Tag Archives: Matan Abi Syuja’

Syarat – Syarat Wajibnya Sholat (Hal – Hal yang Menjadikan Seseorang Wajib Menunaikan Sholat)

Published by:

Syarat – syarat wajibnya sholat (lima waktu) ada tiga hal:

  1. Islam.
  2. Baligh.
  3. Berakal.

Itulah tiga hal batasnya taklif (pembebanan hukum) sholat. Yakni ketika terdapat ketiga hal tersebut di atas maka terdapat kewajiban untuk sholat serta melaksanakan hukum – hukum cabang syariah yang lainnya, dan ketika tidak terdapat ketiga hal tersebut maka hilanglah beban taklif.

Dalil atas syarat Islam adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman dan beliau bersabda: Continue reading

Sholat Wajib dan Waktu – Waktunya

Published by:

Sholat yang diwajibkan itu ada lima: (zhuhur, ashar, maghrib, isya’, dan subuh).

Asal disyariatkannya sholat adalah:

  1. Ayat – ayat al-Qur’an di antaranya:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa’ 4 : 103).

  1. Hadits – hadits di antaranya:

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim.

Dalam hadits al-isra’:

فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلَاةً …… فَرَاجَعْتُ رَبِّي فَقَالَ هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ

“Lalu Allah memfardhukan shalat lima puluh waktu atas umatku.’……..”Lalu aku kembali pada Rabbku.’ Maka Allah berkata, ‘Ia lima waktu, dan ia lima puluh waktu. Perkataan tersebut tidak diganti di sisiku.’ HR. Bukhari dan Muslim.

( خَمْسٌ) lima waktu yakni dari sisi perbuatan. (خَمْسُونَ) lima puluh waktu yakni dari sisi pahala. Continue reading

Hal – Hal yang Diharamkan Bagi Orang yang Junub dan Berhadats (Kecil)

Published by:

Hal – hal yang diharamkan bagi orang yang junub ada 5 hal:

  1. Sholat

Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (QS. An-Nisa’ 4 : 43).

Maksud kata “shalat” dalam ayat (لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ) yang berkaitan dengan junub adalah tempat shalat. Sebab, melewati jalan tidak mungkin dilakukan saat shalat. Oleh karena itu, larangan shalat bagi orang yang junub merupakan larangan yang lebih kuat (orang yang junub hanya boleh untuk sekedar berlalu saja, bagaimana mungkin dia bisa menetap di tempat shalat dan mengerjakannya?). Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Adalah Kewajiban yang Pertama

Published by:

Kewajiban yang pertama bagi seorang mukallaf adalah mengenal Allah ta’ala (ma’rifatullah) yakni mengetahui sifatNya yang mulia dan agung. Maka wajib bagi mukallaf untuk mengetahui bahwasanya Allah itu ada, Dia lah yang menciptakan alam semesta ini beserta apa yang ada di dalamnya, tidak akan ada sesuatu kalaulah bukan karena Dia yang Maha Mulia dan Maha Agung. Seorang mukallaf wajib untuk mengetahui bahwasanya Allah disifati dengan seluruh sifat yang sempurna yang layak bagi kemuliaan dan keagungannya dan menjauhkan segala sifat kekurangan yang tidak layak. Keyakinan – keyakinan (Al-Aqoid) ini dapat diketahui dari Al-Qur’an al-Karim, As-Sunnah yang disucikan, serta dari hal – hal yang mutawatir di antara kaum muslimin. Continue reading

Larangan Bagi Perempuan yang Haid dan Nifas

Published by:

Hal – hal yang diharamkan bagi wanita yang haid dan nifas ada 8 hal:

  1. Sholat

Dari Fathimah binti Abi Hubaisy bahwasanya dia terkena darah penyakit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

“Apabila itu darah haid, maka ia berwarna hitam sebagaimana yang diketahui (oleh wanita). Apabila darah itu ternyata demikian, maka tinggalkanlah shalat. Namun apabila darah itu lain, maka berwudhulah dan kerjakanlah shalat, karena itu hanyalah cucuran darah (dari urat)”. HR. Abu Dawud.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: Continue reading

Darah Haid, Nifas, dan Istihadhah

Published by:

Ada tiga jenis darah yang keluar dari farji: yaitu darah haid, nifas, dan istihadhah.

Darah haid adalah: darah yang keluar dari farji wanita yang sehat tanpa sebab melahirkan. Warnanya hitam menyala (merah kehitam – hitaman) dan menyakitkan (keluarnya).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

خَرَجْنَا لَا نَرَى إِلَّا الْحَجَّ فَلَمَّا كُنَّا بِسَرِفَ حِضْتُ فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي قَالَ مَا لَكِ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاقْضِي مَا يَقْضِي الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

“Kami keluar dan tidak ada tujuan selain untuk ibadah haji. Ketika tiba di Sarif aku mengalami haid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya: “Apa yang terjadi denganmu? Apakah kamu datang haid?” Aku jawab, “Ya.” Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang haji, kecuali thawaf di Ka’bah.” HR. Bukhari dan Muslim. Continue reading

Najis

Published by:

Setiap yang mengalir yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) adalah najis kecuali air mani. Dari Anas bin Malik beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَبَرَّزَ لِحَاجَتِهِ أَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فَيَغْسِلُ بِهِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat aku mendatanginya dengan membawa bejana berisi air, sehingga beliau bisa bersuci dengannya.” (HR. Bukhari).

(تَبَرَّزَ لِحَاجَتِهِ): keluar ke tempat buang hajat, yakni tanah kosong/lapang, untuk menunaikan hajatnya dari buang air kecil maupun buang air besar. (فَيَغْسِلُ بِهِ): membasuh bekas sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur. Continue reading