Bejana dari Emas dan Perak

Tidak diperbolehkan untuk menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak, yang diperbolehkan adalah menggunakan bejana yang terbuat dari selain keduanya.

Diriwayatkan dari Khudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلَا الدِّيبَاجَ وَلَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الْآخِرَةِ

Janganlah kalian memakai sutera atau Dibaj (kain bersulam sutera), jangan minum dari bejana emas dan perak, dan jangan makan di baskom mereka, sesungguhnya barang-barang itu adalah untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak. (HR. Bukhari & Muslim). Continue reading

Jujur (1)

عن ابن مسعود – رضي الله عنه – عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «إنَّ الصِّدقَ يَهْدِي إِلَى البرِّ، وإنَّ البر يَهدِي إِلَى الجَنَّةِ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَصدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ الله كَذَّابًا». مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Ibnu Ma’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang senantiasa berlaku jujur ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang selalu berdusta akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta.” (Muttafaqun ‘alaih). Continue reading

Tafsir Surat al-Fatihah Ayat 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang menguasai di Hari Pembalasan (QS. Al-Fatihah 1:4)

Sebagian qari’ membaca (مَلِكِ) dan sebagian lagi membaca (مَالِكِ) keduanya adalah bacaan yang shahih mutawatir. Kata (مَالِكِ) diambil dari kata (المِلك-milik) sebagaimana firman Allah ta’ala: Continue reading

Kulit Bangkai

Kulit bangkai binatang dapat menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi, serta kulit hewan yang lahir dari perkawinan silang keduanya atau dari salah satunya.

Dari Abdullah bin Abbas beliau berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

“Apabila kulit telah disamak, maka sungguh ia telah suci.” (HR. Muslim) Continue reading

Sabar (1)

وعن أبي مالكٍ الحارث بن عاصم الأشعريِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمان، والحَمدُ لله تَمْلأُ الميزَانَ، وَسُبْحَانَ الله والحَمدُ لله تَملآن – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَينَ السَّماوَاتِ وَالأَرْضِ، والصَّلاةُ نُورٌ، والصَّدقةُ بُرهَانٌ، والصَّبْرُ ضِياءٌ، والقُرْآنُ حُجةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ. كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائعٌ نَفسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُها». رواه مسلم.

Dari Abu Malik al-Haarits bin ‘Ashim al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersuci adalah setengah dari iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdulillah keduanya memenuhi, atau salah satunya memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah petunjuk, kesabaran adalah sinar, dan al-Qur’an adalah hujjah bagimu (atas amal kebaikanmu) atau hujjah atasmu (karena amal kejelekanmu). Setiap manusia adalah berusaha, maka ada orang yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau menghancurkannya.” (HR. Muslim).

Bahasa Hadits: Continue reading

Tafsir Surat al-Fatihah ayat 3

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS. Al-Fatihah 1:3)

Al-Qurthubi berkata: sesungguhnya Dia mensifati diri-Nya dengan (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) setelah (رَبِّ الْعَالَمِينَ) adalah untuk menghubungkan (الترغيب بالترهيب-penyemangat/dorongan dengan ancaman) sebagaimana firman Allah ta’ala: Continue reading

Jenis – Jenis Air

Jenis – jenis air ada empat macam:

  1. Air yang suci menyucikan dan tidak makruh untuk bersuci. Air ini disebut dengan air muthlak.

Asal tentang kesucian air muthlak adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan yang lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَثَارَ إِلَيْهِ النَّاسُ ليَقَعُوا بِهِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَأَهْرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ أَوْ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Seorang Arab badui kencing di Masjid, maka orang-orang pun segera menuju kepadanya dan menghardiknya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka: “Biarkanlah dia, dan guyurlah air kencingnya dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan bukan untuk mempersulit.” Continue reading