Tag Archives: Aqidah

Kenabian

Ini adalah pembahasan yang kedua dari pembahasan – pembahasan ilmu tauhid. Pembicaraan di dalamnya adalah mengenai hal – hal yang berhubungan dengan para nabi ‘alaihim as-sholatu wassalam. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai apa saja yang wajib, mustahil, dan boleh bagi para Nabi (semoga sholawat dan salamNya tercurah kepada mereka semua).

Nabi secara syar’i adalah seorang laki – laki yang Allah wahyukan kepadanya hukum syar’i. Sama saja apakah ia diperintahkan untuk menyampaikannya ataukah tidak. Bila ia diperintahkan untuk menyampaikannya maka ia adalah Nabi sekaligus Rasul. Berdasarkan atas hal ini, dapat kami uraikan adanya seorang Nabi yang bukan Rasul yaitu ketika Allah ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam kepada seseorang sehingga Jibril menyampaikan hukum – hukum untuk ia amalkan namun ia tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada yang lainnya. Akan tetapi tidak dapat kami uraikan seorang Rasul yang bukan Nabi karena pada waktu turun wahyu kepadanya berdasarkan hukum syar’i ia telah menjadi seorang Nabi yakni seorang Nabi dan Rasul. Oleh karena itulah kita dapati kaum muslimin menyatakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul dan Nabi. Kita katakan biasanya: “Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. Juga kita katakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda”. Maksud dari kedua ungkapan tersebut adalah sama yaitu al-Habib al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam.

Continue reading

Cabang – Cabang Keimanan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. HR. Bukhari.

Penjelasan Lafadz – Lafadz Hadits

بِضْعٌ
Adalah sebuah kata yang digunakan untuk menunjukkan jumlah antara 3 hingga 10. Kita katakan: Continue reading

Makna – Makna Sifat Dzat Ilahiyah Dan Perbuatan – Perbuatan Yang Berasal Dari Allah Ta’ala

Bagi Dzat Ilahiyyah terdapat sifat – sifat yang berjumlah dua puluh delapan yang berkaitan dengan sifat qudrah, ilmu, sama’, bashar, hayah, baqa’, dan kalam.

Bagi Allah ta’ala juga terdapat sifat – sifat perbuatan yang berjumlah empat puluh tiga sebagaimana telah dibahas sebelumnya.

Adapun makna – makna sifat – sifat Dzat ilahiyah yang berhubungan dengan sifat Qudrah adalah sebagai berikut:

1. Al-Qāhir (القَاهِر) (Maha Berkuasa Mutlak), yakni yang menang.
2. Al-Qahhar (القَهَّار) (Maha Mengalahkan), yakni yang tidak dikalahkan dan tidak dikuasai. Continue reading

Kaum Mu’minin Dapat Melihat Allah Ta’ala Di Akhirat

Termasuk aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah ta’ala itu dapat dilihat oleh kaum mu’minin di akhirat dan bahwasanya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihatNya di dunia pada malam isra’ dan mi’raj.

Kelompok mu’tazilah menyelisihi hal ini seluruhnya. Syiah Imamiyah dan Ibadhiyah juga yang semisal dengan kelompok – kelompok tersebut. Berikut ini adalah hujjah – hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan kelompok – kelompok tersebut:

Kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah berhujjah dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun dalil dari al-Qur’an adalah sebagai berikut: Continue reading

Makna – Makna Asmaul Husna Yang Menunjuk Kepada Nama Dzat Allah

Allah tabaraka wa ta’ala – sebagaimana telah dibahas sebelumnya – memiliki dua puluh delapan nama atau asma’ Dzat Ilahiyah. Setiap nama tersebut memiliki makna yang berbeda dengan nama yang lain. Padanya terdapat petunjuk – petunjuk dan kesan – kesan yang berhubungan dengan aqidah iman dan Islam.

1. Nama yang pertama adalah Allah (الله), maknanya adalah bahwasanya Dia itu kuasa atas penciptaan, tidak ada sesuatupun yang ada kecuali atas kehendakNya, Dia lah yang menang dan tidak dikalahkan, Dia lah yang berkuasa dan tidak dikuasai, tidak sah taklif (beban hukum) kecuali dariNya.

2. Al-Malik (المَلِكُ) (Maha Raja), yakni Dia lah yang memuliakan siapapun yang Ia kehendaki dan menghinakan siapapun yang Ia kehendaki. Mustahil atasNya kehinaan. Continue reading

Iman Terhadap Qadha’ dan Qadar

Iman terhadap qadha’ dan qadar merupakan salah satu rukun dari rukun – rukun keimanan. Di dalam hadits Jibril yang masyhur disebutkan bahwasanya beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai iman, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Kamu beriman kepada Allah, malaikat – malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan qadar baik dan buruknya.” HR. Muslim. Continue reading

Nama – Nama Allah Dan Sifat – Sifatnya

Allah ta’ala memiliki sembilan puluh sembilan nama yang terdapat di dalam nash – nash, nama – nama tersebut adalah Asma’ul Husna (nama – nama yang terbaik). Di antaranya ada nama yang agung bagi Allah azza wa jalla yaitu nama yang mencakup makna – makna sifat Allah, nama Dzat yang pengertian – pengertiannya mendalam, luas, dan berfaidah. Maka bagi setiap muslim hendaknya mengenal makna – makna dan pengertian – pengertiannya karena hal itu akan menambah keimanannya. Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” QS. Al-A’raf: 180. Continue reading