Syarat – Syarat Yang Harus Dipenuhi Sebelum Melaksanakan Sholat

Published by:

1. Sucinya badan dari hadats kecil, hadats besar, dan najis.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah…” QS. Al-Maidah : 6.

Adapun dalil syarat bersih dari najis adalah adanya perintah Nabi shallallahu ‘ alaihi wasallam mencuci najis – najis sebagaimana sabda beliau kepada Fathimah binti Abi Hubaisy: Continue reading

Sifat Wajibul Wujud Bagi Allah

Published by:

Salah satu sifat yang wajib bagi Allah ta’ala adalah sifat nafsiyah yaitu sifat wujud secara dzat. Hal ini bermakna keberadaan atau wujudnya Allah ta’ala adalah wajib secara aqal bagi Dzat-Nya, keberadaanNya tidaklah karena suatu alasan atau sebab tertentu. Penjelasan memgenai pembicaraan ini membutuhkan penjelasan kepada dua hal yaitu:

Pertama: maknanya wajibul wujud. Telah dijelaskan pada penjelasan yang lain bahwa makna wajib dalam pembahasan aqidah adalah apa – apa yang ketiadaannya tidak dapat digambarkan oleh aqal (tidak terbayang) dalam suatu keadaan dari keadaan – keadaan. Tidak dapat tergambar baik itu pada keadaan sebelum ini, saat ini, maupun nanti. Continue reading

Larangan Duduk Di Majelis Yang Mengolok – Olok Ayat – Ayat Allah

Published by:

Allah ta’ala melarang kaum mu’minin seluruhnya baik mereka yang benar imannya ataupun mereka yang beriman secara dzhahir saja yaitu kaum munafik, dari duduk dalam majelisnya orang – orang kafir yang mengolok – olok ayat – ayat Allah. Maka janganlah mendengarkan mereka dan jangan duduk bersama mereka hingga mereka membicarakan topik yang lain. Apabila kalian duduk bersama mereka maka kalian berserikat dengan mereka dalam hal kekufuran karena kalian ridho dengan pembicaraan mereka.

Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Ketakwaan

Published by:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim utusan kepada Bani Lihyan dari suku Hudzail, beliau bersabda:

لِيَنْبَعِثْ مِنْ كُلِّ رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا وَالْأَجْرُ بَيْنَهُمَا

“Hendaknya setiap dua orang berangkat salah satunya, sedangkan pahala antara keduanya sama.” HR. Muslim.

Bahasa hadits:
بَعَث
Yakni: bermaksud untuk mengutus.

بَنِي لحْيَانَ
Bani Lihyan: yakni salah satu bani yang paling terkenal dari Hudzail. Adapun Hudzail adalah salah satu suku yang masyhur dari suku – suku arab. Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus utusan kepada mereka, mereka masih dalam keadaan musyrik.

Faedah Hadits:

Janganlah kaum laki – laki dari suatu qabilah (suku) ataupun kaum laki – laki dari suatu negeri keluar semua untuk berjihad, namun sebagian saja yang pergi. Bagi orang yang tidak berangkat akan mendapatkan pahala yang semisal dengan yang berangkat apabila mereka menggantikan peran mereka yang berangkat terhadap keluarganya dengan baik serta menginfaqkan hartanya untuk kebutuhan mereka yang ditinggalkan.

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa dkk. Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.

 

Rukun – Rukun Sholat

Published by:

1. Niat

Allah ta’ala berfirman:

(وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” QS. Al-Bayyinah : 5.

Al-Mawardi berkata: ikhlas dalam pembicaraan mereka maksudnya adalah niat. Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: al-Qidam

Published by:

Makna dari sifat qidam Allah subhanahu wa ta’ala adalah bahwasanya keberadaan Allah ta’ala tidak didahului oleh ketiadaan.

Dalam bahasa kita katakan:
هذا كتاب قديم
“Ini adalah kitab yang qadim (dahulu/tua)”.

Akan tetapi berapapun tuanya usia kitab tersebut tetap saja kitab tersebut sebelumnya adalah tidak ada kemudian berwujud ada.

Kita katakan juga:
هذا بناء قديم
“Ini adalah bangunan yang qadim (dahulu/tua)”.

Akan tetapi berapapun tuanya bangunan tersebut tetap saja bangunan tersebut sebelumnya adalah tidak ada kemudian berwujud ada.

Makna yang demikian itu bukanlah yang dimaksud dengan sifat qadim bagi Allah ta’ala karena makna itu menunjukkan kepada adanya sesuatu setelah sebelumnya ia tidak ada yakni bersifat حدوث (baru). Continue reading

Mungkinkah Kaum Kafir Menguasai Kaum Mu’minin?

Published by:

Jawabannya adalah mungkin, hal itu pernah terjadi di masa lampau dan masih kita saksikan hingga saat ini. Padahal Allah ta’ala berfirman:

…وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“…Dan Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang yang beriman.” QS. An-Nisa’ : 141.

Lalu apa maknanya ayat tersebut? Continue reading