Salah Satu Sifat Wajib Bagi Allah : Hayah (Hidup)

Sifat ma’ani (jama’ dari ma’na yaitu sesuatu yang mengikuti dzat) sebagaimana telah dibahas sebelumnya yaitu sifat bagi Dzat yang dengan sifat tersebut Dzat Allah ta’ala disifati. Dalil atas sifat – sifat ma’ani bagi Allah ini adalah menurut ketetapan-Nya. Atau sebagaimana perkataan ulama’: setiap sifat yang berdiri bersama yang disifati maka sifat tersebut wajib baginya. Adapun sifat ma’ani yang berdiri di atas dalil ada tujuh:

Qudroh (kuasa), Iradah (kehendak), Ilmu, Hayah (hidup), Kalam, Sama’ (mendengar), Bashor (melihat).

Kami tidak menambah selain sifat tersebut kecuali berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah. Karena tidak boleh kita mensifati Allah ta’ala dengan suatu sifat yang Allah tidak mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut dalam Qur’an maupun Sunnah. Tidaklah kita temukan di dalam Qur’an maupun Sunnah sifat – sifat ma’ani selain daripada sifat – sifat ini ataupun yang memiliki interpretasi ke sana. Berikut ini kita akan membahas mengenai sifat hayah (hidup) bagi Allah ta’ala:

Hayah (hidup)

Allah tabaraka wa ta’ala mensifati dirinya dengan sifat hayah. Allah ta’ala berfirman:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” QS. Al-Baqarah: 255.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati.” QS. Al-Furqon: 58.

Telah kita ketahui sebelumnya bahwa Allah itu mukhalif lil hawadits (tidak sama dengan makhluk yang baru ada). Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” QS. As-Syura: 11.

Allah itu hidup, namun Allah sendiri mengatakan bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya. Bila demikian, lalu apakah makna hidup bagi Allah ta’ala? Sesungguhnya hidupnya seluruh makhluk itu tidak ada yang mengetahui hakikatnya kecuali Allah ta’ala lah yang mengetahuinya. Meski ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju namun tetap saja manusia hanya tahu dzhahirnya saja. Bila hakikat hidup diri kita saja tidak kita ketahui, lalu bagaimana mungkin kita mengetahui hakikat hidupnya Allah subhanahu wa ta’ala?! Oleh karena itulah para ulama’ mendefinisikan hidupnya makhluk dengan menjelaskan jejak/bekasnya. Para ulama’ menjelaskan bahwa ada tiga jenis kehidupan:

1. Kehidupan tumbuhan: salah satu penampakannya adalah tumbuh dan berkembang biak.

2. Kehidupan hewani: salah satu penampakannya adalah tumbuh, berkembang biak, merasakan, dan gerakan spontan. Jenis kehidupan ini adalah jenis kehidupan nabati dengan tambahan merasakan dan bergerak.

3. Kehidupan insaniyah/kemanusiaan: salah satu penampakannya adalah apa saja yang merupakan tambahan dari kehidupan hewani yaitu: berpikir, menganalisis, dan memprediksi sesuatu di balik sesuatu. Ini adalah kekhususan yang dijadikan oleh Allah bagi manusia agar mampu mengelola bumi dan mengemban tugas hidupnya dengan baik. Kehidupan insaniyah inilah yang kita sebut dengan ruh insaniyah.

Setiap jenis kehidupan yang disebutkan di atas bukanlah kehidupan yang dimaksud bagi hidupnya Allah ta’ala. Oleh karena itu para ulama’ berkata mengenai definisi dari hidupnya Allah azza wa jalla yaitu: sifat azali yang menetapkan kebenaran adanya ilmu. Ini bukanlah definisi dari dzatnya kehidupan namun penjelasan mengenai apa yang seharusnya ada.

Kami mengimani bahwasanya Allah ta’ala itu mengetahui segala sesuatu dan menciptakan segala sesuatu, ilmu dan penciptaan di sini tidak mungkin ada kecuali berasal dari dzat yang hidup. Oleh karena itulah wajib bagi kita untuk mengimani bahwasanya Allah ta’ala itu hidup dan hidupnya Allah tidak sama dengan hidup makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan hal ini dalam kitab-Nya, maka kami mengimaninya dan sesungguhnya kami tidak mengetahui kaifiyat atau bagaimanakah hidupnya Allah itu dan hakikatnya. Wallahu ‘alam bi ash-shawwab.

Syaikh Nuh Ali Salman al-Qudhah, Al-Mukhtashar al-Mufid fii Syarh Jauharat at-Tauhid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *