Tag Archives: Matan Abi Syuja’

Sholat Berjama’ah

Published by:

Hukum sholat fardhu berjama’ah adalah sunnah muakkad (menurut sebagian ulama’ madzhab Syafi’i) baik bagi laki – laki maupun wanita berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma: bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَة

“Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”

Pendapat yang lebih kuat (di dalam madzhab Syafi’i) adalah bahwasanya hukum sholat berjama’ah adalah fardhu kifayah bagi laki – laki yang tinggal menetap atau muqim sedemikian rupa sehingga menampakkan syiar sholat berjama’ah. Hal ini sebagaimana riwayat Abu Dawud yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban: Continue reading

Waktu – Waktu Yang Dilarang Untuk Sholat

Published by:

Ada lima waktu yang pada waktu – waktu tersebut kita dilarang untuk melaksanakan sholat kecuali ada sebabnya. Kelima waktu tersebut adalah:
1. Setelah sholat subuh hingga terbitnya matahari.

2. Setelah terbit matahari hingga naiknya matahari secara sempurna setinggi tombak.

3. Saat matahari ditengah – tengah hari hingga tergelincir. Continue reading

Hal – Hal yang Membatalkan Sholat

Published by:

1. Berbicara dengan sengaja.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِي الصَّلَاةِ يُكَلِّمُ الرَّجُلُ صَاحِبَهُ وَهُوَ إِلَى جَنْبِهِ فِي الصَّلَاةِ حَتَّى نَزَلَتْ
{ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ }
فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ وَنُهِينَا عَنْ الْكَلَامِ

“Dahulu kami bercakap-cakap dalam shalat. Seorang laki-laki bercakap-cakap dengan teman di sampingnya dalam keadaan shalat, hingga turun ayat, “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu”. (QS. Al-Baqarah: 238). Lalu kami disuruh diam, dan dilarang bercakap-cakap’.” Continue reading

Perbedaan Sholatnya Wanita dan Laki – Laki

Published by:

Sholatnya wanita berbeda dengan sholatnya laki – laki dalam lima hal:

1. Laki – laki menjauhkan sikunya dari perut bagian sampingnya saat sujud.

Dari ‘Abdullah bin Malik bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ

“bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membentangkan kedua lengannya hingga tampak putih ketiaknya.” HR. Bukhari dan Muslim. Continue reading

Sunnah Sunnah Sholat (4)

Published by:

1. Mengucapkan : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ dan رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ketika bangkit dari ruku’.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَقَالَ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلَا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ

“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai sholat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. Ketika takbir untuk rukuk beliau juga melakukan seperti itu, jika mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH’, beliau juga melakukan seperti itu sambil mengucapkan: ‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU’. Namun Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud.” HR. Bukhari dan Muslim.

2. Membaca tasbih dalam ruku’ dan sujud. Continue reading

Sholat Sunnah Rawatib

Published by:

Sholat sunnah rawatib yaitu sholat – sholat sunnah yang mengikuti sholat fardhu di antaranya adalah:

1. Dua rakaat sebelum sholat fajar (subuh).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

“Tidak ada shalat sunnah yang lebih Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tekuni daripada dua raka’at fajar”. HR. Bukhari dan Muslim. Continue reading

Sholat Sunnah Muakkad

Published by:

Sholat sunnah muakkad (yang sangat dianjurkan) setelah sholat sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan secara berjama’ah (sholat I’ed, Istisqa, kusuf) dan setelah sholat sunnah rawatib yang mengikuti sholat fardhu, ada tiga yaitu:

1. Sholat al-Lail (tahajud)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya:

أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Shalat apakah yang paling utama setelah shalat Maktubah (wajib)? Dan puasa apakah yang paling utama setelah puasa Ramadlan?” maka beliau menjawab: “Seutama-utama shalat setelah shalat Maktubah (wajib) adalah shalat pada sepertiga akhir malam, dan seutama-utama puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Muharram.” HR. Muslim. Continue reading