Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah: Wahdaniyat (Esa)

Agama Islam dikenal sebagai agama tauhid. Agama Islam adalah agama para Nabi sebelum – sebelumnya seluruhnya. Akan tetapi agama – agama yang sebelumnya telah diubah namun Allah ta’ala menjaga agama Islam dari pengubahan. Oleh karena itu di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menyatakan ketauhidan/ke-Esaan Allah sebagaimana firman-Nya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” QS. Muhammad : 19.

Allah ta’ala juga berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” QS. Al-Ikhlas : 1.

Makna tauhid adalah bahwasanya tidak ada sesembahan atau tuhan kecuali hanya Allah dan tidak ada sesuatupun yang semisal dengan Allah ta’ala:

(وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ)

“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” QS. Al-Ikhlas : 4.

Ini adalah ke-esaan Dzat. Bagi selain Allah ta’ala tidak ada yang memiliki sifat yang menyerupai sifatnya Allah azza wa jalla, ini adalah ke-esaan sifat. Bagi selain Allah ta’ala tidak ada yang memiliki perbuatan sebagaimana perbuatan Allah ta’ala, ini adalah ke-esaan dalam perbuatan. Allah ta’ala itu Esa dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya, dan juga Perbuatan-Nya.

Adapun dalil mengenai ke-Esaan Allah ini sangat banyak di antaranya adalah:

1. Bahwasanya orang – orang yang mengklaim memiliki sifat ketuhanan, ternyata tidak terdapat sifat ketuhanan tersebut pada diri mereka yaitu menciptakan dari ketiadaan dan berkuasa atas segala sesuatu. Allah ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ)

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” QS. Al-Hajj : 73.

Maka klaim bahwa ada sekutu dan yang setara dengan Allah adalah batil dan telah tetap hakikat dari tauhid.

2. Bahwasanya tunggalnya jejak menunjukkan kepada tunggalnya yang membuat jejak. Apabila terdapat dua tulisan yang identik maka kita katakan bahwasanya tulisan tersebut berasal dari satu orang. Oleh karena itu sahnya sebuah dokumen bergantung pada tandatangan yang dibubuhkan, ketika dua tanda tangan identik maka berarti tanda tangan tersebut berasal dari satu orang. Bila kita mendapati sidik jari yang identik kita katakan bahwa sidik jari itu berasal dari satu orang dst…

Telah tetap pada ilmu modern saat ini bahwasanya metode perancangan di seluruh alam semesta ini adalah satu. Setiap makhluk – makhluk tersusun dari atom – atom, mereka tersusun dengan jalan yang satu meskipun memiliki berbagai macam sifat yang beragam. Metode penyusunan bagian – bagian alam semesta pun juga satu. Sebuah inti atom berputar – putar disekeliling partikel, demikian juga tata surya dengan intinya adalah matahari yang berputar – putar disekeliling matahari tersebut sebuah ‘partikel’ yaitu bumi, planet mars, dst, demikian juga dengan galaksi – galaksi yang besar.

Sungguh sangat menarik perhatian bahwasanya bumi itu berputar dari kanan ke kiri, demikian juga dengan orang – orang yang berhaji mereka diperintahkan oleh Allah untuk mengelilingi Ka’bah dari kanan ke kiri. Maka Sang Pencipta dan juga yang menetapkan syariat haji tersebut adalah satu yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Bila ada dua tuhan di alam semesta ini, niscaya ada kemungkinan berbedanya kehendak antara keduanya dalam suatu urusan. Misalnya saja salah satunya menghendaki bergeraknya seseorang sementara yang lainnya menghendaki diamnya seseorang tersebut. Kemudian, merupakan suatu hal yang mustahil memenuhi kehendak keduanya secara bersamaan karena tidak mungkin sesuatu itu bergerak dan diam pada waktu yang bersamaan. Kemudian, merupakan hal yang mustahil juga untuk tidak memenuhi kehendak salah satunya karena sudah seharusnya bagi tuhan itu untuk terpenuhi segala kehendaknya. Meski demikian, sudah seharusnya kehendak salah satu dari keduanya untuk terpenuhi, yang mampu untuk memenuhi kehendaknya itulah tuhan yang haq. Adapun yang tidak mampu memenuhi kehendaknya itu adalah hamba dan dikuasai. Tuhan yang haq itu adalah Allah azza wa jalla dan yang selain-Nya adalah hamba-Nya. Maka telah tetap konsep tauhid dan telah tetap ke-Esaan Allah ta’ala.

Oleh karena itulah Ibrahim alaihissalam berkata kepada Namrud yang mengklaim sebagai tuhan:

فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.” QS. Al-Baqarah : 258.

Maka ketika Namrud tidak dapat memenuhi kehendaknya untuk menerbitkan matahari dari barat, terdiamlah ia. Matahari itu terbit dari arah timur atau dari arah barat berdasarkan pada keteraturan yang dikehendaki oleh Allah. Seluruh alam semesta ini berjalan dengan keteraturan tanpa cacat di dalamnya berdasarkan kehendak Allah ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak memiliki tuhan lain selain tuhan yang satu yaitu Allah ta’ala. Bahwasanya juga kehendak Allah itulah yang menjalankan alam semesta ini dengan sistem yang layak bagi apa saja di dalamnya. Apabila bersama Allah ta’ala ada tuhan yang lain bersama-Nya maka mengapa sistem tersebut berjalan terus menerus dengan menakjubkan tanpa kerusakan? Benarlah Allah ta’ala yang berfirman:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” QS. Al-Anbiya’ : 22.

Maka ketiadaan kerusakan pada langit dan bumi adalah dalil bahwasanya tuhan langit dan bumi itu adalah satu yaitu Allah ‘azza wa jalla.

Ketika telah tetap bahwasanya tiada tuhan selain Allah maka telah tetap pula bahwasanya tidak ada seorangpun yang memiliki sifat seperti sifat-Nya Allah ta’ala dan tidak ada seorang pun yang menyerupai perbuatannya Allah ta’ala. Bagi Allah, apabila Ia menghendaki sesuatu maka terjadilah. Adapun selain Allah ta’ala membutuhkan kepada sebab – sebab dan alat – alat bantu agar kehendaknya terwujud. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” QS. Yasin : 82.

Setelah mengetahui sifat – sifat tersebut, wajib untuk meyakini bahwasanya Allah suci dari lawan/tandingan dalam Dzat-Nya dan sifat-Nya. Karena Ia adalah qadim (dahulu) dan sifat-Nya adalah qadim. Hal ini berarti tiada lawan/tandingan bagi-Nya baik sebelum maupun sesudahnya. Hal ini karena sesuatu yang berlawanan tidak mungkin berkumpul bersama. Misalnya saja gerakan dan diam, gelap dan terang, dst. Allah ‘azza wa jalla adalah qadim dan kekal maka mustahil baginya lawan atau tandingan.

Allah ta’ala juga suci dari menyerupai makhluk-Nya dalam Dzat dan sifat-Nya karena Ia berbeda dengan hawadits (hal – hal yang baru dan memiliki awal dan akhir) sebagaimana dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Allah ta’ala juga suci dari sekutu dalam Dzat, sifat-Nya, ataupun perbuatan-Nya karena Ia adalah Esa dalam Dzat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya sebagaimana dijelaskan tadi. Allah juga suci dari beranak dan diperanakkan karena beranak merupakan sifat hewan dan Allah ta’ala suci dari menyerupai makhluk-Nya. Adapun diperanakkan butuh kepada orang tua yang mewujudkannya, adapun Allah itu ada karena Dzat-Nya yang qadim sebagaimana telah kita jelaskan pada pembahasan sebelumnya. Adapun orang tua butuh kepada anak agar keberadaan jenisnya lestari setelah wafatnya. Adapun Allah ta’ala maha hidup dan tidak pernah wafat. Adapun melahirkan menetapkan bahwa bagi yang melahirkan ada bagian yang terpisah darinya sehingga menjadi anak, sedangkan Allah ta’ala adalah satu tidak terbagi dan tidak serupa dengan hawadits, dan dapat terbagi – bagi itu merupakan salah satu sifat hawadits. Allah ta’ala berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” QS. Maryam : 88-93.

Sungguh Al-Qur’an al-Karim telah menjelaskan bahwasanya mustahil bagi Allah memiliki anak karena melahirkan merupakan sifat kekurangan. Klaim bahwa Allah memiliki anak adalah suatu hal yang bertentangan karena pada saat yang bersamaan meyakini bahwa Allah itu sempurna namun nyatanya melahirkan itu adalah sifat kekurangan. Kemudian ada orang – orang yang mengklaim bahwa Allah memiliki anak seperti Isa ‘alaihissalam, namun ternyata sifat – sifat ‘anak tuhan’ tersebut adalah sifat – sifat hamba, maka mereka sejatinya adalah hamba Allah bukan anak-Nya.

Allah juga suci dari memiliki teman – teman, karena manusia biasanya mengambil seseorang sebagai temannya karena kebutuhannya kepadanya. Adapun Allah ta’ala maha kaya terhadap butuh kepada makhluknya. Disamping itu pertemanan juga biasanya terjadi antara dua orang yang semisal, adapun Allah ta’ala suci dari menyerupai sesuatu.

Memang benar bahwa Allah memiliki para wali yang mana mereka itu mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka, akan tetapi cinta-Nya kepada mereka tidak seperti cinta kita. Karena sifat-Nya tidak seperti sifat kita.

Makna – makna inilah yang dipahami dari firman Allah ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” QS. As-Syura’ : 11.

Dan firman-Nya:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. QS. Al-Ikhlas : 1-4.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Syaikh Nuh Ali Salman al-Qudhah, Al-Mukhtashar al-Mufid fii Syarh Jauharat at-Tauhid.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *