Yesus Bukan Tuhan

Tags:

Adalah aliran Yaqubiyah dari kalangan Nashara yang berkata mengenai ketuhanan al-Masih (Yesus) ‘alaihissalam. Kemudian perkataan madzhab mereka ini mendominasi tiga kelompok yang terkenal dari kalangan pengikut al-Masih yaitu Katholik, Orthodox, dan Protestan. Kelompok Protestan ini mulai muncul empat abad yang lalu di atas peran pendeta reformasi Martin Luther (tokoh cikal bakal Kristen Protestan) yang mengeluarkan kalangan pengikut al-Masih dari banyak sekali taqlid – taqlid dan khurafat – khurafat (cerita bohong), dia menyebarkan madzhabnya di Amerika, Inggris, dan Jerman, akan tetapi dia tetap berpegang pada pendapat trinitas dan menganggap orang yang bertauhid sebagai bukan pengikut al-Masih. Pada akhirnya mereka menginterpretasikan urusan tersebut kepada sifat al-Masih bahwasanya dia adalah rabb dan ilah (tuhan). Hal ini sebagaimana yang tertulis pada permulaan injil:
“Kitab Perjanjian Baru Tentang Tuhan Kita dan Juru Selamat Kita Yesus Kristus”.

Maka seluruh kelompok Nashara pada hari ini mengatakan: “Sesungguhnya Allah adalah al-Masih (Yesus) putera Maryam dan sesungguhnya al-Masih adalah Allah. Mereka menyandarkan penjelasannya dalam injil Yohanes yakni:
“Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu ada bersama Allah, dan Allah adalah Firman”.

Firman dalam tafsir mereka adalah Al-Masih.

Inilah yang disifati oleh Al-Qur’an bahwasanya mereka menuhankan al-Masih (Yesus), oleh karena itulah sungguh telah kafir orang – orang yang mengatakan bahwa Allah adalah al-Masih (Yesus). Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. QS. Al-Ma’idah: 17.

Allah ta’ala menolak klaim batil mereka ini, Allah berfirman sebagai lanjutan ayat di atas:

قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. Al-Ma’idah : 17.

Tidak ada seorang pun yang mampu untuk menolak kehendak Allah bila Allah menghendaki kebinasaan bagi seseorang. Allah mampu untuk membinasakan manusia seluruhnya tanpa kecuali, tidak ada yang mampu menolak ketetapan-Nya, menolak hukum-Nya, dan tidak ada satu orang pun yang memiliki kekuasaan di atas kehendak-Nya. Bila al-Masih (Yesus) tidak mampu untuk menolak kebinasaan atas dirinya dan ibunya, maka bagaimana mungkin dia adalah Allah? Allah secara hakiki adalah pemilik kerajaan yang mutlak. Semua kejadian di langit, di bumi, di antara keduanya dari alam manusia maupun alam jin, dan seluruh yang ada adalah kerajaan-Nya dan ciptaan-Nya.

Allah adalah pencipta segala sesuatu dari tiada sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, hikmah-Nya, dan kehendak-Nya. Maka sungguh Allah mampu menciptakan makhluk-Nya dari tanah tanpa bapak dan ibu semisal bapak kita Nabi Adam ‘alaihissalam dan menciptakan asal mula jenis – jenis hewan. Allah juga mampu menciptakan makhluk-Nya dari bapak saja tanpa ibu seperti penciptaan Hawa’. Allah juga mampu menciptakan makhluk-Nya dari ibu saja tanpa bapak semisal penciptaan Isa ‘alaihissalam.

Ini adalah bantahan atas keraguan orang – orang Nashara yang mengklaim bahwasanya al-Masih (Yesus) adalah manusia dan tuhan, baginya karakter kemanusiaan dan karakter ketuhanan manusia yang dominan. Klaim mereka itu karena ia diciptakan dari seorang ibu saja serta bahwasanya ia mampu menciptakan burung dari tanah dan melakukan hal – hal yang ajaib yang tidak mungkin dilakukan manusia. Itu semua pada hakikatnya adalah mukjizat yang merupakan perbuatan di luar kebiasaan yang diberikan Allah atas para nabi seluruhnya. Mukjizat itu terjadi dengan izin Allah dan kehendak-Nya yang mutlak sebagai dalil penolong atas kebenaran kenabian itu. Adanya keistimewaan itu dari Nabi Isa dan yang lainnya tidak lantas menjadikan makhluk sebagai pencipta karena itu semua terjadi atas kehendak Allah.

Allah menguasakan tongkat dan tangan yang bersinar putih kepada Musa ‘alaihissalam karena ilmu sihir pada masanya adalah satu hal yang utama. Allah menguasakan kepada nabi Isa ‘alaihissalam kemampuan menyembuhkan orang yang buta, sakit lepra, dan menghidupkan orang mati karena pengobatan pada zamannya adalah satu hal yang maju. Allah juga menguasakan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mukjizat yang banyak seperti terbelahnya bulan dan mukjizat yang kekal yaitu al-Qur’an yang paling memikat dari sisi balaghah dan kefasihannya karena beliau diutus di antara orang arab yang unggul dengan kefasihan prosa, ucapan, dan syair. Maka tidaklah lantaran kemampuan Isa (Yesus) untuk menghidupkan orang mati (yang mana itupun pada makhluk tertentu dan spesifik saja) menjadi sebab ketuhanannya. Sungguh beliau telah mengaku bahwasanya ia adalah hamba Allah dan rasul-Nya, serta bahwasanya ia menghidupkan orang mati dengan izin Allah yakni dengan bimbingan, kehendak, dan hikmah-Nya.

Allah-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia-lah pencipta segala sesuatu dan tidak ada sesuatupun yang mampu melemahkan-Nya di bumi maupun di langit.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Tafsir Al-Munir karya Syaikh Wahbah Zuhaili.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *