Tag Archives: Sirah Nabawiyah

Baiat Aqabah Pertama

Telah kami sebutkan di bagian terdahulu bahwa ada enam orang dari penduduk Yastrib yang sudah masuk Islam pada musim haji tahun kesebelas dari nubuwah, dan mereka berjanji kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah di tengah kaumnya.

Hasilnya, ada dua belas orang yang datang ke Makkah pada musim haji berikutnya. Lima orang di antara mereka adalah enam orang yang sudah berhubungan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelumnya. Orang keenam yang tidak ikut bergabung kali ini adalah Jabir bin Abdullah bin Ri’ab. Adapun tujuh orang sisanya adalah: Continue reading

ISRA` DAN MI’RAJ

Selagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kondisi terjepit di perjalanan, antara keberhasilan dan tekanan, sementara bintang-bintang kecil berkelip-kelip nun jauh di atas sana, terjadilah peristiwa Isra` dan Mi’raj.

Ada perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu kejadiannya, yaitu sebagai berikut:

1. Isra` terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan beliau dengan nubuwah. Ini menurut pendapat Ath-Thabari.

2. Isra` terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini menurut An-Nawawi dan Al-Qurthubi.

3. Isra` terjadi pada malam tanggal 27 bulan Rajab tahun ke-10 dari nubuwah. Ini merupakan pendapat Al-Allamah Al-Manshurfuri. Continue reading

Dakwah Rasul Menawarkan Islam Kepada Berbagai Kabilah dan Individu

Pada bulan Dzul-Qa’dah tahun kesepuluh dari nubuwah, tepatnya pada akhir bulan Juni atau awal bulan Juli tahun 619 M. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Makkah (setelah mencoba mendakwahkan Islam ke Thaif), untuk memulai langkah baru menawarkan Islam kepada berbagai kabilah dan individu. Pertimbangan lain, karena musim haji sudah dekat, sehingga orang-orang menunaikan kewajiban haji, melibatkan diri dalam berbagai kepentingan. Maka beliau pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Beliau mendatangi setiap kabilah untuk menawarkan Islam dan menyeru mereka agar masuk Islam, seperti yang beliau lakukan sejak tahun keempat dari nubuwah.

Kabilah-kabilah yang Ditawari Islam Continue reading

Tahapan Ketiga: Dakwah Islam di Luar Makkah

Rasulullah di Tha’if

Pada bulan Syawwal pada tahun kesepuluh dari nubuwah, atau pada akhir-akhir bulan Mei atau awal-awal bulan Juni 619 M, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke Tha’if, yang berjarak lebih kurang 60 mil dari Makkah. Beliau menuju ke sana dengan berjalan kaki, begitu pula saat pulangnya. Beliau disertai pembantunya Zaid bin Haritsah. Setiap kali melewati suatu kabilah, beliau mengajak mereka kepada Islam. Namun tak satu pun yang memenuhinya. Setiba di Tha’if beliau menemui tiga orang bersaudara dari pemimpin Bani Tsaqif, yaitu Abd Yalail, Mas’ud dan Hubaib, anak-anak Amr bin Umair Ats-Tsaqfi. Beliau duduk menghadang mereka dan mengajak mereka kepada Allah serta agar sudi menolong Islam.

“Berarti kain penutup Ka’bah telah terkoyak jika memang Allah telah mengutusmu sebagai rasul,” kata salah seorang di antara mereka. Continue reading

Faktor – Faktor Yang Menguatkan Kesabaran dan Keteguhan Hati Nabi dan Sahabat – Sahabatnya

Orang yang masih memiliki perasaan tentu akan bertanya dan orang-orang yang berakal tentu tak habis pikir, apa sebab dan faktor yang dimiliki orang-orang Muslim sampai batasan ini serta mengapa mereka masih tabah? Bagaimana mungkin mereka bisa bersabar menghadapi berbagai macam tekanan yang bisa membuat kulit merinding dan hati bergetar hanya dengan mendengarkannya saja? Karena pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hati inilah kami merasa perlu mengisyaratkan secara ringkas beberapa faktor dan sebab tersebut.

1. Iman kepada Allah Continue reading

Tahun Berduka Bagi Rasulullah

Kematian Abu Thalib

Sakit Abu Thalib semakin bertambah parah, tinggal menunggu saat-saat kematian, dan akhirnya dia meninggal pada bulan Rajab tahun kesepuluh dari nubuwah, selang enam bulan setelah keluar dari pemboikotan. Ada yang berpendapat, dia meninggal dunia pada bulan Ramadhan, tiga bulan sebelum wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Al-Musayyab, bahwa tatkala ajal menghampiri Abu Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya, yang saat itu di sisinya ada Abu Jahal. Continue reading

Utusan Quraisy Terakhir Yang Menemui Abu Thalib

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari tempat pemboikotan, lalu berbuat seperti biasanya. Sekalipun orang-orang Quraisy sudah tidak mengusik masalah pemboikotan, toh mereka masih tetap melancarkan tekanan terhadap orang-orang Muslim dan menghalangi orang dari jalan Allah. Abu Thalib sendiri masih melindungi anak saudaranya. Tetapi usianya yang sudah udzur, yaitu lebih delapan puluh tahun, ditambah lagi penderitaan dan kesulitan yang harus dijalani sebelum itu selama masa pemboikotan itu, dia pun jatuh sakit. Orang orang Quraisy merasa takut terhadap nama baik mereka di kalangan bangsa Arab jika berbuat yang tidak-tidak terhadap anak saudaranya setelah Abu Thalib meninggal dunia. Maka dari itu mereka mengirim utusan sekali lagi, dan ini merupakan utusan Quraisy terakhir yang menemui Abu Thalib. Continue reading