Shalat Kusuf (Gerhana Matahari) & Shalat Khusuf (Gerhana Bulan)

Tags: ,

Shalat kusuf dan khusuf hukumnya adalah sunnah muakkadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka dirikanlah shalat dan banyaklah berdoa hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian. (HR. Bukhari & Muslim).

Sebelum shalat kusuf dan khusuf, disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu sebagaimana shalat jum’at karena shalat tersebut disyariatkan untuk berkumpul dan khutbah. Shalat kusuf dan khusuf juga disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjamaah di masjid sebagaimana halnya shalat jumat. Shalat ini lebih utama untuk dilaksanakan di masjid jami’. Shalat ini juga boleh dilaksanakan di tempat – tempat lain selain masjid. Wanita, hamba sahaya, musafir, dan orang yang sendirian juga disunnahkan untuk melaksanakan shalat ini. Waktu masuknya shalat kusuf dan khusuf adalah ketika mulai terjadinya gerhana hingga selesai gerhana.

Dari Abu Bakrah beliau berkata,

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْكَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ حَتَّى انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu terjadi gerhana matahari. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri menjulurkan selendangnya hingga masuk ke dalam masjid, kamipun ikut masuk ke dalam Masjid, beliau lalu mengimami kami shalat dua rakaat hingga matahari kembali nampak bersinar. Setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka dirikanlah shalat dan banyaklah berdoa hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian. (HR. Bukhari & Muslim).

Panggilan yang disunnahkan untuk shalat kusuf dan khusuf adalah Ashshalaatul jaami’ah.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru beliau berkata:

لَمَّا كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ

Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka panggilannya dengan seruan, Ashshalaatul jaami’ah (Marilah mendirikan shalat secara bersama-sama). (HR. Bukhari & Muslim).

Shalat kusuf & khusuf yang paling minimal adalah sebagai berikut:

  1. Niat shalat kusuf atau khusuf.
  2. Membaca al-Fatihah.
  3. Ruku’.
  4. Bangkit dari ruku’.
  5. Membaca al-Fatihah lagi.
  6. Ruku’ yang kedua.
  7. Bangkit dari ruku’.
  8. Kemudian sujud dua kali sebagaimana shalat yang lainnya.
  9. Kemudian bangkit berdiri rakaat kedua mengulangi seperti rakaat pertama dimulai dari membaca al-Fatihah hingga salam.

Shalat ini dilaksanakan dua raka’at, di masing – masing raka’at terdapat dua kali berdiri, dua kali membaca al-Fatihah, dua ruku’, dan dua sujud yang sama dengan sujud pada shalat lainnya.

Adapun sempurnanya atau lengkapnya shalat kusuf dan khusuf adalah sebagai berikut:

  1. Niat shalat kusuf atau khusuf.
  2. Membaca do’a istiftah.
  3. Membaca ta’awwudz.
  4. Membaca al-Fatihah.
  5. Membaca surat al-Baqarah atau yang semisalnya.
  6. Ruku’ dan bertasbih selama kadar membaca seratus ayat dari surat al-Baqarah.
  7. Bangkit dari ruku’ dan membaca sami’allahu liman hamidah rabbanaa wa lakal hamd.
  8. Membaca ta’awwudz dan al-Fatihah lagi.
  9. Membaca surat dengan kadar dua ratus ayat dari surat al-Baqarah atau yang semisalnya.
  10. Ruku’ dan bertasbih selama kadar 2/3 ruku’ pertama.
  11. Kemudian bangkit dari ruku’.
  12. Kemudian sujud dua kali sebagaimana shalat yang lainnya dengan kadar lama sujud selama kadar ruku’nya (lamanya sujud pertama dengan kadar lama ruku’ pertama dan sujud kedua dengan kadar lama ruku’ kedua).
  13. Kemudian bangkit berdiri rakaat kedua mengulangi seperti rakaat pertama dimulai dari al-Fatihah hingga salam dengan tambahan rincian:
    1. Kadar bacaan surat setelah membaca al-Fatihah yang pertama adalah selama kadar membaca 150 ayat dari surat al-Baqarah.
    2. Kadar bacaan ruku’ yang pertama adalah selama membaca tujuh puluh ayat dari surat al-Baqarah.
    3. Kadar bacaan surat setelah membaca al-Fatihah yang kedua adalah selama kadar membaca 100 ayat dari surat al-Baqarah.
    4. Kadar bacaan ruku’ yang kedua adalah selama membaca 50 ayat dari surat al-Baqarah.

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata:

خَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتْ الشَّمْسُ فَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

Pernah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat bersama kaum muslimin. Beliau berdiri dengan berdiri yang sangat panjang sebagaimana panjangnya bacaan surat Al Baqarah. Kemudian beliau ruku’ dengan ruku’ yang panjang pula. Sesudah itu beliau bangkit dari ruku’ lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun tidak sebagaimana panjangnya berdiri beliau yang pertama. Kemudian beliau ruku’ dengan panjang, namun tidak sepanjang ruku’nya yang pertama. Lalu beliau teruskan dengan sujud. Setelah itu, beliau bangkit kembali dan berdiri dengan panjang, namun tidak sepanjang berdirinya pertama kali. Kemudian ruku’ dengan panjang, tetapi tidak sebagaimana ruku’nya yang pertama. Kemudian beliau bangkit lagi dan berdiri dengan lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Lalu beliau ruku’ kembali dengan lama, tetapi tidak seperti ruku’nya yang pertama. Kemudian beliau bangkit lalu sujud. Setelah beliau selesai shalat matahari pun kembali menampakkan cahaya. Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah, tidaklah terjadi gerhana pada keduanya karena kematian seseorang atau pun karena kehidupannya. Jika kalian melihat hal itu, maka berdzikirlah kepada Allah.” (HR. Bukhari & Muslim).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya beliau berkata:

خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mendirikan shalat bersama orang banyak. Beliau berdiri dalam shalatnya dengan memanjangkan lama berdirinya, kemudian rukuk dengan memanjangkan rukuknya, kemudian berdiri dengan memanjangkan lama berdirinya, namun tidak selama yang pertama. Kemudian beliau rukuk dan memanjangkan lama rukuknya, namun tidak selama rukuknya yang pertama. Kemudian beliau sujud dengan memanjangkan lama sujudnya, beliau kemudian mengerjakan rakaat kedua seperti pada rakaat yang pertama. Saat beliau selesai melaksanakan shalat, matahari telah nampak kembali. Kemudian beliau menyampaikan khutbah kepada orang banyak, beliau memulai khutbahnya dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, lalu bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka banyaklah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, dirikan shalat dan bersedekahlah.” Kemudian beliau meneruskan sabdanya: “Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, tidak ada yang melebihi kecemburuan Allah kecuali saat Dia melihat hamba laki-laki atau hamba perempuan-Nya berzina. Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Bukhari).

Disunnahkan untuk membaca secara sirr (pelan) pada shalat kusuf dan secara jahr (keras) pada shalat khusuf.

Dari Samrah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُسُوفٍ لَا نَسْمَعُ لَهُ صَوْتًا

Kami tidak mendengar suara bacaan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam waktu kami shalat Kusuf (gerhana matahari) bersama beliau. (HR. at-Tirmidzi. Beliau berkata hadits ini hadits hasan shahih).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَهَرَ فِي صَلَاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan suara bacaannya dalam shalat Khusuf (gerhana bulan). Dan beliau pun shalat, dalam dua raka’at beliau mengerjakan empat kali ruku’ dan empat kali sujud. (HR. Bukhari).

Disunnahkan untuk dua kali khutbah setelah shalat kusuf dan khusuf secara berjama’ah, dalilnya adalah hadits Aisyah di atas. Khutbah setelah shalat kusuf dan khusuf mengikuti rukun – rukun dan syarat – syarat khutbah jumat. Khutbah ini bukanlah syarat sahnya shalat kusuf dan khusuf. Di dalam khutbah khatib menyampaikan agar kaum muslimin taubat dari maksiyat – maksiyat, mengerjakan kebaikan – kebaikan, bershadaqah, memerintahkan mereka agar memperbanyak doa, istighfar, dan dzikir.

Waktu shalat gerhana dimulai ketika gerhana mulai terjadi hingga terang kembali (selesai gerhananya). Waktu gerhana matahari juga berakhir ketika matahari telah tenggelam meskipun tenggelam dalam keadaan masih gerhana sebagian. Waktu shalat gerhana bulan juga berakhir ketika telah terbit matahari meskipun saat itu bulan masih dalam keadaan gerhana sebagian.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَصَلُّوا حَتَّى تَنْجَلِيَ

Karena itu, apabila kalian melihat gerhana, maka shalatlah, hingga ia terang kembali. (HR. Bukhari).

Wallahu ‘alam bishshawwab.

Maraji’:

An-Nawawi, Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf. Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *