Sederhana Dalam Ketaatan (1)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

أنَّ النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – دخل عَلَيْهَا وعِندها امرأةٌ، قَالَ: «مَنْ هذِهِ؟» قَالَتْ: هذِهِ فُلاَنَةٌ تَذْكُرُ مِنْ صَلاتِهَا. قَالَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَواللهِ لاَ يَمَلُّ اللهُ حَتَّى تَمَلُّوا» وكَانَ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ صَاحِبُهُ عَلَيهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya dan bersamanya ada seorang wanita lain, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “siapa ini?” Aisyah menjawab: “si fulanah”, Lalu diceritakan tentang shalatnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “tinggalkanlah apa yang tidak kalian sanggupi, demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang menjadi bosan, dan agama yang paling dicintai-Nya adalah apa yang senantiasa dikerjakan secara rutin dan kontinyu”. (HR. Bukhari & Muslim).

(مَهْ – adalah kata larangan). Makna (لاَ يَمَلُّ اللهُ) maknanya adalah tidak terputus ganjaran Allah bagi kalian, balasan amal – amal kalian, dan memperlakukan kalian dengan perlakuan orang yang bosan hingga kalian sendiri yang bosan dan meninggalkannya. Maka sudah seharusnya bagi kalian untuk mengambil apa – apa yang kalian mampu mengerjakannya secara rutin agar rutin juga pahalanya bagi kalian dan keutamaannya atas kalian.

Bahasa Hadits:

(تَذْكُرُ) yakni Aisyah menceritakan banyaknya ibadahnya (fulanah dalam hadits tersebut) dan sholatnya.

(لاَ يَمَلُّ): (المَلاَل): menganggap berat sesuatu dan keengganan diri atasnya setelah sebelumnya menyukainya. Yang demikian itu mustahil bagi Allah ta’ala, dan sesungguhnya Allah ta’ala terbebas dari permisalan. Maksud dari bosan di sini adalah terputusnya pahala.

(وكَانَ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَيْهِ) yakni kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut al-Mustamli: (وكَانَ أَحَبُّ الدِّينِ الى الله). Kedua riwayat tersebut tidak bertentangan karena apa – apa yang disukai oleh Allah juga merupakan apa – apa yang disukai oleh Rasul-Nya.

Faidah hadits:

  1. Dibencinya terlalu banyak beribadah karena dikhawatirkan akan membuat bosan dan kelesuan.
  2. Tidak berlebih – lebihan dan berada di pertengahan dalam menuaikan ibadah (tidak sangat sedikit tidak juga sangat banyak).
  3. Amal – amal yang memiliki pahala paling banyak adalah amal yang dikerjakan terus menerus meskipun sedikit.
  4. Pada ibadah yang sedikit namun dikerjakan secara terus menerus, terdapat ketaatan yang terus menerus dengan dzikir, mendekatkan diri kepada Allah, ikhlas, dan adanya kehadiran Allah ta’ala.
  5. Ibadah yang sedikit namun kontinyu lebih daripada ibadah yang banyak namun terputus.
  6. Terdapat pahala dalam mengistirahatkan diri dari hal – hal yang mubah ketika dimaksudkan untuk perkuatan amal shalih dan perkuatan ibadah kepada Allah ta’ala.

 

Maraji’:

  1. al-Bugha, Dr. Musthafa dkk. Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *