Apakah Keimanan Itu Dapat Bertambah dan Berkurang?

Published by:

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa iman itu adalah pembenaran yang pasti terhadap apa – apa yang masyhur di antara kaum muslimin bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang membawanya. Lalu kemudian, apakah keimanan yang demikian itu dapat bertambah dan berkurang?

Bagi para ulama’, terdapat beberapa pandangan terhadap yang demikian itu:

1. Jumhur Asya’irah berpendapat bahwa keimanan itu dapat bertambah dengan sebab bertambahnya ketaatan dan berkurang disebabkan karena berkurangnya ketaatan. Ketaatan itu sendiri adalah mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Continue reading

Adil Dalam Peradilan dan Persaksian

Published by:

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada hamba – hambanya yang mu’min untuk menegakkan keadilan. Janganlah mundur dari menegakkan keadilan karena celaan orang – orang yang mencela dan hendaklah saling tolong menolong dalam menegakkannya. Keadilan itu bersifat umum mencakup keadilan di antara manusia dalam hukum – hukum yang ada, terhadap perbuatan di manapun itu, dan terhadap kerabat siapapun itu. Maka baik itu seorang hakim, penguasa, pegawai, dan yang lainnya sama kedudukannya dalam hukum – hukum dan peradilan sebagaimana samanya antara seorang pemilik pekerjaan dengan pekerjanya. Sebagaimana halnya juga samanya antara kedudukan seorang suami dengan istri dan anak – anaknya dalam hal muamalah dan hibah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Continue reading

Orang Yang Mempelopori Kemaksiatan Atau Kebaikan

Published by:

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

َ لَيْسَ مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ أَوَّلًا

“Tidaklah seseorang dibunuh secara zhalim, melainkan anak Adam pertama turut menanggung darah yang ditumpahkan, sebab dialah yang pertama-tama melakukannya.” .” HR. Bukhari dan Muslim.

Bahasa Hadits:

ظُلْمًا
Secara zhalim yakni dibunuh tanpa haq.

ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ
Anak Adam yang pertama yakni mengacu kepadanya berdasarkan firman-Nya:

(وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ)
(لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ)
(إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ)
(فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ)

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah :27-30).

كِفْلٌ
Yakni bagian. Di dalam al-Misbah disebutkan: kiflun adalah berlipat gandanya pahala ataupun dosa.

سَنَّ
Yang memperkenalkan yakni yang melakukan pembunuhan untuk yang pertama kalinya.

Faedah Hadits:
Sesungguhnya orang yang menjadi sebab dalam suatu perbuatan, orang yang menyuruh suatu perbuatan, atau orang yang mengingatkan suatu perbuatan, memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang melaksanakan perbuatan itu, baik dalam hal pahalanya ataupun dosanya, bahkan bisa jadi pertanggungjawabannya berlipat – lipat.

Maka berhati – hatilah dalam setiap memulai suatu perbuatan, bila perbuatan tersebut adalah sebuah kemaksiatan, maka dosa kemaksiatan itu dan dosa orang – orang yang melakukan kemaksiatan itu karena mengikuti kita, juga akan kita tanggung. Contohnya: memulai pertama kali sebuah perhelatan dangdut maksiat untuk memperingati hari kemerdekaan. Maka ketika setiap tahun diadakan acara maksiat tersebut karena mengikuti yang sudah – sudah, orang – orang yang pertama kali memulainya juga akan turut menanggung dosanya. Na’udzubillahi min dzalik.

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa dkk.Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.

 

Sholat Sunnah Muakkad

Published by:

Sholat sunnah muakkad (yang sangat dianjurkan) setelah sholat sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan secara berjama’ah (sholat I’ed, Istisqa, kusuf) dan setelah sholat sunnah rawatib yang mengikuti sholat fardhu, ada tiga yaitu:

1. Sholat al-Lail (tahajud)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya:

أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Shalat apakah yang paling utama setelah shalat Maktubah (wajib)? Dan puasa apakah yang paling utama setelah puasa Ramadlan?” maka beliau menjawab: “Seutama-utama shalat setelah shalat Maktubah (wajib) adalah shalat pada sepertiga akhir malam, dan seutama-utama puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Muharram.” HR. Muslim. Continue reading

Sifat – Sifat Yang Wajib Bagi Allah

Published by:

Dalam pembahasan mengenai ilahiyah (ketuhanan) para ulama’ membahas tentang sifat – sifat Allah ta’ala. Sifat – sifat tersebut adalah sifat yang ditetapkan oleh aqal yang salim (selamat) bahwasanya Allah azza wa jalla disifati dengannya. Kemudian datanglah Al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Nabi yang mulia yang menjelaskannya. Oleh karena itu kita menjumpai pada sifat – sifat Allah tersebut dalil – dalil yang bersifat naqli (Qur’an dan Sunnah) dan yang bersifat aqli (aqal). Para ulama’ tauhid membagi sifat – sifat Allah tersebut menjadi empat bagian:

1. Sifat nafsiyah: yaitu sifat yang menunjukkan atas diri Dzatnya Allah ta’ala. Maka mensifati-Nya dengan sifat tersebut menunjukkan kepada diriNya tanpa membahas yang lain. Sifat ini adalah sifat wujud. Maka sifat wujud hanya menunjukkan kepada Dzatnya tabaraka wa ta’ala semata. Meskipun demikian, sifat as-Sama’ (السمع) menunjukkan kepada Dzatnya sam’un (سمع) atau Dzatnya yang mendengar. Demikian pula sifat bashar (البصر) menunjukkan kepada Dzatnya yang melihat. Continue reading

Sifat Kaum Munafiqin: Mengambil Orang Kafir Sebagai Penolong

Published by:

Di antara sifat kaum munafiq adalah bahwasanya mereka mengambil orang – orang kafir sebagai wali, penolong, dan yang membantu mereka. Kaum munafiq itu mengesampingkan perwalian kaum muslimin dan meninggalkannya. Di antara mereka mengira bahwa kemenangan itu akan jatuh kepada kaum kafir. Mereka tidak mengetahui kalau kemenangan itu pada akhirnya adalah bagi orang – orang yang bertaqwa karena Allah bersama mereka.

Allah ta’ala berfirman:

(بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا)
(الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا)

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa’ 138-139).

Allah ta’ala mengingkari mereka dan menegur mereka kemudian mengingatkan bahwasanya bila mengambil orang kafir sebagai wali lantaran mereka menghendaki kemuliaan yakni kekuatan mereka, maka sungguh mereka telah keliru. Karena kemuliaan itu hanya bagi Allah di dunia dan akhirat dan Allah memberikannya kepada siapa saja yang Ia kehendaki.

Kata auliya’ ( أَوْلِيَاءَ ) sendiri dalam QS. An-Nisa’ 139 di atas adalah bentuk jama’ dari wali ( ولي) yang maknanya adalah penolong, mereka mengambil orang – orang kafir sebagai wali karena mereka mengira orang – orang kafir itu memiliki kekuatan.

QS. An-Nisa’ 139 di atas mencakup larangan untuk loyal kepada kaum kafir dan mengambil mereka sebagai penolong atas urusan – urusan yang berkaitan dengan urusan agama.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْمُشْرِكِينَ لَحِقَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُقَاتِلَ مَعَهُ فَقَالَ ارْجِعْ ثُمَّ اتَّفَقَا فَقَالَ إِنَّا لَا نَسْتَعِينُ بِمُشْرِكٍ

“Sesungguhnya terdapat seorang musyrik yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berperang bersama beliau. Kemudian beliau berkata; kembalilah! kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kami tidak meminta bantuan kepada orang musyrik.” HR. Abu Dawud. Hadits shahih.

Rujukan:
Tafsir Al-Munir karya Syaikh Wahbah Zuhaili.

Menunjukkan Kepada Kebaikan Atau Keburukan

Published by:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” HR. Muslim.

Bahasa Hadits:

دَعَا
Mengajak. Yaitu mendorong kepadanya baik dengan perbuatan maupun dengan perkataan.

هُدًى
Petunjuk. Yakni kebenaran dan kebaikan.

ضَلَالَةٍ
Kesesatan. Yaitu kebatilan dan keburukan.

Faedah Hadits:
1. Bahwa orang yang menjadi sebab dilakukannya suatu perbuatan dan orang yang melakukannya langsung memiliki kesamaan dalam hal hukuman ataupun pahala yang diperoleh.

2. Bagi seorang muslim hendaknya ia memperhatikan akibat dan hasil yang didapat dari perbuatan – perbuatannya. Hendaknya ia berusaha untuk melakukan kebaikan agar ia menjadi teladan yang baik.

3. Bagi seorang muslim hendaknya ia menghindari ajakan – ajakan yang batil dan berusaha menjauhkan diri dari pergaulan yang buruk. Karena, ia akan dituntut tanggungjawabnya terhadap perbuatannya itu.

4. Orang yang menjadi sebab bagi terlaksananya suatu amal kebaikan, maka baginya pahala yang berlipat ganda, dan orang yang menjadi sebab terlaksananya suatu amal keburukan juga akan memperoleh siksa yang berlipat.

 

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa dkk. Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.