Sifat Wajibul Wujud Bagi Allah

Salah satu sifat yang wajib bagi Allah ta’ala adalah sifat nafsiyah yaitu sifat wujud secara dzat. Hal ini bermakna keberadaan atau wujudnya Allah ta’ala adalah wajib secara aqal bagi Dzat-Nya, keberadaanNya tidaklah karena suatu alasan atau sebab tertentu. Penjelasan memgenai pembicaraan ini membutuhkan penjelasan kepada dua hal yaitu:

Pertama: maknanya wajibul wujud. Telah dijelaskan pada penjelasan yang lain bahwa makna wajib dalam pembahasan aqidah adalah apa – apa yang ketiadaannya tidak dapat digambarkan oleh aqal (tidak terbayang) dalam suatu keadaan dari keadaan – keadaan. Tidak dapat tergambar baik itu pada keadaan sebelum ini, saat ini, maupun nanti.

Tidak dapat digambarkan oleh aqal bahwa Allah ta’ala itu tidak ada. Maka ini adalah sifat yang khusus bagi Allah ta’ala. Kita telah menggambarkan bahwa terwujudnya alam semesta ini bukan berasal dari manusia yang membuatnya, juga bukan berasal dari gunung ataupun langit…bahkan kita tidak dapat menggambarkan terwujudnya alam semesta ini berasal dari selain Allah ta’ala.

Alam semesta adalah makhluk yang lemah yang tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebagiannya lemah dari menciptakan sebagian yang lain. Maka sudah seharusnya bagi alam semesta itu ada yang menciptakan dan pencipta tersebut adalah Allah ta’ala. Bahkan setiap atom di alam semesta ini menunjukkan kepada suatu mukjizat yang membutuhkan kepada yang mewujudkan. Tidak ada yang mampu untuk menciptakannya kecuali Allah ta’ala. Mungkin saja kita mengatakan bahwa alam semesta ini tidak ada, namun ini adalah gila dan batil. Atau kita katakan bahwa alam semesta ini ada dan membutuhkan kepada yang mengadakan. Allah lah yang mengadakan semuanya itu.

Kedua: Keberadaan Allah ta’ala tidak berdasar kepada suatu illat tertentu. Maksud dari illat ini adalah sebab. Maka ketika kita melihat seorang manusia kita katakan: sebab adanya dia adalah bapaknya, dan ketika kita lihat pohon kita katakan: sebab adanya pohon itu adalah benih. Bapak dan benih tersebut akan kembali lagi ke sebab asalnya yang lain, demikian seterusnya tanpa putus.

Pada akhirnya kita katakan: illat atau sebab adanya dari segala yang ada adalah Allah ta’ala. Maka Allah ta’ala menciptakan asal penciptaan kemudian menjadikan ciptaannya itu berfase – fase, fase demi fase. Adapun Allah ta’ala, keberadaannya tidak memiliki sebab. Karena bila kita katakan bahwa keberadaanNya memiliki illat atau sebab maka sebab itu membutuhkan kepada sebab yang lain demikian seterusnya tanpa akhir. Ini adalah batil. Maka sudah seharusnya bagi kita untuk menetapkan keberadaan sesuatu yang tidak memiliki illat atau sebab, Dia lah Allah ta’ala. Inilah pembeda antara keberadaan Allah dan keberadaan yang lainnya. Maka kita katakan bahwa Allah itu ada, demikian juga sesuatu yang lain itu juga ada. Akan tetapi, pemisahan antara kedua keberadaan tersebut adalah bahwasanya keberadaan Allah ta’ala itu karena DzatNya itu sendiri sementara yang lainnya itu ada karena disebabkan oleh yang lain. Kita katakan: bahwasanya Allah ta’ala itu wajibul wujud (wajib ada) yakni bahwasanya keberadaanNya itu tanpa illat atau sebab.

Ketika aqal susah untuk menggambarkan adanya sesuatu yang ada tanpa sebab, maka sebabnya kesulitan itu adalah karena ia biasa mengamati sebab atau illat bagi segala sesuatu yang bisa ia indra. Sedangkan dzat-Nya Allah ta’ala adalah tidak dapat diindra oleh manusia dan tidak berlaku atas-Nya hukum – hukum indrawi. Kemudian sebab yang lain lagi adalah pendeknya atau terbatasnya aqal yang tidak meliputi segala sesuatu. Sehingga manusia tidak dapat selalu tepat dalam setiap keputusan pada suatu urusan. Aqal tidak meliputi permulaan zaman ataupun akhirnya, akal juga tidak meliputi ujungnya keenam arah (kanan kiri depan belakang atas bawah) dst.

Maka ikrar akan adanya alam semesta juga menetapkan ikrar adanya pencipta alam semesta yang keberadaannya tidak memiliki sebab atau illat. Keberadaan sang pencipta itu adalah wajib atas Dzat-Nya, Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidaklah ada yang lebih agung dalam Al-Qur’an al-Karim dalam menjelaskan hal ini kepada kita melainkan firman-Nya:

(هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. Al-Hadid : 3.

(أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ)

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” QS. At-Thur : 35.

Adanya ciptaan tanpa adanya pencipta adalah mustahil. Tidak ada satu orang pun yang mengatakan: sesungguhnya ia menciptakan dirinya sendiri. Bila demikian halnya maka sudah semestinya bahwa siapa yang menciptakan adalah tidak diciptakan. Dialah Allah azza wa jalla.

Rujukan:
Syaikh Nuh Ali Salman al-Qudhah, Al-Mukhtashar al-Mufid fii Syarh Jauharat at-Tauhid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *