Sifat Orang – Orang Munafik (2) – Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 11-13

Tags:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12)

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi,” Mereka berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (11) lngatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (12) (QS. Al-Baqarah 2 : 11-13)

Maksud (الفَسَدْ) kerusakan pada ayat ini adalah kekafiran, kemunafikan, dan kemaksiatan. Maka firman Allah Ta’ala, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi,”‘ maksudnya adalah kekafiran, kemunafikan, dan kemaksiatan di muka bumi. Karena orang yang menentang perintah Allah atau menyuruh berbuat maksiat, berarti ia telah berbuat kerusakan di muka bumi karena kemaslahatan hanya akan terwujud dengan adanya ketaatan.

Kaum munafik menduga bahwa dengan mengaku beriman, mereka dapat menipu kaum mukmin, tetapi Allah menelanjangi rahasia mereka supaya kaum mukmin tidak terperdaya oleh mereka, lalu menjadikan mereka sebagai pemimpin, sedangkan mereka pada hakikatnya adalah kaum munafik. Jadi, penetapan kaum munafik sebagai pemimpin oleh orang-orang yang beriman-yang sebenarnya mereka adalah musuh nyata kaum mukmin-merupakan kerusakan yang besar di muka bumi. Karena secara lahiriah mereka tampak sebagai mukmin, maka ihwal mereka menjadi samar bagi kaum mukmin, sehingga hampir saja terjadi kerusakan akibat ulah mereka, sebab merekalah yang menipu kaum mukmin dengan omongan mereka yang sama sekali tidak benar.

Mereka berkomplot dengan kaum kafir terhadap kaum mukmin. Karena itu, Allah ta’ala berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi,’ Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.’”

Sesungguhnya kami hendak mendamaikan kelompok mukmin dan kelompok kafir yang berasal dari kelompok musyrikin dan Ahli Kitab. Namun, Allah memperlihatkan apa yang mereka sembunyikan dan apa yang terdapat di dalam hati mereka. Allah mendustakan mereka dengan firman-Nya, “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar,” yakni, apa yang mereka pegang dan mereka duga sebagai perbuatan ishlah tiada lain adalah kerusakan itu sendiri. Namun, karena kebodohannya, mereka tidak menyadari keberadaan “ishlah” itu sebagai kerusakan.

Ya Allah, teguhkanlah kami dalam memeluk agama-Mu dan menaati-Mu, dan jadikanlah kami kaum mukmin yang tidak bertentangan antara lahir dan batin kami.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ (13)

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang telah beriman,” Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman sebagaimana orang-orang bodoh telah beriman.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah 2 : 13)

Allah ta’ ala berfirman,

(وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ) “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang telah beriman,'” yakni, seperti telah berimannya orang-orang kepada Allah, malaikat – malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari Kebangkitan, surga, neraka, dan sebagainya dengan keimanan yang sesungguhnya. Dan taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintah – perintah dan menjauhi berbagai larangan-Nya, maka mereka berkata, (أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ) “Apakah kami harus beriman sebagaimana orang-orang bodoh telah beriman?” Maksud “orang-orang bodoh” adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata, “Apakah kami dan mereka itu harus berada dalam satu kedudukan, sementara mereka adalah orang-orang yang bodoh?”

Allah memberi jawaban kepada mereka dengan firman-Nya, (أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ) “Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” yakni tidak mengetahui keadaan diri mereka yang menunjukkan kebodohan dan kesesatan diri mereka sendiri. Sesungguhnya ketidaktahuan mereka itu lebih hina bagi mereka, lebih buta, dan lebih jauh dari jalan petunjuk, sehingga bertambahlah kesesatan mereka. Hal itu berarti bertambah pula kemurkaan dan azab Allah atas mereka. Maka balasan itu adalah dari jenis perbuatan yang sama dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.

 

Maraji’:

Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib. Taisir al-‘Aliy al-Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *