Kenabian

Published by:

Ini adalah pembahasan yang kedua dari pembahasan – pembahasan ilmu tauhid. Pembicaraan di dalamnya adalah mengenai hal – hal yang berhubungan dengan para nabi ‘alaihim as-sholatu wassalam. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai apa saja yang wajib, mustahil, dan boleh bagi para Nabi (semoga sholawat dan salamNya tercurah kepada mereka semua).

Nabi secara syar’i adalah seorang laki – laki yang Allah wahyukan kepadanya hukum syar’i. Sama saja apakah ia diperintahkan untuk menyampaikannya ataukah tidak. Bila ia diperintahkan untuk menyampaikannya maka ia adalah Nabi sekaligus Rasul. Berdasarkan atas hal ini, dapat kami uraikan adanya seorang Nabi yang bukan Rasul yaitu ketika Allah ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam kepada seseorang sehingga Jibril menyampaikan hukum – hukum untuk ia amalkan namun ia tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada yang lainnya. Akan tetapi tidak dapat kami uraikan seorang Rasul yang bukan Nabi karena pada waktu turun wahyu kepadanya berdasarkan hukum syar’i ia telah menjadi seorang Nabi yakni seorang Nabi dan Rasul. Oleh karena itulah kita dapati kaum muslimin menyatakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul dan Nabi. Kita katakan biasanya: “Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. Juga kita katakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda”. Maksud dari kedua ungkapan tersebut adalah sama yaitu al-Habib al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam.

Continue reading

Puasa Berdasarkan Perkataan Ahli Hisab dan Astrolog

Published by:

Tidak boleh menetapkan bulan Ramadhan dengan tanda – tanda yang bersifat dugaan yang dibangun di atas hisab atau pengamatan bintang – bintang. Maka tidak diterima perkataannya ahli astronomi mengenai kemungkinan terlihatnya hilal.

Akan tetapi ahli hisab yang mengikuti tempat – tempat beredarnya bulan dan ukuran perjalanannya, jika kita tidak menetapkan bulan Ramadhan dengan perhitungannya, ia boleh berpuasa bagi dirinya sendiri jika kuat dugaannya masuk bulan Ramadhan. Puasanya ini mencukupi kewajibannya jika telah dipastikan masuk bulan Ramadhan dengan dalil – dalil syar’i.

Yang demikian ini bila ahli hisab tersebut menetapkan bahwa hilal dapat terlihat. Jika ia menetapkan tidak adanya kemungkinan terlihatnya hilal maka hal itu akan kami jelaskan dalam pembahasan selanjutnya mengenai persaksian seseorang yang melihat hilal.

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou

Puasa dan Latihan Pengendalian Diri Untuk Taat Kepada Allah

Published by:

Puasa dan Latihan Pengendalian Diri Untuk Taat Kepada Allah

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ

أما بعد: 

Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

Bulan puasa adalah bulan tarbiyah bagi seorang muslim. Bulan untuk mendidik dan melatih dirinya agar memiliki kelurusan akhlak yang menjernihkan perilakunya dan memperbarui kepribadiannya sehingga ia memperoleh balasan yang baik di dunia dan akhirat.

Dalam satu hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Continue reading

Tata Cara Menetapkan Bulan Ramadhan

Published by:

Sesungguhnya puasa Rammadhan dan penetapan bulan Ramadhan dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut:

Pertama, dengan ru’yatul hilal (melihat hilal) bulan Ramadhan pada malam ke tiga puluh bulan Sya’ban. Bila terlihat hilal pada malam tersebut, maka berarti telah masuk bulan Ramadhan dan wajib berpuasa. Sementara bulan Sya’ban dalam keadaan ini menjadi dua puluh sembilan hari.

Continue reading

Hukum Meninggalkan Puasa

Published by:

Jika seseorang meninggalkan puasa karena adanya udzur, maka tidak apa – apa baginya sebagaimana akan kami sebutkan insya Allah.

Adapun jika seseorang meninggalkan puasa tanpa udzur, bisa jadi ia meninggalkannya karena ia mengingkarinya bisa jadi juga ia meninggalkannya karena ia malas melaksanakannya.

Continue reading

Syarat Wajibnya Puasa Atas Seorang Muslim

Published by:

Disyaratkan pada seorang muslim yang baligh dan berakal hingga wajib atasnya berpuasa adalah ia kuat dan mampu untuk berpuasa. Jika tidak mampu untuk berpuasa karena lemah atau sakit, atau karena udzur – udzur lainnya, maka boleh baginya untuk berbuka dengan hukum – hukum yang akan kami bahas pada pembicaraan mengenai topik tersebut insya Allah.

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou

Puasanya Orang Gila

Published by:

Tidak wajib puasa bagi orang gila yang tetap kegilaannya karena pena juga diangkat (tidak dicatat amalnya) sebagaimana anak kecil.

Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبَرَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ

“Pena diangkat dari tiga orang; orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga besar (baligh) dan orang gila hingga berakal atau sadar.”

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou