Sebab – Sebab Adanya Motivasi dan Ancaman (Targhib dan Tarhib)

Published by:

Al-Qur’an al-Karim menghendaki agar kita mengikuti manhaj yang menggabungkan antara at-targhib (motivasi beramal) dan at-tarhib (ancaman). Agar at-targhib itu menjadi penstimulus pelaksanaan amal yang konstruktif dan at-tarhib itu menjadi sebab jauhnya hal – hal yang negatif.

Seorang manusia yang beriman lagi berakal akan memahami ketika targhib digabungkan dengan tarhib perlu adanya keseimbangan, pemikiran yang serius, dan amal yang tegas dengan membimbing dirinya dan yang lainnya ke arah kebaikan dan menjauhi keburukan serta kemunkaran. Hasil dari keseimbangan dan penggabungan ini akan segera tampak di dunia ataupun di akhirat. Di dunia, orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan kebahagiaan dan reputasi yang baik, menghilangkan keburukan dari mata – mata manusia, dan terjaga serta jauh darinya. Di akhirat, seorang mu’min yang sholih akan mendapatkan keabadian di Jannatun Na’im, keselamatan, dan kemenangan pada hisab di hadapan Allah ta’ala. Di akhirat, orang – orang kafir, fasiq, lagi durhaka akan mendapatkan tamparan yang pedih lagi menyakitkan dan dijerumuskan ke dalam neraka jahannam abadi di dalamnya.

Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Kemuliaan Baitul Haram dan Bulan Haram

Published by:

Baitul Haram, yakni Ka’bah Musyarrafah memiliki kemuliaan yang agung di sisi Allah ta’ala dalam syariatnya Nabi Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam. Demikian juga dalam syariat Islam, berdasarkan pertimbangan – pertimbangan maknawi yang tinggi. Juga karena Ka’bah itu pusat pengEsaan Allah ta’ala oleh seluruh manusia. Demikian pula Allah memuliakan bulan haram seperti Muharram dan Rajab, memuliakan setiap apa yang diberikan bagi penduduk Ka’bah (Makkah) yang berupa hewan ternak, dan memuliakan hewan kurban (hadyu) yang berkalung (qala’id) yakni hewan ternak yang diberi kalung pada leher mereka ketika digiring untuk disembelih dan didistribusikan kepada kaum fakir di Makkah. Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Hukum Hewan Buruan Pada Saat Ihram

Published by:

Orang – orang Arab itu pada tabiatnya cenderung kepada hewan buruan dan butuh kepadanya berdasarkan kurangnya sumber daya kehidupan di masa lampau. Hampir tidak bisa tidak, ada perburuan di setiap zaman dan di setiap tempat karena hewan buruan itu makanan yang lezat. Akan tetapi syara’ menanggapi kecenderungan tabiat pada hewan buruan ini, hingga syara’ membolehkan hewan buruan laut pada saat ihram untuk berhaji atau umrah dan mengharamkan hewan buruan darat pada saat itu. Syara’ mewajibkan bagi orang yang berhaji atau umrah yang melanggar pengharaman ini untuk membayar fidyah dengan hewan ternak yang semisal dengan hewan yang diburu tersebut, memberi makan orang – orang miskin, atau berpuasa seimbang/sepadan dengan besar atau nilai tangkapannya (berpuasa sebanyak jumlah orang miskin yang diberi makan dengan nilai binatang buruan yang ditangkap).

Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Pengharaman Minuman Keras dan Judi Serta Yang Semisal Dengannya

Published by:

Sesungguhnya bagian yang diharamkan dalam Islam itu sempit sekali, sedangkan bagian yang dihalalkan itu lebih luas dan lebih banyak darinya. Hal – hal yang diharamkan dalam Islam itu adalah hal – hal yang mendatangkan kerusakan bagi diri, harta, aspek adab, atau menjadi hal yang menjijikkan. Di antara yang diharamkan lagi munkar yang ditunjukkan oleh nash yang pasti lagi yakin di dalam al-Qur’an al-Karim yaitu minuman keras, judi, al-anshab (yakni batu yang ada di sekeliling Ka’bah Musyarrafah tempat menyembelih kurban – kurban orang jahiliyah), dan azlam (yaitu potongan kayu tipis seperti anak panah yang dipergunakan untuk mempertimbangkan antara dua hal di masa jahiliyah, bernasib baik atau sial, biasanya terdapat pada dukun atau berhala). Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Kafarat Sumpah

Published by:

Seorang mu’min hendaknya memenuhi perjanjiannya dengan Allah ta’ala serta mengagungkan Dzat Allah dan kemuliaan-Nya. Hendaknya ia menghindari setiap perbuatan yang melanggar kemuliaan dan kesucian-Nya. Ketika ia bersumpah dengan nama Allah ta’ala, wajib baginya untuk menjaga sumpahnya ketika perkara yang disumpahkannya itu adalah perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah atau perkara ketaatan. Boleh baginya melanggar sumpahnya bahkan wajib untuk melanggarnya bila perkara yang disumpahkannya itu adalah kemaksiatan. Tidak ada hukuman dalam hal sumpah yang spontan di bibir tanpa maksud untuk bersumpah semisal: “Tidak demi Allah dan Ya demi Allah, aku akan makan, minum, duduk, atau mengunjungi.” Sesungguhnya yang ada hukum syar’inya adalah sumpah yang disengaja yang dimaksudkan oleh orang yang bersumpah dengan kehendak untuk komit terhadapnya. Maka ketika ia menyesalinya, Syariat memudahkan urusannya dan memberinya keringanan di saat ia melanggarnya dengan apa yang disebut kafarat sumpah.

Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Bolehnya Yang Baik – Baik

Published by:

Islam adalah agama yang pertengahan dan adil. Maka janganlah menganggap remeh amal – amal kebaikan atau amal – amal yang bermanfaat bagi manusia dan jama’ah. Juga jangan keras dan membebani di luar kemampuan dalam seluruh amal – amal taklif yang diperintahkan oleh Allah ta’ala. Sesungguhnya Islam itu adalah agama yang longgar dan mudah. Sedikit beban – beban amalnya dan tuntutan – tuntutannya. Membolehkan yang halal dan baik. Mencegah yang haram dan buruk. Tidak melampaui batas di dalamnya dan tidak pula melalaikannya. Tidak melampaui batas – batas akal, ketentuan, dan ikatan syar’i yang disyariatkan untuk penjagaan maslahat manusia dan perwujudan manfaat – manfaat mereka serta untuk menolak kerusakan – kerusakan, bahaya – bahaya, dan kerugian – kerugian.

Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Hubungan Antara Ahli Kitab Dan Kaum Mu’minin

Published by:

Adalah wajar bagi orang – orang beragama untuk bertemu dan menyatukan kata – kata mereka karena mereka beriman dengan keimanan yang serupa terhadap adanya Sang Pencipta dan ke-Esaannya. Juga keimanan terhadap adanya hari kebangkitan, surga, dan neraka. Dan bahwa moral dan standar perilaku mereka diambil dari ajaran dan petunjuk-Nya. Yang tidak termasuk diharapkan pertemuannya adalah pertemuan dengan kaum musyrikin dan para penyembah berhala atau orang – orang atheis karena mereka itu tidak beriman terhadap agama ilahiah dan sesungguhnya mereka meyakini prinsip – prinsip yang berlandaskan pada angan – angan yang diadakan oleh para pemimpin dan pembesar mereka. Mereka bertaklid kepadanya tanpa merenungkan dan memikirkannya.

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an al-Karim kepada kaum Yahudi dan Nashara dengan sifat ahli kitab, dan berkata kepada selain orang yang beriman terhadap agama ilahi dengan lafadz kaum musyrikin. Hubungan kaum mu’minin dengan sebagian ahli kitab ada yang merupakan hubungan ramah dan persahabatan, sedangkan hubungan kaum muslimin dengan kaum musyrikin adalah hubungan permusuhan, antipati, dan kebencian.

Allah ta’ala berfirman: Continue reading