Tanda – Tanda Allah Cinta Kepada HambaNya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi.” HR. Bukhari.

Bahasa Hadits: Continue reading

Hukum Berdasarkan Syariat Al-Qur’an

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ * وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ * أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan, dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” QS. Al-Ma’idah: 48-50.

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas beliau berkata: Continue reading

Muhkam Dan Mukhtalif Hadits (المحكم ومختلف الحديث)

Khobar yang diterima dibagi menjadi dua yaitu khobar yang diamalkan dan khobar yang tidak diamalkan. Dari yang demikian itu muncullah dua pembahasan dalam ulumul hadits yaitu: muhkam dan mukhtalif hadits (المحكم ومختلف الحديث), dan nasikh mansukh (الناسيخ والمنسوخ).

Kali ini akan dibahas permasalahan muhkam dan mukhtalif hadits saja, nasikh mansukh akan dibahas pada tulisan lainnya.

1. Definisi al-muhkam.

A. Secara bahasa: al-muhkam adalah isim maf’ul dari ahkama (أحكم) dengan makna mengetahui dengan baik. Continue reading

Hukum Senandung Sholawat Kaum Wanita Di Atas Panggung Sebelum Tabligh Akbar

Persoalan:
Di beberapa tempat terdapat acara keIslaman (tabligh akbar dll) yang diawali dengan penampilan sekelompok kaum wanita membawakan senandung nasyid (nyanyian, sholawat, dsb) diiringi rebana di atas panggung yang disaksikan oleh seluruh jama’ah (laki – laki maupun wanita). Apakah hukum bagi acara yang demikian itu?

Penjelasan:

Bismillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, ‘amma ba’du.

Terkait salah satu rangkaian acara yang ditanyakan, perlu dibahas hal – hal sebagai berikut:

1. Apa hukumnya membaca sholawat sebagai acara pembuka? Continue reading

Nama – Nama Allah Dan Sifat – Sifatnya

Allah ta’ala memiliki sembilan puluh sembilan nama yang terdapat di dalam nash – nash, nama – nama tersebut adalah Asma’ul Husna (nama – nama yang terbaik). Di antaranya ada nama yang agung bagi Allah azza wa jalla yaitu nama yang mencakup makna – makna sifat Allah, nama Dzat yang pengertian – pengertiannya mendalam, luas, dan berfaidah. Maka bagi setiap muslim hendaknya mengenal makna – makna dan pengertian – pengertiannya karena hal itu akan menambah keimanannya. Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” QS. Al-A’raf: 180. Continue reading

Hukum Sholat Berjama’ah Di Masjid Bagi Kaum Wanita

Soal:

Apa hukumnya wanita keluar dari rumahnya menuju ke masjid untuk menghadiri sholat berjama’ah? Dan apa hukumnya adanya tempat khusus di dalam masjid bagi sholat jama’ahnya wanita, bangunannya dibangun menggunakan metode modern serta menggunakan pengeras suara?

Jawab:

Penulis kitab ‘Umdatus Salik wa ‘Uddatun Nasikin dalam Bab Sholatul Jama’ah berkata: makruh hadir ke masjid bagi المُشْتَهَاة atau pemudi (yakni perempuan yang berhasrat kepada laki -laki, umumnya anak perempuan yang berusia 9 tahun ke atas), tidak makruh bagi selain keduanya ketika aman dari fitnah. Continue reading