aku bawa dari sisi Allah, sehingga kalian menjadikan sekutu bagi Allah, tidak ada padaku apa yang dapat mempercepat adzab olok – olokan itu bagi kalian. Hikmah pengakhiran adzab, penyegeraannya, dan hikmah pada segala sesuatu itu hanya ada pada Allah saja. Dia menetapkan keputusan yang benar dan memberitahukan kepada Rasul-Nya kisah yang benar dalam janji dan ancaman-Nya. Dia lah Allah subhanahu wa ta’ala sebaik – baik hakim yang memisahkan antara yang haq dengan yang batil dalam perkara para hamba. Al-Kalbi berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan an-Nadhar bin al-Harits dan para pemuka Quraisy: Mereka berkata: Wahai Muhammad, datangkanlah adzab kepada kami yang engkau ancamkan kepada kami. Hal itu mereka lakukan sebagai bentuk olok – olokan. Maka diturunkanlah ayat ini.

Katakanlah kepada mereka: Kalau padaku ada kuasa untuk menurunkan apa yang kalian minta untuk disegerakan, niscaya aku turunkan itu kepada kalian. Allah akan memberikan keputusan antara aku dan kalian. Allah lebih mengetahui orang – orang yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan kesyirikan yang mereka lakukan.

Fiqih Kehidupan dan Hukum – Hukumnya

Haq dan batil itu tidak akan berkumpul karena yang haq itu tegak di atas dalil dan akal sehat, sedangkan yang batil itu bersumber dari hawa nafsu dan syahwat. Oleh karena itulah mustahil bagi Rasulullah untuk mengikuti hawa nafsu kaumnya dalam menyembah berhala. Mereka itu menyembahnya mutlak karena hawa nafsu dan taqlid, tidak karena hujjah dan dalil. Mereka itu membuat patung, sementara akal menganggap buruk pekerja atau buruh menyembah yang dibuat atau diproduksinya.

Tidaklah penjatuhan adzab itu dengan kuasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana manusia lainnya. Sesungguhnya urusan dan hikmah pada yang demikian itu adalah milik Allah semata.

Firman Allah ta’ala:

إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّه

Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. QS. Al-An’am: 57.

Menunjukkan bahwa Allah tidak memberi kuasa kepada seorang hamba atas suatu urusan dari berbagai macam urusan kecuali jika Allah telah menetapkannya. Maka Ia melarang darinya perbuatannya orang-orang kafir kecuali jika telah ada keputusan dan ketetapan Allah terhadapnya. Demikian pulalah pada seluruh perbuatan-perbuatan karena nash ayat memberi faedah pembatasan, dengan makna bahwasanya tidak ada ketetapan kecuali ketetapan Allah.

Demikian pula lah waktu dijatuhkannya hukuman bagi orang-orang yang zalim serta kuantitasnya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dia semata lah yang mengetahui yang demikian itu, Dia mengakhirkannya hingga waktunya tiba, Dia menetapkan kadarnya sesuai dengan kehendaknya, Dia melakukan setiap yang demikian itu berdasar atas hikmah, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia menyegerakan apa saja yang dengan penyegeraannya itu merupakan sebuah hal yang lebih baik dan Dia mengakhirkan apa saja yang dengan pengakhirannya itu merupakan sebuah hal yang lebih baik.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
1. Tafsir Al-Wajiz Syaikh Wahbah Zuhaili.
2. Tafsir Al-Munir Syaikh Wahbah Zuhaili.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *