Diturunkannya Hidangan Kepada Bani Israil Dengan Permintaannya Hawariyyun

Published by:

Tafsir QS. Al-Ma’idah Ayat 112-115

Allah ta’ala berfirman:

إِذۡ قَالَ ٱلۡحَوَارِیُّونَ یَـٰعِیسَى ٱبۡنَ مَرۡیَمَ هَلۡ یَسۡتَطِیعُ رَبُّكَ أَن یُنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَاۤىِٕدَةࣰ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِۖ قَالَ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ *  قَالُوا۟ نُرِیدُ أَن نَّأۡكُلَ مِنۡهَا وَتَطۡمَىِٕنَّ قُلُوبُنَا وَنَعۡلَمَ أَن قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَنَكُونَ عَلَیۡهَا مِنَ ٱلشَّـٰهِدِینَ * قَالَ عِیسَى ٱبۡنُ مَرۡیَمَ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَاۤ أَنزِلۡ عَلَیۡنَا مَاۤىِٕدَةࣰ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ تَكُونُ لَنَا عِیدࣰا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَایَةࣰ مِّنكَۖ وَٱرۡزُقۡنَا وَأَنتَ خَیۡرُ ٱلرَّ ٰ⁠زِقِینَ *  قَالَ ٱللَّهُ إِنِّی مُنَزِّلُهَا عَلَیۡكُمۡۖ فَمَن یَكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنكُمۡ فَإِنِّیۤ أُعَذِّبُهُۥ عَذَابࣰا لَّاۤ أُعَذِّبُهُۥۤ أَحَدࣰا مِّنَ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, “Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.” Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu agar tenteram hati kami dan agar kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan (hidangan itu).” Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” Allah berfirman, “Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam).” QS. Al-Ma’idah: 112-115.

Tafsir al-Wajiz: Continue reading

Mengingat Mukjizat Nabi Isa ‘Alaihissalam

Published by:

Allah ta’ala berfirman:

إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ یَـٰعِیسَى ٱبۡنَ مَرۡیَمَ ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِی عَلَیۡكَ وَعَلَىٰ وَ ٰ⁠لِدَتِكَ إِذۡ أَیَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِی ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلࣰاۖ وَإِذۡ عَلَّمۡتُكَ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِیلَۖ وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّینِ كَهَیۡـَٔةِ ٱلطَّیۡرِ بِإِذۡنِی فَتَنفُخُ فِیهَا فَتَكُونُ طَیۡرَۢا بِإِذۡنِیۖ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِیۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِیۖ وَإِذۡ كَفَفۡتُ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ عَنكَ إِذۡ جِئۡتَهُم بِٱلۡبَیِّنَـٰتِ فَقَالَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِنۡهُمۡ إِنۡ هَـٰذَاۤ إِلَّا سِحۡرࣱ مُّبِینࣱ *  وَإِذۡ أَوۡحَیۡتُ إِلَى ٱلۡحَوَارِیِّـۧنَ أَنۡ ءَامِنُوا۟ بِی وَبِرَسُولِی قَالُوۤا۟ ءَامَنَّا وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّنَا مُسۡلِمُونَ

“Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Rohulkudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia, “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab, “Kami telah beriman, dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim).” QS. Al-Ma’idah: 110-111

Tafsir al-Wajiz: Continue reading

Pertanyaan Kepada Rasul Di Hari Kiamat Mengenai Pengaruh Dakwah Mereka

Published by:

Allah ta’ala berfirman:

یَوۡمَ یَجۡمَعُ ٱللَّهُ ٱلرُّسُلَ فَیَقُولُ مَاذَاۤ أُجِبۡتُمۡۖ قَالُوا۟ لَا عِلۡمَ لَنَاۤۖ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّـٰمُ ٱلۡغُیُوبِ

(Ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?” Mereka (para rasul) menjawab, “Kami tidak tahu (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” QS. Al-Ma’idah: 109.

Fiqih Kehidupan atau Hukum – Hukumnya:

Merupakan hal yang kokoh di dalam al-Qur’an al-Karim bahwa Allah ta’ala bertanya kepada para Rasul mengenai pelaksanaan kewajiban – kewajiban mereka dalam menyampaikan dan bertanya kepada kaum – kaum mereka mengenai sejauh mana respon mereka terhadap dakwah Para Rasul. Jenis respon itu sendiri apakah respon menerima ataukah respon mengingkari? Continue reading

Hukum Kesaksian Atas Wasiat

Published by:

Dianjurkan adanya kesaksian dalam seluruh akad – akad duniawi yang dituntut implementasinya pada waktu tertentu. Hal ini sebagai bentuk penjagaan terhadap hak – hak, mencegah hilangnya hak, serta menjauhkan dari kezhaliman dan kerusakan. Tuntutan untuk adanya kesaksian ini ditegaskan dengan harus adanya dua orang saksi yang adil atas sebuah wasiat. Agar mencegah dari pengingkaran atau berlambat – lambat dalam melaksanakannya dan lalai dalam menunaikan haknya kepada yang berhak. Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Menunaikan Kewajiban Dengan Mengucapkan Ucapan Yang Baik

Published by:

Islam adalah agama yang benar dan jelas dalam perkataan dan perbuatan. Islam menghendaki kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia seluruhnya. Tidaklah cukup bagi pemeluknya untuk mementingkan diri sendiri, menyendiri (uzlah), membiarkan yang lainnya berada dalam keraguan yang menyesatkan, penyimpangan aqidah, penyimpangan pemikiran, penyimpangan akhlak, dan penyimpangan tingkah laku.

Akan tetapi setelah seorang mu’min berusaha untuk memperbaiki dan memperingatkan kesalahan yang terjadi dari orang lain, ia memayungi dirinya dan menjaganya dengan kelurusannya, dengan aqidahnya, dan dengan akhlaknya. Tidak ada keraguan sedikitpun darinya. Ia berkomitmen terhadap seluruh syariat berupa perintah untuk berjihad dan beramar ma’ruf. Tidak membahayakannya kesesatan orang lain jika ia mendapat petunjuk karena setiap manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak membawa akibat dari perbuatan orang lain. Yang demikian itulah keadilan karena menghukum seseorang karena perbuatan orang lainnya adalah kezhaliman.

Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Hak Membuat Syariat Ada Pada Allah Bukan Pada Manusia

Published by:

Tidaklah ada bagi seorang manusiapun dalam syariat Al-Qur’an yang memiliki hak dalam menghalalkan atau mengharamkan, membolehkan atau melarang. Sesungguhnya hak membuat syariat pada yang demikian itu ada pada Allah subhanahu yang menurunkan syariat – syariat, menjelaskan halal, haram, sistem – sistem, dan hukum – hukum. Karena syariat Ilahi Qur’ani itu kekal abadi, tidak terpengaruh dengan kemaslahatan pribadi, zaman, atau tempat. Sesungguhnya ia adalah undang – undang kehidupan yang abadi dan sistem yang lebih utama lagi terpilih untuk memperbaiki kehidupan dan mendatangkan manfaat bagi individu dan jama’ah. Oleh karena itu al-Qur’an al-Karim mengingkari orang Arab Jahiliyah yang berani menetapkan syariat – syariat, menetapkan ibadah kepada berhala, dan menghalalkan atau mengharamkan sebagian hewan ternak. Allah subhanahu berfirman: Continue reading

Bertanya Tentang Sesuatu Yang Tidak Diturunkan Wahyu Mengenainya

Published by:

Wahyu ilahi adalah perundang – undangan untuk mengatur kehidupan kaum muslimin secara utuh. Tidak ada sesuatupun yang luput darinya dan tidaklah Rabb-mu itu lupa. Sesungguhnya turunnya al-Qur’an al-Karim itu adalah secara berangsur – angsur. Sehingga turunlah hukum ilahi itu pada tempat dan zaman yang sesuai dan datanglah jawaban yang pasti bagi permasalahan – permasalahan yang tidak terduga atau permasalahan yang sulit lagi berbeda – beda sesuai dengan hikmah, kebenaran, dan keadilan ilahi, serta kemaslahatan umum. Oleh karena itu sesungguhnya tidak termasuk adab yang baik atau kepantasan untuk terburu – buru dengan jawaban dari sebagian perkara dan meninggalkan setiap perincian yang penting bagi Allah Dzat yang membuat hukum. Hal Itu adalah berdasarkan wahyu semata tidak berdasarkan suasana hati dan keinginan. Sehingga bertanya mengenai sesuatu yang tidak diturunkan wahyu mengenainya adalah sesuatu yang dibenci atau sesuatu yang haram. Allah ta’ala berfirman: Continue reading