Keadaan Kaum Musyrikin Di Hadapan Rabb Mereka Di Akhirat dan Hakikat Dunia

Tafsir QS. Al-An’am: 30-32

Allah ta’ala berfirman:

وَلَوۡ تَرَىٰۤ إِذۡ وُقِفُوا۟ عَلَىٰ رَبِّهِمۡۚ قَالَ أَلَیۡسَ هَـٰذَا بِٱلۡحَقِّۚ قَالُوا۟ بَلَىٰ وَرَبِّنَاۚ قَالَ فَذُوقُوا۟ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ * قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِلِقَاۤءِ ٱللَّهِۖ حَتَّىٰۤ إِذَا جَاۤءَتۡهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةࣰ قَالُوا۟ یَـٰحَسۡرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطۡنَا فِیهَا وَهُمۡ یَحۡمِلُونَ أَوۡزَارَهُمۡ عَلَىٰ ظُهُورِهِمۡۚ أَلَا سَاۤءَ مَا یَزِرُونَ * وَمَا ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۤ إِلَّا لَعِبࣱ وَلَهۡوࣱۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡـَٔاخِرَةُ خَیۡرࣱ لِّلَّذِینَ یَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah engkau melihat peristiwa yang mengharukan). Dia berfirman, “Bukankah (kebangkitan) ini benar?” Mereka menjawab, “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Dia berfirman, “Rasakanlah azab ini, karena dahulu kamu mengingkarinya.” Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu. Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti? QS. Al-An’am: 30-32.

Tafsir Al-Wajiz

Dan seandainya engkau melihat keadaan orang – orang yang ingkar terhadap hari kebangkitan ketika mereka ditahan untuk menunggu keputusan Rabb mereka dan menunggu hisab, niscaya engkau melihat sesuatu yang menakjubkan. Allah ta’ala berfirman kepada mereka (melalui lisan para malaikat-Nya): Bukankah hari kebangkitan ini yang kalian ingkari di dunia adalah benar adanya? Yakni benar – benar ada? Mereka berkata: Ya demi Allah sesungguhnya hari itu adalah haq. Allah ta’ala berfirman: Rasakanlah adzab jahannam dengan sebab kekufuran kalian terhadapnya.

Sungguh merugi orang – orang yang mengingkari adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan di akhirat nanti. Hingga ketika hari kiamat datang kepada mereka dengan tiba – tiba, mereka berkata: Duhai kami sangat menyesal atas melampauinya batas kami dalam mempersiapkannya dengan membenarkannya dan beramal sholih. Mereka membawa dosa – dosa mereka di atas punggung – punggung mereka, yakni mereka mengikat dosa – dosa mereka sehingga mereka terseok – seok membawanya dan merasakan beban beratnya. Sungguh itulah sejelek – jelek beban yang mereka bawa dan mereka akan mendapatkan adzab yang buruk.

Allah ta’ala membantah perkataan kaum kafir : “Tidak ada kehidupan lain selain kehidupan kami di dunia ini”, dengan bahwasanya kehidupan dunia ini semata – mata hanyalah permainan, tidak dapat memberikan manfaat dan tidak dapat menolak kemudharatan. Dunia ini juga semata – semata senda gurau yang menyibukkan. Maka dunia itu hanyalah fatamorgana yang menipu. Negeri akhirat itu serta amal – amal persiapan menuju ke sana itu lebih baik bagi orang – orang yang bertakwa kepada Allah dan bertakwa dari kesyirikan dan kedurhakaan. Apakah kalian tidak memikirkan yang demikian itu wahai orang – orang yang mengingkari hari akhirat?

Fiqih Kehidupan dan Hukum – Hukumnya

Ayat – ayat ini mengandung keterangan yang realistis terhadap keadaan orang yang ada di hadapan seorang hakim yang akan memberikan keputusan atas kejahatannya. Dalam banyak kasus, para terdakwa itu mengingkari apa yang ada pada hakim dunia. Ketika seorang terdakwa itu tidak dapat menemukan jalan untuk tidak mengakui kejahatannya, ia bersegera untuk mengakui setiap perbuatannya.

Demikian juga kondisi kaum kuffar dan kaum musyrikin ketika mereka diajukan untuk dihisab di hadapan Allah. Mereka tahu tidak ada faedahnya sama sekali mengingkari pada waktu mereka ditanya mengenai hari kebangkitan dan hari pembalasan. Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwasanya hal itu adalah benar dan pasti. Maka hukum atas mereka adalah dilaksanakannya hukuman yang ditetapkan. Sebagai balasan sesuai dengan kekafiran mereka.

Ada perdebatan yang timbul disebabkan oleh apa yang dilakukan malaikat, para malaikat itu berkata kepada mereka dengan perintah Allah: Tidakkah hari kebangkitan ini dan adzab ini adalah benar adanya? Mereka berkata: “Sungguh benar, demi Tuhan kami, sesungguhnya itu adalah benar”. Tidaklah bertentangan antara pertanyaan Allah yang disampaikan oleh malaikat ini dengan firman Allah ta’ala:

وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat.” QS. Al-Baqarah: 174.

Karena pertanyaan itu adalah dengan perantaraan malaikat dan maksud dari “Dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka” adalah bahwasanya Dia tidak berbicara kepada mereka dengan perkataan yang baik dan bermanfaat.

Ayat – ayat ini menunjukkan kepada penjabaran keadaan yang lain di antara keadaan – keadaan orang yang mengingkari hari kebangkitan dan hari kiamat. Keadaan itu ada dua: pertama, kerugian bagi orang – orang yang mendustakan hari kebangkitan, hari kiamat, hari pembalasan, dan hari perhitungan. Kedua, mereka membawa dosa – dosa yang besar di atas punggung – punggung mereka.

Maksud dari kerugian itu adalah hilangnya pahala yang besar dan didapatkannya hukuman yang keras.

Perkataan mereka:

یَـٰحَسۡرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطۡنَا

“Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami”. QS. Al-An’am: 31.

adalah petunjuk bahwasanya mereka tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan untuk diri mereka sendiri, yakni bahwasanya mereka itu kaum yang lalai.

Perkataan mereka selanjutnya: فِيها (kelalaian kami di dalamnya), yakni dalam transaksi jual beli. Tidak disebutkan kata jual beli untuk memberi isyarat kata itu atasnya karena kerugian itu tidak terjadi kecuali pada transaksi jual beli dengan dalil firman-Nya ta’ala:

فَما رَبِحَتْ تِجارَتُهُمْ

“Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung.” QS. Al-Baqarah: 16.

Dalam firman-Nya ta’ala:

وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزارَهُمْ عَلى ظُهُورِهِمْ

“Sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya.” QS. Al-An’am: 31.

menunjukkan bahwasanya mereka berhak mendapatkan adzab yang keras bagi diri mereka sendiri. Tidak diragukan lagi bahwa yang demikian itu adalah akhir kerugiannya.

Firman Allah ta’ala:

وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik.” QS. Al-An’am: 32.

menunjukkan atas pembagian amal – amal dunia menjadi dua bagian: pertama, amal – amal yang tidak ada kebaikan dan tidak bermanfaat, yaitu perkara – perkara dunia semata. Itu adalah perbuatan – perbuatan manusia pada umumnya. Kedua, amal – amal akhirat yang tidak ada senda gurau di akhirat itu dan tidak ada main -main, itu adalah perbuatan orang – orang yang bertakwa lagi pilihan. Yaitu orang – orang yang mendirikan dunia mereka dengan amal – amal sholih dan perkataan – perkataan yang baik. Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudri dan at-Tirmidzi pun meriwayatkannya dari Abu Hurairah dan beliau berkata: hadits hasan gharib, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلا مَا كَانَ فِيهَا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ، وَالْعَالِمُ وَالْمُتَعَلِّمُ شَرِيكَانِ فِي الأَجْرِ ، وَسَائِرُ النَّاسِ هَمَجٌ لا خَيْرَ فِيهِمْ

“Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa-apa yang terdapat di dalamnya kecuali yang berasal dari dzikrullah, kemudian orang yang berilmu dan orang yang belajar, keduanya berserikat dalam pahala itu. Dan orang-orang yang biadab tidak ada kebaikan dalam diri mereka.”

Diriwayatkan juga dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

من هوان الدنيا على الله ألا يعصى إلا فيها، ولا ينال ما عنده إلا بتركها

“Diantara hal yang menjadikan dunia itu hina di hadapan Allah ialah tidaklah orang bermaksiat kepada Allah kecuali di dunia, dan tidak akan bisa mendapatkan apa yang disiapkan Allah kecuali dengan meninggalkan dunia.”

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia itu di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang – orang kafir walaupun hanya seteguk air.”

Firman Allah ta’ala:

أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

Tidakkah kamu mengerti? QS. Al-An’am: 32.

menunjukkan bahwa manusia itu pada umumnya tidak memikirkan dengan sebenar – benarnya berpikir menyelaraskan dengan hakikat kemaslahatannya. Sesungguhnya manusia itu hanya berbuat mengikuti dirinya sendiri dalam bahaya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa zuhud itu dalam hal dunia, yakni kecintaannya terhadap dunia tidak menguasai hatinya, ini adalah perkara yang dianjurkan.

Ayat ini:

وَمَا ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۤ إِلَّا لَعِبࣱ وَلَهۡوࣱۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡـَٔاخِرَةُ خَیۡرࣱ لِّلَّذِینَ یَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti? QS. Al-An’am: 32.

Memberi isyarat bahwa kaum yang mengingkari adanya hari kebangkitan dan hari kiamat mengagungkan kesenangan mereka di dunia dan perolehan kelezatannya. Maka Allah ta’ala pun mengingatkan melalui ayat ini akan kehinaan dunia. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa kehidupan ini semata – mata tidak dapat dicela karena kehidupan ini ada atas kehendak Allah dan hikmah-Nya, Ia yang menciptakannya dan mewujudkannya, juga karena tidak mungkin sampai kepada kebahagiaan ukhrawi kecuali dengan ada di dalamnya. Sesungguhnya maksudnya adalah bahwasanya kelezatan kehidupan dunia dan kebaikan – kebaikannya tidaklah abadi. Tidak ada yang tersisa saat musnahnya kehidupan kecuali kesedihan dan penyesalan. Seperti senda gurau dan permainan yang dinikmati, kemudian setelah berakhir tidak ada yang tersisa darinya kecuali penyesalan.

Firman-Nya ta’ala:

وَلَلدَّارُ ٱلۡـَٔاخِرَةُ خَیۡرࣱ

Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik. QS. Al-An’am: 32.

memberi isyarat berkenaan dengan dibandingkannya kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia bahwa kebaikan – kebaikan akhirat itu lebih utama daripada kebaikan – kebaikan dunia, dan bahwasanya kebaikan – kebaikan dunia itu rendah dan kebaikan – kebaikan akhirat itu mulia.

Kesimpulan dari perbandingan antara dunia dan akhirat ini menjelaskan bahwa kebahagiaan dunia dan kebaikan – kebaikannya itu bercampur dengan aib – aib yang banyak serta kekurangan – kekurangan yang banyak. Sesungguhnya kebahagiaan – kebahagiaan akhirat itu terbebas darinya, dari apa yang ditunjukkan secara pasti bahwa akhirat itu lebih sempurna, lebih kekal, lebih pantas, dan lebih utama.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
1. Tafsir Al-Wajiz Syaikh Wahbah Zuhaili.
2. Tafsir Al-Munir Syaikh Wahbah Zuhaili.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *