Menunaikan Kewajiban Dengan Mengucapkan Ucapan Yang Baik

Islam adalah agama yang benar dan jelas dalam perkataan dan perbuatan. Islam menghendaki kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia seluruhnya. Tidaklah cukup bagi pemeluknya untuk mementingkan diri sendiri, menyendiri (uzlah), membiarkan yang lainnya berada dalam keraguan yang menyesatkan, penyimpangan aqidah, penyimpangan pemikiran, penyimpangan akhlak, dan penyimpangan tingkah laku.

Akan tetapi setelah seorang mu’min berusaha untuk memperbaiki dan memperingatkan kesalahan yang terjadi dari orang lain, ia memayungi dirinya dan menjaganya dengan kelurusannya, dengan aqidahnya, dan dengan akhlaknya. Tidak ada keraguan sedikitpun darinya. Ia berkomitmen terhadap seluruh syariat berupa perintah untuk berjihad dan beramar ma’ruf. Tidak membahayakannya kesesatan orang lain jika ia mendapat petunjuk karena setiap manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak membawa akibat dari perbuatan orang lain. Yang demikian itulah keadilan karena menghukum seseorang karena perbuatan orang lainnya adalah kezhaliman.

Allah ta’ala berfirman:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ عَلَیۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا یَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَیۡتُمۡۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِیعࣰا فَیُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” QS. Al-Ma’idah: 105.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Ahmad dan yang lainnya: “Tidaklah hal ini di zaman ayat ini, katakanlah yang hak apa saja yang kalian terima, jika kalian ditolak maka jagalah diri kalian.”

Makna ayat: Wahai kaum mu’minin jagalah diri kalian, sempurnakanlah diri kalian dengan ilmu dan amal, perbaikilah dengan Al-Qur’an dan adab – adab Sunnah Nabawiyah, dan perhatikanlah apa saja yang dapat mengantarkannya kepada Allah ta’ala. Hingga diri kalian berada dalam kumpulannya para Nabi, para syuhada, dan orang – orang yang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Setelah ini tidaklah membahayakan kalian orang – orang yang sesat ketika kalian telah mendapat petunjuk.

Tidak membahayakan kalian sedikitpun ketika kalian menegakkan kewajiban untuk memberi petunjuk dan nasehat serta beramar ma’ruf nahi munkar. Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةࣱ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ

“Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain.” QS. Al-An’am: 164.

Kemudian kepada Allah lah tempat kembali. Ia akan memberi balasan setiap manusia sesuai amalnya, jika baik amalannya maka baik pula balasannya, jika buruk amalannya maka buruk pula balasannya.

Kalimat yang ditetapkan oleh para ahli ilmu dalam hal ini adalah bahwasanya nasehat atau amar ma’ruf itu wajib ketika diharapkan penerimaannya ataupun ketika diharapkan dapat mengembalikan sesuatu kepada yang berhak, selama tidak dikhawatirkan bahaya menimpanya atau terjadi fitnah atas kaum muslimin. Jika dikhawatirkan hal ini, maka jagalah diri kalian dengan hukum wajib yang berhenti di sisi kalian.

Sungguh sebagian manusia memahami ayat ini secara salah di masa Abu Bakar as-Shiddiq. Mereka menakwilkannya bahwasanya ayat ini tidak mewajibkan perintah memberi nasehat, memberi petunjuk kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Maka Abu Bakar pun naik ke mimbar dan berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ هَذِهِ الْآيَةَ
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ }
إِلَى آخِرِ الْآيَةِ وَإِنَّكُمْ تَضَعُونَهَا عَلَى غَيْرِ مَوْضِعِهَا وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ وَلَا يُغَيِّرُوهُ أَوْشَكَ اللَّهُ أَنْ يَعُمَّهُمْ بِعِقَابِهِ

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini: “Wahai orang-orang yang beriman, kalian bertanggung jawab atas diri kalian masing-masing, tidak akan membahayakan kalian sedikitpun orang yang tersesat.. (sampai akhir ayat), dan kalian menempatkannya tidak pada tempatnya, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran, kemudian tidak mengubahnya, maka dikhawatirkan Allah akan meluaskan adzab kepada mereka semua.” HR. Ahmad.

Diriwayatkan dari Abu Umaiyah Asy Sya’bani ia berkata:

أَتَيْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ فَقُلْتُ لَهُ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهَذِهِ الْآيَةِ قَالَ أَيَّةُ آيَةٍ قُلْتُ قَوْلُهُ تَعَالَى
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ }
قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ

Aku menemui Abu Tsa’labah Al Khusyani lalu aku berkata padanya; “Apa yang kamu perbuat dengan ayat ini?” ia bertanya; “Ayat yang mana?” Aku menjelaskan; firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. QS. Al-Ma’idah: 105, Abu Tsa’labah berkata; “Ingatlah, demi Allah, kamu bertanya kepada orang yang tahu, aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menjawab: “Akan tetapi, perintahkanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran hingga kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, kehidupan dunia lebih diprioritaskan dan kekaguman setiap orang dengan pendapatnya, engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam, karena dibalik kalian akan ada suatu masa dimana kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama seperti pahala lima puluh orang yang melakukan seperti amalan kalian.”

Abdullah bin Al Mubarak berkata; Selain ‘Utbah menambahiku: Dikatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ قَالَ بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

“Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?” Beliau menjawab: “Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.” HR. At-Tirmidzi. Beliau berkata: Hadits ini hasan gharib.

Ini adalah dalil yang jelas bahwa seorang muslim hendaknya menyempurnakan dirinya dengan amal shalih, dan menyempurnakan yang lainnya dengan nasehat dan memberi petunjuk atau amar ma’ruf nahi munkar. Ini adalah kewajiban yang tidak terputus kecuali ketika seseorang sampai kepada suatu kondisi yang sangat membahayakan yaitu menghadapkannya kepada kecelakaan bila ia memberi nasehat kepada selainnya.

Tidak ada yang aneh dalam pendekatan ini. Sesungguhnya kehidupan itu adalah madrasah. Seorang manusia mengambil manfaat yang sangat banyak dari segala sesuatu yang ada di masyarakat. Jika seseorang itu jahil dengan kaidah – kaidah dan adab – adab bermasyarakat maka manusia akan merendahkannya. Sehingga sudah seharusnya untuk saling mengambil dan memberikan manfaat. Agar mereka saling bertukar maklumat, menetapkan norma – norma yang baik yang tidak berbenturan dengan syariat, dan tidak ragu atau khawatir sesudah itu jika tidak mengetahui kata yang benar. Sesungguhnya keputusan pada akhirnya dan keabadian adalah bagi kebenaran dan para pengikutnya. Yang lebih luar biasa adalah yang terkandung dalam akhir ayat:

إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِیعࣰا

“Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali.” QS. Al-Ma’idah: 105.

Itu adalah pengingat terhadap hari kebangkitan, hari penghisaban, dan hari ditanyainya amal – amal. Pada nya terdapat sikap zuhud terhadap urusan dunia, yang dibencinya maupun yang dicintainya. Hidayah dan taufik kepada baiknya amal – amal perbuatan itu terserah kepada Allah azza wa jalla saja, Pencipta segala sesuatu dan hakim yang adil di antara mereka di hari kiamat. Dialah Subhanahu Rabb para hamba semuanya.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Tafsir al-Wasith oleh Syaikh Wahbah Zuhailiy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *