Tag Archives: Riyadhus Shalihin

Menjaga Amalan – Amalan Agar Kontinyu

Published by:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepadaku:

يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam”. HR. Bukhari dan Muslim.

Hadits mengandung faidah bahwasanya amalan yang dilakukan secara kontinyu itulah yang terbaik dan disukai.

Kemudian, dalam hadits tersebut tidak disebutkan secara khusus nama orang yang biasa sholat malam lalu kemudian terputus dan berhenti sholat malamnya. Hal ini mengandung faidah agar hendaknya kita tidak menyebutkan nama orang yang melakukan kesalahan tersebut dalam sebuah pengajaran atau pembicaraan yang hanya kita yang mengetahui orangnya secara spesifik.

Berpegang Teguh Kepada Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafaur Rasyidin

Published by:

Dari al ‘Irbadh bin Sariyah beliau berkata; suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi nasehat kepada kami setelah shalat subuh, nasehat yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata; ‘seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun terhadap seorang budak Habasyi, sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat (bid’a), karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa di antara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata hadits ini hadits hasan shahih. Continue reading

Larangan Bid’ah (Perkara yang Diada -Adakan)

Published by:

Dari Jabir bin Abdullah beliau berkata, bahwasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda:

صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (dan menempelkan jari telunjuk dan jari tengah.)” Continue reading

Orang Yang Mempelopori Kemaksiatan Atau Kebaikan

Published by:

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

َ لَيْسَ مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ أَوَّلًا

“Tidaklah seseorang dibunuh secara zhalim, melainkan anak Adam pertama turut menanggung darah yang ditumpahkan, sebab dialah yang pertama-tama melakukannya.” .” HR. Bukhari dan Muslim.

Bahasa Hadits:

ظُلْمًا
Secara zhalim yakni dibunuh tanpa haq.

ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ
Anak Adam yang pertama yakni mengacu kepadanya berdasarkan firman-Nya:

(وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ)
(لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ)
(إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ)
(فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ)

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah :27-30).

كِفْلٌ
Yakni bagian. Di dalam al-Misbah disebutkan: kiflun adalah berlipat gandanya pahala ataupun dosa.

سَنَّ
Yang memperkenalkan yakni yang melakukan pembunuhan untuk yang pertama kalinya.

Faedah Hadits:
Sesungguhnya orang yang menjadi sebab dalam suatu perbuatan, orang yang menyuruh suatu perbuatan, atau orang yang mengingatkan suatu perbuatan, memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang melaksanakan perbuatan itu, baik dalam hal pahalanya ataupun dosanya, bahkan bisa jadi pertanggungjawabannya berlipat – lipat.

Maka berhati – hatilah dalam setiap memulai suatu perbuatan, bila perbuatan tersebut adalah sebuah kemaksiatan, maka dosa kemaksiatan itu dan dosa orang – orang yang melakukan kemaksiatan itu karena mengikuti kita, juga akan kita tanggung. Contohnya: memulai pertama kali sebuah perhelatan dangdut maksiat untuk memperingati hari kemerdekaan. Maka ketika setiap tahun diadakan acara maksiat tersebut karena mengikuti yang sudah – sudah, orang – orang yang pertama kali memulainya juga akan turut menanggung dosanya. Na’udzubillahi min dzalik.

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa dkk.Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.

 

Menunjukkan Kepada Kebaikan Atau Keburukan

Published by:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” HR. Muslim.

Bahasa Hadits:

دَعَا
Mengajak. Yaitu mendorong kepadanya baik dengan perbuatan maupun dengan perkataan.

هُدًى
Petunjuk. Yakni kebenaran dan kebaikan.

ضَلَالَةٍ
Kesesatan. Yaitu kebatilan dan keburukan.

Faedah Hadits:
1. Bahwa orang yang menjadi sebab dilakukannya suatu perbuatan dan orang yang melakukannya langsung memiliki kesamaan dalam hal hukuman ataupun pahala yang diperoleh.

2. Bagi seorang muslim hendaknya ia memperhatikan akibat dan hasil yang didapat dari perbuatan – perbuatannya. Hendaknya ia berusaha untuk melakukan kebaikan agar ia menjadi teladan yang baik.

3. Bagi seorang muslim hendaknya ia menghindari ajakan – ajakan yang batil dan berusaha menjauhkan diri dari pergaulan yang buruk. Karena, ia akan dituntut tanggungjawabnya terhadap perbuatannya itu.

4. Orang yang menjadi sebab bagi terlaksananya suatu amal kebaikan, maka baginya pahala yang berlipat ganda, dan orang yang menjadi sebab terlaksananya suatu amal keburukan juga akan memperoleh siksa yang berlipat.

 

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa dkk. Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.

 

Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Ketakwaan

Published by:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim utusan kepada Bani Lihyan dari suku Hudzail, beliau bersabda:

لِيَنْبَعِثْ مِنْ كُلِّ رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا وَالْأَجْرُ بَيْنَهُمَا

“Hendaknya setiap dua orang berangkat salah satunya, sedangkan pahala antara keduanya sama.” HR. Muslim.

Bahasa hadits:
بَعَث
Yakni: bermaksud untuk mengutus.

بَنِي لحْيَانَ
Bani Lihyan: yakni salah satu bani yang paling terkenal dari Hudzail. Adapun Hudzail adalah salah satu suku yang masyhur dari suku – suku arab. Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus utusan kepada mereka, mereka masih dalam keadaan musyrik.

Faedah Hadits:

Janganlah kaum laki – laki dari suatu qabilah (suku) ataupun kaum laki – laki dari suatu negeri keluar semua untuk berjihad, namun sebagian saja yang pergi. Bagi orang yang tidak berangkat akan mendapatkan pahala yang semisal dengan yang berangkat apabila mereka menggantikan peran mereka yang berangkat terhadap keluarganya dengan baik serta menginfaqkan hartanya untuk kebutuhan mereka yang ditinggalkan.

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa dkk. Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.

 

Nasehat

Published by:

Dari Jarir bin Abdillah beliau berkata:

بَايَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku berbai’at kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan untuk menasehati kepada setiap muslim”. HR. Bukhari dan Muslim.

Faedah Hadits:
Hadits ini menunjukkan pentingnya nasehat dan saling menasehati di antara kaum muslimin sehingga diambil komitment untuk melaksanakan nasehat tersebut. Para sahabat pun diambil baiatnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberi nasehat di antara mereka adalah Jarir bin Abdillah. Ia telah memenuhi janjinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana sudah menjadi kebiasaan di kalangan para sahabat, orang – orang mu’min dan para shiddiqin.

Rujukan:
al-Bugha, Dr. Musthafa dkk. Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.