Ijma’ Para Mujtahid Kaum Muslimin Sebagai Dalil Hukum Syar’i

Published by:

Para ulama’ terutama Imam Syafi’i rahimahullah berpendapat bahwa sah untuk berpendapat dengan ijma’ yaitu kesepakatan para mujtahid dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam setelah wafatnya beliau pada masa – masa setelahnya atas suatu hukum syar’i. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

(وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا)

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” QS. An-Nisa’ 115.

Keshahihan pendapat yang berdasarkan ijma’ tersebut adalah karena Allah ta’ala menyandingkan antara ittiba’ atau mengikuti jalan selain jalannya kaum mukminin hingga penjelasan Rasul terhadap janji Allah. Maka dengan demikian ayat tersebut menunjukkan keshahihan ijma’ umat agar janji Allah ditunaikan bagi siapa saja yang mengikuti jalan selain jalannya kaum mukminin.

Wallahu ‘alam bi ash-showwab.

Rujukan: Tafsir Al-Munir karya Syaikh Wahbah Zuhaili.

 

Berpegang Teguh Kepada Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafaur Rasyidin

Published by:

Dari al ‘Irbadh bin Sariyah beliau berkata; suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi nasehat kepada kami setelah shalat subuh, nasehat yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata; ‘seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun terhadap seorang budak Habasyi, sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat (bid’a), karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa di antara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata hadits ini hadits hasan shahih. Continue reading

Dosa Syirik Tidak Terampuni

Published by:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada Allah. Namun sungguh Allah akan mengampuni dosa – dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Sebaliknya barang siapa yang menyekutukan Allah dengan sesuatu maka sungguh mereka adalah orang yang sesat dan jauh dari petunjuk. Allah ta’ala berfirman:

(إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. QS. An-Nisa’ 116.

Dalam ayat tersebut, Allah ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuni hamba-Nya yang bertemu dengan-Nya dalam keadaan menyekutukan-Nya. Continue reading

Seseorang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Belum Bertaubat

Published by:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا)

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” QS. An-Nisa’ 116.

(فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” QS. Al-Zalzalah : 7). Continue reading

Kelayakan Masuk Surga Bukan Karena Angan – Angan Dan Pengakuan Semata

Published by:

Qatadah berkata: diriwayatkan kepada kami bahwasanya suatu ketika kaum muslimin dan ahli kitab saling berbangga. Ahli kitab berkata: nabi kami ada sebelum nabi kalian, kitab kami ada sebelum kitab kalian, nabi kami ada sebelum nabi kalian, maka kami lebih utama terhadap Allah daripada kalian. Kaum muslimin berkata: kami lebih utama terhadap Allah daripada kalian, nabi kami adalah penutup para nabi, kitab kami memutuskan kitab -kitab yang sebelumnya. Maka kemudian Allah menurunkan ayat:

(لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ)

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” QS. An-Nisa’ 123. Continue reading

Larangan Bid’ah (Perkara yang Diada -Adakan)

Published by:

Dari Jabir bin Abdullah beliau berkata, bahwasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda:

صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (dan menempelkan jari telunjuk dan jari tengah.)” Continue reading

Sholat Sunnah Rawatib

Published by:

Sholat sunnah rawatib yaitu sholat – sholat sunnah yang mengikuti sholat fardhu di antaranya adalah:

1. Dua rakaat sebelum sholat fajar (subuh).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

“Tidak ada shalat sunnah yang lebih Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tekuni daripada dua raka’at fajar”. HR. Bukhari dan Muslim. Continue reading