Category Archives: Aqidah

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah : Kalam

Published by:

Sifat ma’ani (jama’ dari ma’na yaitu sesuatu yang mengikuti dzat) sebagaimana telah dibahas sebelumnya yaitu sifat bagi Dzat yang dengan sifat tersebut Dzat Allah ta’ala disifati. Dalil atas sifat – sifat ma’ani bagi Allah ini adalah menurut ketetapan-Nya. Atau sebagaimana perkataan ulama’: setiap sifat yang berdiri bersama yang disifati maka sifat tersebut wajib baginya. Adapun sifat ma’ani yang berdiri di atas dalil ada tujuh:

Qudroh (kuasa), Iradah (kehendak), Ilmu, Hayah (hidup), Kalam, Sama’ (mendengar), Bashor (melihat).

Kami tidak menambah selain sifat tersebut kecuali berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah. Karena tidak boleh kita mensifati Allah ta’ala dengan suatu sifat yang Allah tidak mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut dalam Qur’an maupun Sunnah. Tidaklah kita temukan di dalam Qur’an maupun Sunnah sifat – sifat ma’ani selain daripada sifat – sifat ini ataupun yang memiliki interpretasi ke sana. Berikut ini kita akan membahas mengenai sifat kalam bagi Allah ta’ala:

Kalam

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah (firman Allah)…” QS. At-Taubah: 6.

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara (berkalam) kepada Musa dengan langsung.” QS. An-Nisa’: 164. Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah : Hayah (Hidup)

Published by:

Sifat ma’ani (jama’ dari ma’na yaitu sesuatu yang mengikuti dzat) sebagaimana telah dibahas sebelumnya yaitu sifat bagi Dzat yang dengan sifat tersebut Dzat Allah ta’ala disifati. Dalil atas sifat – sifat ma’ani bagi Allah ini adalah menurut ketetapan-Nya. Atau sebagaimana perkataan ulama’: setiap sifat yang berdiri bersama yang disifati maka sifat tersebut wajib baginya. Adapun sifat ma’ani yang berdiri di atas dalil ada tujuh:

Qudroh (kuasa), Iradah (kehendak), Ilmu, Hayah (hidup), Kalam, Sama’ (mendengar), Bashor (melihat).

Kami tidak menambah selain sifat tersebut kecuali berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah. Karena tidak boleh kita mensifati Allah ta’ala dengan suatu sifat yang Allah tidak mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut dalam Qur’an maupun Sunnah. Tidaklah kita temukan di dalam Qur’an maupun Sunnah sifat – sifat ma’ani selain daripada sifat – sifat ini ataupun yang memiliki interpretasi ke sana. Berikut ini kita akan membahas mengenai sifat hayah (hidup) bagi Allah ta’ala:

Hayah (hidup)

Allah tabaraka wa ta’ala mensifati dirinya dengan sifat hayah. Allah ta’ala berfirman:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” QS. Al-Baqarah: 255. Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah : Ilmu

Published by:

Sifat ma’ani (jama’ dari ma’na yaitu sesuatu yang mengikuti dzat) sebagaimana telah dibahas sebelumnya yaitu sifat bagi Dzat yang dengan sifat tersebut Dzat Allah ta’ala disifati. Dalil atas sifat – sifat ma’ani bagi Allah ini adalah menurut ketetapan-Nya. Atau sebagaimana perkataan ulama’: setiap sifat yang berdiri bersama yang disifati maka sifat tersebut wajib baginya. Adapun sifat ma’ani yang berdiri di atas dalil ada tujuh:

Qudroh (kuasa), Iradah (kehendak), Ilmu, Hayah (hidup), Kalam, Sama’ (mendengar), Bashor (melihat).

Kami tidak menambah selain sifat tersebut kecuali berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah. Karena tidak boleh kita mensifati Allah ta’ala dengan suatu sifat yang Allah tidak mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut dalam Qur’an maupun Sunnah. Tidaklah kita temukan di dalam Qur’an maupun Sunnah sifat – sifat ma’ani selain daripada sifat – sifat ini ataupun yang memiliki interpretasi ke sana. Berikut ini kita akan membahas mengenai sifat ilmu bagi Allah ta’ala:

Ilmu

Telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini baik itu dzat – dzat maupun sifat – sifat atau sebagaimana yang mereka katakan yaitu jauhar (substan/zat) dan ‘aradh (karakter benda/zat) adalah makhluk ciptaan Allah dan atas iradah (kehendak) Allah. Hal ini menetapkan bahwasanya Allah ta’ala mengetahui hakikat makhluk – makhluk seluruhnya karena Dia lah yang menciptakannya. Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: Iradah (Kehendak)

Published by:

Sifat ma’ani (jama’ dari ma’na yaitu sesuatu yang mengikuti dzat) sebagaimana telah dibahas sebelumnya yaitu sifat bagi Dzat yang dengan sifat tersebut Dzat Allah ta’ala disifati. Dalil atas sifat – sifat ma’ani bagi Allah ini adalah menurut ketetapan-Nya. Atau sebagaimana perkataan ulama’: setiap sifat yang berdiri bersama yang disifati maka sifat tersebut wajib baginya. Adapun sifat ma’ani yang berdiri di atas dalil ada tujuh:

Qudroh (kuasa), Iradah (kehendak), Ilmu, Hayah (hidup), Kalam, Sama’ (mendengar), Bashor (melihat).

Kami tidak menambah selain sifat tersebut kecuali berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah. Karena tidak boleh kita mensifati Allah ta’ala dengan suatu sifat yang Allah tidak mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut dalam Qur’an maupun Sunnah. Tidaklah kita temukan di dalam Qur’an maupun Sunnah sifat – sifat ma’ani selain daripada sifat – sifat ini ataupun yang memiliki interpretasi ke sana. Berikut ini kita akan membahas mengenai sifat Iradah Allah ta’ala:

Iradah

Makna iradah secara bahasa adalah maksud/niat, yang bersinonim dengan kehendak. Telah kita ketahui dari pembahasan sebelumnya bahwasanya karena qudroh atau kuasa Allah ta’ala lah terwujudnya segenap makhluk. Keberadaan makhluk – makhluk tersebut memiliki sifat – sifat yang berbeda – beda, yang ini panjang dan yang itu pendek, yang ini putih dan yang itu hijau, yang ini kaya dan yang itu miskin, yang ini berada di timur dan yang itu di barat, yang ini panas dan yang itu dingin, dan seterusnya. Continue reading

Seseorang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Belum Bertaubat

Published by:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا)

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” QS. An-Nisa’ 116.

(فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” QS. Al-Zalzalah : 7). Continue reading

Apakah Keimanan Itu Dapat Bertambah dan Berkurang?

Published by:

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa iman itu adalah pembenaran yang pasti terhadap apa – apa yang masyhur di antara kaum muslimin bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang membawanya. Lalu kemudian, apakah keimanan yang demikian itu dapat bertambah dan berkurang?

Bagi para ulama’, terdapat beberapa pandangan terhadap yang demikian itu:

1. Jumhur Asya’irah berpendapat bahwa keimanan itu dapat bertambah dengan sebab bertambahnya ketaatan dan berkurang disebabkan karena berkurangnya ketaatan. Ketaatan itu sendiri adalah mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Continue reading

Sifat – Sifat Yang Wajib Bagi Allah

Published by:

Dalam pembahasan mengenai ilahiyah (ketuhanan) para ulama’ membahas tentang sifat – sifat Allah ta’ala. Sifat – sifat tersebut adalah sifat yang ditetapkan oleh aqal yang salim (selamat) bahwasanya Allah azza wa jalla disifati dengannya. Kemudian datanglah Al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Nabi yang mulia yang menjelaskannya. Oleh karena itu kita menjumpai pada sifat – sifat Allah tersebut dalil – dalil yang bersifat naqli (Qur’an dan Sunnah) dan yang bersifat aqli (aqal). Para ulama’ tauhid membagi sifat – sifat Allah tersebut menjadi empat bagian:

1. Sifat nafsiyah: yaitu sifat yang menunjukkan atas diri Dzatnya Allah ta’ala. Maka mensifati-Nya dengan sifat tersebut menunjukkan kepada diriNya tanpa membahas yang lain. Sifat ini adalah sifat wujud. Maka sifat wujud hanya menunjukkan kepada Dzatnya tabaraka wa ta’ala semata. Meskipun demikian, sifat as-Sama’ (السمع) menunjukkan kepada Dzatnya sam’un (سمع) atau Dzatnya yang mendengar. Demikian pula sifat bashar (البصر) menunjukkan kepada Dzatnya yang melihat. Continue reading