Category Archives: Hadits

Tambah Usia Tambah Banyak Ilmu dan Amal Kebaikan

Published by:

Ketika Makkah dibuka oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai kemenangan Islam atas kekufuran, justru turun sebuah surat yang memerintahkan untuk banyak memuji Allah, memohon ampunan, dan bertaubat. Surat itu adalah surat An-Nashr.

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ)
(وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا)
(فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” QS. An-Nashr 1-3. Continue reading

Banyaknya Jalan Untuk Beramal Sholeh

Published by:

Dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Hendaklah masing-masing dari kalian setiap harinya bershodaqoh untuk setiap ruas sendi dan tulangnya, setiap tasbih adalah shodaqoh, setiap tahmid adalah shodaqoh, dan setiap tahlil adalah shodaqoh, setiap takbir shodaqoh, setiap amar ma’ruf nahi mungkar adalah shodaqoh, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” HR. Muslim.

Salah satu faidah dari hadits tersebut adalah dorongan untuk memperbanyak shodaqoh, bersyukur kepada Allah ta’ala atas keselamatan diri dan dijauhkan dari bala’. Maka ketika seseorang tidak mampu untuk bersyukur dengan perbuatan, hendaklah seseorang bersyukur dengan lisannya yaitu dengan mendawamkan mengingat Allah atau berdzikir kepada-Nya serta menyatakan kesucian-Nya, keagungan-Nya, keesaan-Nya, dan memberikan nasehat dalam agama-Nya.

Hadits ini juga menjelaskan bahwa banyak sekali jalan atau pintu – pintu untuk beramal kebaikan dan ketaatan dengan menjaga dzikir – dzikir tersebut, mengingat Allah, dan amar ma’ruf nahi munkar.

Selain itu hadits ini juga menunjukkan keutamaan untuk berdzikir dengan lafadz sebagaimana dalam hadits tersebut yaitu tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laailaahaillallah), dan takbir (allahuakbar). Hadits ini juga menunjukkan keutamaan menjaga sholat dhuha.

Shodaqoh dan infaq bagi orang yang mampu melaksanakannya adalah lebih utama daripada amal – amal yang lainnya karena manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain. Barangsiapa yang dapat melaksanakan kesemuanya yaitu dzikir ataupun shodaqoh dan yang lainnya maka hal itu lebih sempurna lagi.

Berbuat Baiklah Kepada Kedua Orang Tua

Published by:

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: (الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا) قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ (ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ) قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ (ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ) – قَالَ حدثني بهن ولو استزدته لزادنى

“Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” ‘Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kemudian berbakti kepada kedua orangtua.” ‘Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah.” ‘Abdullah berkata, “Beliau sampaikan semua itu, sekiranya aku minta tambah, niscaya beliau akan menambahkannya untukku.” HR. Bukhari.

Sederhana atau Tidak Berlebih – Lebihan Dalam Ibadah

Published by:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata; Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya.” Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka.” Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.” Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka seraya bersabda:

أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku.” HR. Bukhari dan Muslim.

Faidah hadits ini di antaranya adalah:
1. Hendaknya kita sederhana dalam beribadah. Tidak berlebih – lebihan dan tidak kurang.
2. Sahabat – sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki keutamaan yang besar dari sisi kesungguhan mereka untuk meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
3. Hadits ini berisi dorongan dan anjuran untuk menikah serta tidak membujang seterusnya.
4. Secara fiqih, berpuasa terus menerus sepanjang tahun adalah makruh. Demikian juga dengan sholat malam terus sepanjang malam juga dimakruhkan.
5. Hendaknya kita mengikuti dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal pertengahannya beliau dan adilnya beliau dalam ibadah kepada Allah ta’ala serta dalam hakikat mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.

 

Menjaga Amalan – Amalan Agar Kontinyu

Published by:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepadaku:

يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam”. HR. Bukhari dan Muslim.

Hadits mengandung faidah bahwasanya amalan yang dilakukan secara kontinyu itulah yang terbaik dan disukai.

Kemudian, dalam hadits tersebut tidak disebutkan secara khusus nama orang yang biasa sholat malam lalu kemudian terputus dan berhenti sholat malamnya. Hal ini mengandung faidah agar hendaknya kita tidak menyebutkan nama orang yang melakukan kesalahan tersebut dalam sebuah pengajaran atau pembicaraan yang hanya kita yang mengetahui orangnya secara spesifik.

Berpegang Teguh Kepada Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafaur Rasyidin

Published by:

Dari al ‘Irbadh bin Sariyah beliau berkata; suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi nasehat kepada kami setelah shalat subuh, nasehat yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata; ‘seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun terhadap seorang budak Habasyi, sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat (bid’a), karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa di antara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata hadits ini hadits hasan shahih. Continue reading

Larangan Bid’ah (Perkara yang Diada -Adakan)

Published by:

Dari Jabir bin Abdullah beliau berkata, bahwasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda:

صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (dan menempelkan jari telunjuk dan jari tengah.)” Continue reading