Tata Cara Menguburkan Jenazah

1. Jenazah dikuburkan dalam liang lahat dengan menghadap ke kiblat.

Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash berkata di waktu sakit yang menyebabkan kematiannya:

الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Buatkan bagiku lahad dan susunkan batu-batu di atas kuburanku sebagaimana yang diperbuat pada kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR. Muslim.

Lahad itu adalah celah di bagian bawah samping arah kiblat dari kubur.

2. Meletakkan jenazah ke dalam lahad dari kepalanya dahulu dengan lembut.

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang shahih:

أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْ الْقَبْرِ وَقَالَ هَذَا مِنْ السُّنَّةِ

“Al-Harits telah berwasiat agar Abdullah bin Yazid menshalatkannya. Lalu ia menshalatkannya, kemudian ia memasukkannya ke kuburan dari sebelah kaki kuburan. Dan ia berkata; ini termasuk sunnah.”

3. Bagi yang memasukkan jenazah ke dalam liang lahat hendaknya membaca doa berikut ini.

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ada jenazah telah dimasukkan ke dalam kubur, beliau mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ

BISMILLAHI WA BILLAHI WA ‘ALA MILLATI RASULILLAH (Dengan nama Allah dan dengan perintahNya serta berdasarkan agama Rasulullah).

Dan suatu kali mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

BISMILLAHI WA BILLAHI WA ‘ALA SUNNATI RASULILLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM (Dengan nama Allah dan dengan perintahNya serta berdasarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). HR. At-Tirmidzi. Beliau mengatakan hadits ini hadits hasan gharib.

4. Jenazah disemayamkan miring di dalam kubur setelah didalamkan sedalam orang berdiri dan liangnya dibuat cukup luas.

Yakni setinggi orang yang tingginya sedang pada saat berdiri dan mengangkat kedua tangannya.

Dari Hisyam bin Amir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

شُكِيَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجِرَاحَاتُ يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالَ احْفِرُوا وَأَوْسِعُوا وَأَحْسِنُوا وَادْفِنُوا الِاثْنَيْنِ وَالثَّلَاثَةَ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ وَقَدِّمُوا أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا

“Pernah dikeluhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang-orang yang terbunuh pada perang Uhud, beliau lalu bersabda: “Buatlah lubang, luaskan, perbagus dan kuburkanlah mereka dua orang atau tiga orang dalam satu lubang. Dan dahulukanlah di antara mereka yang banyak hafalan Al-Qur’annya.” HR. At-Tirmidzi. Beliau berkata hadits ini hadits hasan shahih.

5. Meratakan kubur, tidak membuat bangunan di atasnya, dan tidak memplasternya.

Dari Abi al-Hayyaj al-Asadi beliau berkata: Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku:

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ

“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan patung-patung kecuali kamu hancurkan, dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan (dengan sedikit meninggikan sebagai tanda).” HR. Muslim.

Dari Jabir beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memplaster kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya.” HR. Muslim.

Makna يُجَصَّصَ adalah meletakkan plaster di atasnya yang dinamakan dengan gipsum. Belum lagi dengan meletakkan marmer dan sejenisnya serta meninggikan kubur dan menghiasnya. Setelah adanya larangan yang jelas ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak ragu lagi bahwa hal itu adalah haram karena menyelisihi sunnah. Apa saja yang dikeluarkan untuk itu termasuk dalam menyia – nyiakan harta yang dilarang secara syar’i.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa Diib. At-Tadzhib fii Adillat Matan al-Ghayah wa at-Taqrib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *