Nasehat (1)

Published by:

Dari Abi Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Nasehat untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim).

Bahasa Hadits:

(النَّصِيحَةُ): sebuah ungkapan yang menyatakan keinginan agar orang yang dinasehati berbuat kebaikan. Asal kata nasehat dalam bahasa adalah (الخلوص) yang artinya bersih / murni, dari kata tersebut (نصحت العسل) yaitu madu yang murni ketika madu dimurnikan dari lilin dan dibersihkan darinya. Dikatakan juga: kata nasehat diambil dari (نصح الرجل ثوبه) yaitu seorang laki – laki menjahit pakaiannya ketika ia menjahitnya, maka dalam hal maksud orang yang menasehati kepada orang yang dinasehati itu menyerupai dengan halnya perbaikan baju. Continue reading

Tanda – Tanda Kekuasaan Allah Yaitu Allah Menciptakan dan Mematikan Manusia – Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 28

Published by:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (QS. Al-Baqarah 2 : 28).

Allah ta’ala berfirman membuktikan keberadaan dan kekuasaan-Nya, Dialah Yang Maha Pencipta dan Yang Mengatur hamba-hamba-Nya. Untuk itu Allah ta’ala berfirman, Continue reading

Syarah Ibnu Aqil – Kalam dan Apa – Apa yang Tersusun Darinya

Published by:

كَلَامُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Kalam menurut istilah kami (ahli nahwu) adalah lafadz yang bermakna lengkap seperti “istaqim” (luruslah kamu). Sedangkan isim, fi’il, dan huruf kalim namanya.

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ وَكِلْمَةٌ بِهَا كَلَامٌ قَدْ يُؤَمْ

Bentuk tunggal kalim adalah kalimah, pada umumnya disebut qaul. Terkadang yang dimaksud kalimah sama dengan kalam.

Kalam menurut istilah ahli nahwu adalah lafadz yang berfaidah dapat mendiamkan si pendengar. Sedangkan lafadz adalah isim jinis (جنس ) yang mencakup kalam, kalimah, kalim, dan lafaz muhmal (yang tidak terpakai) seperti (دَيْزٌ, والْمُسْتَعْمَلُ , عَمْرٌو). Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Adalah Kewajiban yang Pertama

Published by:

Kewajiban yang pertama bagi seorang mukallaf adalah mengenal Allah ta’ala (ma’rifatullah) yakni mengetahui sifatNya yang mulia dan agung. Maka wajib bagi mukallaf untuk mengetahui bahwasanya Allah itu ada, Dia lah yang menciptakan alam semesta ini beserta apa yang ada di dalamnya, tidak akan ada sesuatu kalaulah bukan karena Dia yang Maha Mulia dan Maha Agung. Seorang mukallaf wajib untuk mengetahui bahwasanya Allah disifati dengan seluruh sifat yang sempurna yang layak bagi kemuliaan dan keagungannya dan menjauhkan segala sifat kekurangan yang tidak layak. Keyakinan – keyakinan (Al-Aqoid) ini dapat diketahui dari Al-Qur’an al-Karim, As-Sunnah yang disucikan, serta dari hal – hal yang mutawatir di antara kaum muslimin. Continue reading

Larangan Bagi Perempuan yang Haid dan Nifas

Published by:

Hal – hal yang diharamkan bagi wanita yang haid dan nifas ada 8 hal:

  1. Sholat

Dari Fathimah binti Abi Hubaisy bahwasanya dia terkena darah penyakit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

“Apabila itu darah haid, maka ia berwarna hitam sebagaimana yang diketahui (oleh wanita). Apabila darah itu ternyata demikian, maka tinggalkanlah shalat. Namun apabila darah itu lain, maka berwudhulah dan kerjakanlah shalat, karena itu hanyalah cucuran darah (dari urat)”. HR. Abu Dawud.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: Continue reading

Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Ketakwaan (1)

Published by:

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا في سَبيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازيًا في أهْلِهِ بِخَيرٍ فَقَدْ غَزَا

“Barangsiapa menyiapkan perlengkapan perang untuk orang yang akan berjuang di jalan Allah, berarti dia ikut berperang. Barangsiapa mengurusi keluarga yang ditinggalkan orang yang pergi berperang dengan baik, berarti dia telah berperang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahasa Hadits:

(خَلَفَ غَازِيًا فِي أَهْلِهِ): berinfak kepada keluarga orang yang berperang dan memenuhi kebutuhan – kebutuhan keluarganya saat ia tidak ada. Continue reading