Istiqomah

Published by:

Dari Abu Hurairah beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

قَارِبُوا وَسَدِّدُوا وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْتَ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ

“Mendekatlah dan istiqamahlah, ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang selamat karena amalnya.” Mereka bertanya: “Tidak juga Engkau wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat dan karunia padaku.” HR. Muslim.

المُقَاربَةُ
Adalah maksud yang tidak berlebihan dan tidak kurang.

السَّدادُ
Adalah istiqamah.

قَالَ العلماءُ: مَعنَى الاِسْتِقَامَةِ لُزُومُ طَاعَةِ اللهِ تَعَالَى
Para ulama’ berkata bahwa makna istiqamah itu adalah tetap berada dalam ketaatan kepada Allah ta’ala.

Dari hadits tersebut dapat kita ambil faidah sebagai berikut:
1. Bahwasanya karunia dan rahmat Allah atas hambanya itu lebih luas daripada amal – amal mereka.
2. Hadits ini menunjukkan cara kepada kita untuk memperoleh suatu kebaikan yaitu dengan istiqamah di atas manhaj Allah tanpa berlebihan dan tanpa kurang.
3. Tidak sepatutnya bagi seorang hamba untuk tertipu dengan amalnya sehingga ia penuh harap dengannya kepada Allah namun tanpa disertai dengan rasa takut sehingga ia menjadi orang yang celaka lantaran ujub atau bangga diri.

Tabayyun (Klarifikasi) Dalam Perang

Published by:

Dari Ibnu Abbas ia berkata; “Seseorang dari Bani Sulaim melintasi beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil membawa kambing miliknya, lalu orang tersebut mengucapkan salam kepada mereka, justru mereka menjawab; “Tidaklah ia mengucapkan salam kepada kalian, melainkan ia hendak berlindung dari kalian.” Lantas mereka berdiri lalu membunuhnya dan mengambil kambingnya. Setelah itu mereka membawanya ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah ayat;
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِناً تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَياةِ الدُّنْيا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغانِمُ كَثِيرَةٌ كَذلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كانَ بِما تَعْمَلُونَ خَبِيراً (٩٤)
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. An-Nisa’ 94.

Bani Sulaim sendiri adalah salah satu Bani yang akan menyerang kota Madinah pada tahun ke 2 Hijrah dan kemudian diperangi oleh pasukan para sahabat.

QS. An-Nisa’ 94 di atas menunjukkan keharusan tetapnya hukum dan tidak terburu – buru dalam urusan pembunuhan karena sangat seriusnya urusan tersebut. Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa cukuplah bagi seseorang itu dianggap sebagai seorang muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat secara dhohir tanpa perlu untuk menyingkap apa yang sebenarnya di dalam hati. Hal ini karena urusan hati tersebut bukanlah sesuatu hal yang berada dalam cakupan kekuasaan manusia dan merupakan perkara ghaib. Konsep seperti ini berkaitan dengan riwayat lain:

Dari Usamah beliau berkata:
بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنْ السِّلَاحِ قَالَ أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutuskan kami dalam suatu pasukan. Suatu pagi kami sampai di al-Huruqat, yakni suatu tempat di daerah Juhainah. Kemudian aku berjumpa seorang lelaki, lelaki tersebut lalu mengucakan LAA ILAAHA ILLAALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah), namun aku tetap menikamnya. Lalu aku merasa ada ganjalan dalam diriku karena hal tersebut, sehingga kejadian tersebut aku ceritakan kepada Rasulullah. Rasulullah lalu bertanya: ‘Kenapa kamu membunuh orang yang telah mengucapkan Laa Ilaaha Illaahu? ‘ Aku menjawab, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takutkan ayunan pedang.” Rasulullah bertanya lagi: “Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak?” HR. Muslim.

Dari sini muncullah sebuah kaidah fiqih yang besar:
أن الأحكام تناط بالمظان والظواهر، لا على القطع واطلاع السرائر
Hukum-hukum itu tergantung pada dugaan dan pernyataan luar, tidak atas hal yang qat’i (pasti) dan penampakan rahasia.

Dengan demikian, bertabayyun lah dalam setiap kondisi mengenai muslim ataupun kafirnya seseorang. Bahkan dalam kondisi perang sekalipun yang darurat dan bahkan bisa jadi membahayakan nyawa bila bertabayyun dulu, kita tetap diperintahkan untuk tabayyun. Apatah lagi dalam kondisi tidak perang bahkan di era berita sosial media sekarang ini, janganlah mudah mengkafirkan seseorang.

Dalam QS. An-Nisa’ 94 di atas juga terdapat satu nash yang jelas bahwa tujuan kaum mukminin untuk berjihad sebagaimana disyariatkan oleh Allah adalah dalam rangka meninggikan kalimatullah tidak karena harta rampasan perang ataupun tujuan materi duniawiyah yang lainnya.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

 

 

Bersegera Dalam Kebaikan Dan Tidak Menunda – Nunda Dalam Beramal

Published by:

Dari ‘Uqbah beliau berkata,

صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ

“Aku pernah shalat ‘Ashar di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di kota Madinah. Setelah salam, tiba-tiba beliau berdiri dengan tergesa-gesa sambil melangkahi leher-leher orang banyak menuju sebagian kamar isteri-isterinya. Orang-orang pun merasa heran dengan ketergesa-gesaan beliau. Setelah itu beliau keluar kembali menemui orang banyak, dan beliau lihat orang-orang merasa heran. Maka beliau pun bersabda: “Aku teringat dengan sebatang emas yang ada pada kami. Aku khawatir itu dapat menggangguku, maka aku perintahkan untuk dibagi-bagikan.” HR. Bukhari.

Dalam sebuah riwayat lain dari Uqbah juga Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُنْتُ خَلَّفْتُ فِي الْبَيْتِ تِبْرًا مِنْ الصَّدَقَةِ فَكَرِهْتُ أَنْ أُبَيِّتَهُ فَقَسَمْتُهُ
“Aku tinggalkan dalam rumah sebatang emas dari harta shadaqah. Aku tidak mau bila sampai bermalam, maka aku bagi-bagikan”. HR. Bukhari.

Beberapa faidah yang dapat kita petik dari hadits tersebut di antaranya adalah:
– Disukainya untuk membersihkan hati dari hal – hal yang menyibukkannya dari mengingat Allah ta’ala serta disukainya untuk bersegera kepada amal kebaikan.
– Hadits tersebut juga menunjukkan bolehnya meminta tolong ataupun mewakilkan pemberian harta shodaqoh meskipun mampu untuk menyerahkannya langsung.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Muslimin Yang Gugur Dalam Barisan Pasukan Kafir Quraisy Karena Enggan Berhijrah

Published by:

Suatu ketika saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih di Makkah, terdapat sekelompok orang yang masuk Islam dan menunjukkan keIslaman mereka kepada Nabi. Namun ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah mereka tidak turut ikut berhijrah dan tetap bersama kaumnya. Maka pada saat terjadi perang Badar, mereka yang tidak ikut berhijrah tersebut bergabung dengan pasukan kaum kafir, di antara mereka ada yang terbunuh dalam perang tersebut dengan status sebagai pasukan kaum kafir meskipun mereka telah berIslam. Tempat mereka adalah neraka jahannam. Mereka itulah yang dimaksud oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

(إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا)
(إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا)
(فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا)

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. QS. An-Nisa’ 97-99. Continue reading

Mujahadah (Bersungguh – Sungguh) Dalam Beribadah Kepada Allah

Published by:

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah azza wa jalla berfirman:

إِذَا تَقَرَّبَ عَبْدِي مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا أَوْ بُوعًا وَإِذَا أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Apabila hambaku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” HR. Bukhari. Continue reading

Sholat Qashar

Published by:

Berkaitan dengan sholat qashar yaitu meringkas sholat, Allah ta’ala berfirman:

(وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا)

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qashar sholat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” QS. An-Nisa’ 101.

Terdapat beberapa pembahasan yang berkaitan dengan ayat tersebut yaitu: Continue reading

Tambah Usia Tambah Banyak Ilmu dan Amal Kebaikan

Published by:

Ketika Makkah dibuka oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai kemenangan Islam atas kekufuran, justru turun sebuah surat yang memerintahkan untuk banyak memuji Allah, memohon ampunan, dan bertaubat. Surat itu adalah surat An-Nashr.

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ)
(وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا)
(فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” QS. An-Nashr 1-3. Continue reading