Category Archives: Hadits

Syukur dan Sabar Pakaian Orang Beriman

Published by:

Dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” HR. Muslim.

Meninggalkan Yang Meragukan

Published by:

Dari Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma: aku menghafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu maka sesungguhnya kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan.” HR. At-Tirmidzi. Beliau berkata hadits ini hadits haasan shahih.

Hadits ini adalah hadits yang sangat penting, salah satu pintu dari pintu – pintu wara’ dan kehati – hatian. Para ahli ilmu telah memasukkan pembahasan ini ke dalam bab – bab fiqih, mereka mengambil hadits ini dari sisi kehati – hatiannya. Sangat banyak sekali pembahasan para ahli ilmu mengenai hal ini, di antaranya adalah:

Apabila pakaian seseorang terkena najis, namun ia tidak tahu persis bagian manakah dari pakaiannya yang terkena najis. Apakah bagian awalnya ataukah bagian akhirnya. Apabila ia mencuci bagian yang awal, ia menjadi ragu karena bisa jadi yang terkena najis itu sebenarnya adalah bagian yang akhir. Lalu bagaimana sikap kehati – hatian dalam hal ini? Kehati – hatian dalam hal itu adalah dengan mencuci seluruh pakaian tersebut baik bagian yang awal maupun yang akhir hingga hilanglah keraguannya dan ia pun dalam perasaan tenang.

Contoh lain lagi: apabila seseorang ragu dalam sholatnya, apakah ia telah sholat dua rakaat atau tiga rakaat? Maka dalam hal ini, ia harus beramal dengan yang tidak ada keraguan padanya yaitu mengambil jumlah rakaat yang sedikit. Karena bisa jadi sebenarnya dia baru mengerjakan dua rakaat, kalau dia menganggap sudah mengerjakan tiga rakaat maka akan kurang jumlah rakaatnya. Namun bila ia sebenarnya memang baru mengerjakan dua rakaat, berarti sudah pas jumlahnya dan hal ini menghilangkan keraguan.

 

 

 

 

Bertakwalah Kepada Allah di Mana Saja

Published by:

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” HR. At-Tirmidzi. Beliau berkata hadits ini hadits hasan shahih.

Bertakwalah kepada Allah ta’ala yaitu dengan melaksanakan perintah – perintah-Nya dan menjauhi larangan – larangan-Nya di manapun kita berada. Baik itu dilihat oleh manusia ataupun tidak dilihat oleh manusia. Baik itu di dunia nyata ataupun di dunia maya, tetap saja kita harus bertakwa kepada Allah ta’ala. Dengan berada di dunia maya misalnya, bukan berarti lantas kita boleh berbicara sebebas – bebasnya meskipun melanggar syariat, apa yang kita tulis dan kita sampaikan di dunia maya pun harus senantiasa sesuai dengan perintah Allah. Siapa kita di dunia maya, itulah kita yang sebenarnya.

Salah satu faidah hadits ini adalah bahwasanya amal – amal kebaikan itu dapat menghapuskan catatan – catatan keburukan yang kita lakukan. Dikatakan juga bahwa penghapusan catatan keburukan tersebut adalah yang berkaitan dengan dosa – dosa kecil. Adapun yang berkaitan dengan dosa – dosa besar maka harus melakukan taubat serta memenuhi syarat – syarat taubatnya. Disamping itu juga, dosa – dosa tersebut tidak berkaitan dengan hak – hak manusia sebab dosa terhadap sesama manusia hanya dapat dihapuskan dengan meminta maaf dan menyelesaikannya secara langsung kepada orang yang pernah diambil hak nya. Wallahu ‘alam bis-showwab.

Yakin dan Tawakal Kepada Allah Seperti Burung – Burung

Published by:

Dari Abu Hurairah dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ
“Akan masuk surga kaum – kaum, hati mereka seperti hati burung.” HR. Muslim.

Hadits tersebut, menjelaskan kepada kita bahwa tawakkal (menyerahkan kesudahan segala urusan) kepada Allah itu adalah kelembutan hati dan merupakan salah satu sebab masuk surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan sempurnanya tawakkal seseorang kepada Allah ta’ala dengan perumpamaan seekor burung. Di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.” HR. At-Tirmidzi. Beliau berkata hadits ini hasan shahih.

 

Istiqomah

Published by:

Dari Abu Hurairah beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

قَارِبُوا وَسَدِّدُوا وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْتَ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ

“Mendekatlah dan istiqamahlah, ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang selamat karena amalnya.” Mereka bertanya: “Tidak juga Engkau wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat dan karunia padaku.” HR. Muslim.

المُقَاربَةُ
Adalah maksud yang tidak berlebihan dan tidak kurang.

السَّدادُ
Adalah istiqamah.

قَالَ العلماءُ: مَعنَى الاِسْتِقَامَةِ لُزُومُ طَاعَةِ اللهِ تَعَالَى
Para ulama’ berkata bahwa makna istiqamah itu adalah tetap berada dalam ketaatan kepada Allah ta’ala.

Dari hadits tersebut dapat kita ambil faidah sebagai berikut:
1. Bahwasanya karunia dan rahmat Allah atas hambanya itu lebih luas daripada amal – amal mereka.
2. Hadits ini menunjukkan cara kepada kita untuk memperoleh suatu kebaikan yaitu dengan istiqamah di atas manhaj Allah tanpa berlebihan dan tanpa kurang.
3. Tidak sepatutnya bagi seorang hamba untuk tertipu dengan amalnya sehingga ia penuh harap dengannya kepada Allah namun tanpa disertai dengan rasa takut sehingga ia menjadi orang yang celaka lantaran ujub atau bangga diri.

Bersegera Dalam Kebaikan Dan Tidak Menunda – Nunda Dalam Beramal

Published by:

Dari ‘Uqbah beliau berkata,

صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ

“Aku pernah shalat ‘Ashar di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di kota Madinah. Setelah salam, tiba-tiba beliau berdiri dengan tergesa-gesa sambil melangkahi leher-leher orang banyak menuju sebagian kamar isteri-isterinya. Orang-orang pun merasa heran dengan ketergesa-gesaan beliau. Setelah itu beliau keluar kembali menemui orang banyak, dan beliau lihat orang-orang merasa heran. Maka beliau pun bersabda: “Aku teringat dengan sebatang emas yang ada pada kami. Aku khawatir itu dapat menggangguku, maka aku perintahkan untuk dibagi-bagikan.” HR. Bukhari.

Dalam sebuah riwayat lain dari Uqbah juga Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُنْتُ خَلَّفْتُ فِي الْبَيْتِ تِبْرًا مِنْ الصَّدَقَةِ فَكَرِهْتُ أَنْ أُبَيِّتَهُ فَقَسَمْتُهُ
“Aku tinggalkan dalam rumah sebatang emas dari harta shadaqah. Aku tidak mau bila sampai bermalam, maka aku bagi-bagikan”. HR. Bukhari.

Beberapa faidah yang dapat kita petik dari hadits tersebut di antaranya adalah:
– Disukainya untuk membersihkan hati dari hal – hal yang menyibukkannya dari mengingat Allah ta’ala serta disukainya untuk bersegera kepada amal kebaikan.
– Hadits tersebut juga menunjukkan bolehnya meminta tolong ataupun mewakilkan pemberian harta shodaqoh meskipun mampu untuk menyerahkannya langsung.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Mujahadah (Bersungguh – Sungguh) Dalam Beribadah Kepada Allah

Published by:

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah azza wa jalla berfirman:

إِذَا تَقَرَّبَ عَبْدِي مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا أَوْ بُوعًا وَإِذَا أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Apabila hambaku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” HR. Bukhari. Continue reading