Timbangan Kedekatan Kepada Allah

Tags:

Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir at-Thabari, Ibnu al-Mundzir, dan al-Baihaqiy di dalam kitab ad-Dalail nya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Ibnu Ubay, Nu’man bin Qushoiy, Bahriy bin Amru, dan Syasy bin Adiy dari kalangan Yahudi. Mereka berbicara kepada Rasul dan Rasul berbicara kepada mereka, Rasul menyeru mereka kepada Allah dan mengingatkan mereka akan murka-Nya. Maka kemudian mereka berkata: apa yang engkau takutkan terhadap kami ya Muhammad? Demi Allah kami adalah anak – anak-Nya dan kekasih-Nya. Mereka mengatakan itu sebagaimana orang Nashara mengatakannya. Maka kemudian Allah azza wa jalla menurunkan ayat berikut:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Dan milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada-Nya semua akan kembali.” . QS. Al-Ma’idah : 18.

Dalam ayat tersebut Allah membantah klaim orang – orang Yahudi dan Nashrani yang mengatakan: kami adalah anak – anak Allah dan kekasih-Nya yakni kami menasabkan diri kepada Nabi – Nabi-Nya. Para Nabi tersebut adalah anak – anak-Nya, Dia melindungi mereka, maka Dia juga mencintai kami. Mereka menukil dari kitab mereka bahwasanya Allah ta’ala berkata kepada hamba-Nya Israil (Ya’qub): “Engkau anak-Ku yang pertama.” Isa berkata di dalam Injil bagi orang – orang Nashrani: “Sesungguhnya aku pergi menuju Bapakku dan Bapak kalian” yakni tuhanku dan tuhan kalian.

Terdapat di dalam Injil Matius mengenai al-Masih yang memberi nasehat di atas bukit menggambarkan para malaikat dan orang – orang yang sholeh: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka adalah anak-anak Allah”. Dalam suratnya kepada orang Roma, Paulus berkata: “Karena setiap orang yang tunduk dengan ruh Allah, maka mereka itulah anak – anak Allah.” Maka istilah anak Allah dalam kitab mereka sebenarnya bermakna habibullah (kekasih Allah), namun mereka membawa maknanya kepada yang bukan seharusnya dan mengubahnya. Orang – orang yang bijaksana dari kalangan mereka yang telah masuk Islam membantah mereka bahwasanya sebutan anak Allah itu hanya untuk pemuliaan dan penghormatan saja.

Merupakan hal yang telah diketahui bahwasanya mereka tidak menyeru keadaan mereka sebagai anak Allah bagi diri mereka sendiri sebagaimana mereka menyerunya bagi Isa (Yesus) ‘alaihissalam. Sesungguhnya maksud mereka menyebut sebagai anak Allah adalah untuk memuliakan mereka dan mendapatkan perlakuan khusus di sisi Allah. Maka mereka berkata: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”

Allah membantah mereka melalui Nabi-Nya: katakanlah kepada mereka: apabila urusan tersebut sebagaimana klaim kalian, maka Allah tidak akan mengadzab kalian di dunia karena dosa – dosa kalian, seperti penghancuran tempat ibadah terbesar kalian oleh para penyembah berhala dan penghancuran negeri kalian Baitul Maqdis serta dicabutnya kekuasaan kalian di muka bumi, di akhirat juga telah disediakan bagi kalian neraka jahannam atas kekafiran kalian, kedustaan kalian, dan sesuatu yang kalian ada – adakan?

Seorang bapak tidak mengadzab anaknya dan seorang kekasih tidak akan mengadzab yang dikasihinya. Maka kalian itu bukanlah anak – anak Allah dan kekasih – kekasih-Nya. Akan tetapi kalian adalah manusia di antara ciptaan yang lain dan tidaklah kalian termasuk dari hamba – hamba-Nya. Sesungguhnya Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dari orang – orang yang berhak untuk mendapatkan ampunan, yakni mereka orang – orang yang taat kepada Allah. Dia juga mengadzab siapa saja yang Dia kehendaki dari orang – orang yang berhak untuk mendapatkan adzab yakni mereka – mereka yang bermaksiat. Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki, tidak ada yang dapat menolak hukum-Nya dan Dia sangat cepat perhitungannya. Maka kembalilah dari kesombongan kalian dengan diri kalian, pendahulu kalian, dan kitab kalian. Kesombongan ini tidaklah bermanfaat bagi kalian. Sesungguhnya yang bermanfaat bagi kalian adalah iman yang shahih. Di antara iman yang shahih tersebut adalah beriman dengan risalah Islam dan beramal sholih.

Allah adalah pemilik kerajaan ini dan penguasanya secara mutlak di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya. Seluruh makhluk adalah hamba-Nya, mereka ada dalam kerajaan-Nya dan kekuasaan-Nya. Allah berfirman:

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” QS. Maryam: 93.

Dalam QS. Al-Ma’idah ayat 18 di awal tadi, Allah menggunakan redaksi ( وَمَا بَيْنَهُمَا-di antara keduanya ) setelah menyebutkan kata langit dan bumi, tidak menggunakan redaksi ( بينهن- di antara mereka ), hal ini merupakan isyarat atas adanya dua makhluk yang berbeda.

Adapun firman lanjutannya: “Dan kepada-Nya semua akan kembali.” maknanya adalah kepada Allah ta’ala lah tempat kembali dan berlindung, Dia akan memberi keputusan bagi hamba – hamba-Nya dengan apa yang Dia kehendaki, dan adalah Dia Dzat Yang Maha Adil yang tidak aniaya. Ini adalah peringatan bagi mereka bahwasanya Dia akan mengadzab mereka di akhirat kelak atas kekafiran mereka dan klaim mereka yang batil.

Masih dalam QS. Al-Ma’idah ayat 18 di atas, Allah ta’ala mengulangi kalimat yang terdapat pada ayat 17 sebelumnya yaitu kalimat: “Dan milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya.” Pengulangan itu untuk membantah setiap orang Nashrani yang mengklaim ketuhanan al-Masih (Yesus). Allah lah yang memiliki kerajaan ini dan kuasa untuk memberinya kecelakaan termasuk bagi orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini untuk menjelaskan kuasa-Nya bahwa Ia kuasa mengampuni siapa saja yang Ia kehendaki dan mengadzab siapa saja yang Ia kehendaki serta membatalkan klaim mereka bahwa mereka dekat dan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Sesungguhnya timbangan kedekatan kepada Allah adalah keimanan dan amal sholih, bukan karena warisan dan bukan pula karena keistimewaan kesukuan ataupun jenis kelamin. Maka tidaklah shahih bahwa kaum Yahudi adalah bangsa pilihan Allah, dan tidaklah bagi bangsa Yahudi keistimewaan atas bangsa lainnya.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Tafsir Al-Munir karya Syaikh Wahbah Zuhaili.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *