Tawadhu dan Merendahkan Diri kepada Orang-Orang Mukmin

Published by:

Dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ اللهَ أوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أحَدٌ عَلَى أحَدٍ، وَلاَ يَبْغِي أحَدٌ عَلَى أحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sehingga seseorang tidak membanggakan dirinya terhadap orang lain, dan tidak pula menzhalimi orang lain.” (HR Muslim).

Bahasa Hadits Continue reading

Akibat Mengada – Adakan Kebohongan Terhadap Allah dan Mendustakan Ayat – Ayat-Nya

Published by:

Tafsir QS. Al-A’raf, ayat 37

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ أُولَئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُمْ مِنَ الْكِتَابِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ قَالُوا أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan dalam Kitab sampai datang para utusan (malaikat) Kami kepada mereka untuk mencabut nyawanya. Mereka (para malaikat) berkata, “Manakah sembahan yang biasa kamu sembah selain Allah?” Mereka (orang musyrik) menjawab, “Semuanya telah lenyap dari kami.” Dan mereka memberikan kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir. QS. Al-A’raf: 37.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Continue reading

Keutamaan Bergaul dengan Manusia, Menghadiri Shalat Jumat, Shalat Jamaah, Pertemuan – Pertemuan Kebaikan, Majelis Dzikir, Menjenguk Orang Sakit, Menghadiri Orang Yang Meninggal, Membantu Kebutuhan Mereka, Menunjuki Kejahilan Mereka, dan Lain -Lain Berupa Kemaslahatan Mereka Bagi Orang Yang Mampu Beramar Ma’ruf Nahi Munkar dan Menahan Diri Dari Perkara Menyakitkan Serta Bersabar Atasnya

Published by:

Ketahuilah, bahwa bergaul dengan banyak orang menurut cara yang telah saya jelaskan merupakan cara hidup terpilih yang dianut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Nabi sholawatullah wa salaamuhu ‘alaihim. Begitu pula Khulafaur Rasyidin, para sahabat, dan tabi’in sesudah mereka, serta para ulama kaum Muslimin dan orang-orang pilihan di antara mereka. Yang demikian ini juga merupakan jalan hidup kebanyakan tabi’in dan orang-orang yang sesudah mereka. Pendapat ini dipegang oleh Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan mayoritas ahli fiqih radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Allah ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. QS. Al-Ma’idah: 2. Continue reading

Ajal Setiap Umat dan Kondisi Setelahnya

Published by:

Tafsir QS. Al-A’raf, ayat 34-36

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ * يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ * وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. Tetapi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. QS. Al-A’raf: 34-36.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ

Dan setiap umat. QS. Al-A’raf: 34

Yakni bagi tiap-tiap kurun dan generasi. Continue reading

Anjuran Uzlah (Mengasingkan Diri) Ketika Manusia dan Zaman Telah Rusak, atau Takut Terkena Fitnah dan Jatuh dalam Perkara Haram dan Syubhat

Published by:

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الله يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الغَنِيَّ الْخَفِيَّ

“Sesungguhnya Allah itu cinta kepada hamba yang bertakwa, kaya, dan tidak masyhur.” (HR Muslim).

Maksud dari kaya (الغَنِيَّ) adalah kaya jiwa sebagaimana yang terdapat dalam hadits shahih terdahulu.

Bahasa Hadits Continue reading

Perkara – Perkara Pokok Yang Diharamkan Atas Manusia

Published by:

Tafsir QS. Al-A’raf, ayat 33

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنزلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zhalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” QS. Al-A’raf: 33.

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ، فَلِذَلِكَ حَرَّم الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَر مِنْهَا وَمَا بَطن، وَلَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللَّهِ

Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah, karena itulah Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang kelihatan maupun yang tidak tampak. Dan tidak ada seorang pun yang lebih suka dipuji daripada Allah. (HR. Ahmad dan Syaikhain). Continue reading

Sifat Wara’ dan Meninggalkan Syubhat

Published by:

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ، وَإنَّ الحَرامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ، اسْتَبْرَأَ لِدِينهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ في الحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، ألاَ وَإنَّ لكُلّ مَلِكٍ حِمَىً، ألاَ وَإنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، ألاَ وَإنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَت صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، ألاَ وَهِيَ القَلْبُ

“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan sesungguhnya perkara yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat. Banyak manusia yang tidak mengetahui perkara-perkara yang syubhat tersebut. Barangsiapa menjaga dirinya dari perkara-perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa telah jatuh dalam perkara-perkara syubhat, maka ia telah jatuh dalam perkara haram, seperti seorang penggembala yang menggembala di sekitar tempat yang terlarang itu hampir saja ternaknya makan dari tempat tersebut. Ingatlah, bahwa setiap raja itu mempunyai larangan. Ingatlah, bahwa larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah, bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh badan. Tetapi apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Ingatlah, bahwa segumpal darah itu adalah hati.” (Muttafaq ‘alaih. Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits di atas dari beberapa jalur riwayat dengan lafaz-lafaz yang berdekatan).

Bahasa Hadits Continue reading