Balasan Bagi Kaum Mukminin Yang Beramal Shalih – Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 25

Published by:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah 2 : 25).

Setelah Allah ta’ala menuturkan apa yang disediakan-Nya buat musuh-musuh-Nya dari kalangan orang-orang yang celaka —yakni orang-orang yang kafir kepada-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya— berupa siksaan dan pembalasan, maka Allah menyambungnya dengan keadaan kekasih – kekasih-Nya dari kalangan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang yang keimanan mereka dibuktikan dengan amal-amal shalihnya. Continue reading

Taisir Musthalah Hadits – Pembagian Khabar Berdasarkan Penjelasan Sampainya Khabar Tersebut Kepada Kita

Published by:

Khabar terbagi menjadi dua berdasarkan sampainya khabar tersebut kepada kita:

  1. Apabila khabar tersebut memiliki jalur periwayatan tanpa pembatasan jumlah tertentu maka khabar tersebut adalah (mutawatir-المتواتر).
  2. Apabila khabar tersebut memiliki jalur periwayatan yang terbatas dengan jumlah tertentu maka khabar tersebut adalah (ahadالآحاد).

Pada masing – masing jenis khabar tersebut terdapat pembagian – pembagian dan pasal – pasal yang akan dijelaskan dan dijabarkan insya Allah ta’ala.

Maraji’:

Mahmud Ahmad Thahhan. Taisir Musthalah al-Hadits.

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Aqidah/Keyakinan yang Wajib Diyakini Oleh Mukallaf

Published by:

Mukallaf (seseorang yang dibebani tanggung jawab) dalam pandangan ulama’ Syariah Islamiyah adalah: manusia yang dituntut untuk mengerjakan perintah – perintah syariat dan meninggalkan apa yang dilarang oleh syariat yang mulia. Baginya balasan dan pahala atas ketaatan, dan ditimpakan kepada dirinya uqubat/hukuman jika menentangnya. Mukallaf adalah orang yang telah sempurna pada dirinya tiga sifat: baligh, berakal, dan telah sampai dakwah Islamiyah kepadanya.

  1. Baligh: adalah kematangan secara badan. Tanda – tandanya yang dikenal di sisi para dokter dan ahli fiqh yang paling penting yaitu mimpi basah, yakni keluarnya mani, ini pada laki – laki maupun perempuan, dan haid pada perempuan saja. Maka kapan saja tanda – tanda ini tampak pada manusia maka ia telah baligh berapapun umurnya. Ketika tidak tampak tanda – tandanya hingga berusia lima belas tahun dengan hitungan tahun qamariyah, maka ia dianggap telah baligh. Yang demikian itu karena aqal dan kesadaran tidak sempurna sebelum ia baligh. Akan tetapi bagi wali anak kecil hendaknya mengajarkannya kaidah – kaidah aqidah Islamiyah dengan kadar yang layak dengan kondisi anak tersebut, juga memerintahkannya shalat dan ibadah serta menjelaskan kepadanya halal dan haram yang dihadapi dalam kehidupan sehari – harinya.
  2. Aqal: kemampuan untuk memahami perkataan, maka orang yang gila bukanlah mukallaf. Orang bodoh yang tidak memahami makna apa yang dikatakan kepadanya bukanlah mukallaf, akan tetapi diajari sebagaimana anak kecil diajari sesuai dengan kondisinya.
  3. Sampainya dakwah yaitu: dia mengetahui bahwasanya Allah ta’ala telah mengutus seorang Rasul kepada manusia namanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan adalah beliau disifati dengan sifat – sifat yang mulia, telah ditegakkan hujjah bahwasanya dia adalah Rasulullah dengan jelasnya mukjizat yang ada di tangannya. Beliau menyeru kepada manusia agar beriman kepada Allah semata tiada sekutu baginya dan agar mentaati perintah – perintah-Nya. Maka siapa saja yang tidak sampai kepadanya dakwah ini maka dia tidak dituntut untuk beriman dan tidak diadzab atas kekafirannya, mereka adalah orang – orang yang termasuk ahlul fitrah yakni orang – orang yang meninggal sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak sampai kepada mereka dakwah nabi – nabi sebelumnya. Demikian pula orang – orang yang terlahir buta dan tuli, maka tidak mungkin baginya untuk mengetahui diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu tidak dihitung sebagai seorang mukallaf karena dakwah tidak sampai kepadanya. Dalil atas disyaratkannya sampainya dakwah adalah firman Allah ta’ala:

Continue reading

Takbiran di Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha

Published by:

Disunnahkan untuk bertakbir (takbiran) pada dua hari raya. Takbiran pada hari raya Id itu ada dua macam, mursal (atau mutlak) dan muqayyad.

  1. Takbir mursal atau takbir mutlak yaitu takbir yang dilakukan di mana saja baik itu di masjid, di pasar, di jalan, dll dengan mengeraskan suara. Takbir mursal dilakukan pada malam hari raya Id dimulai dari tenggelamnya matahari hingga imam mulai melaksanakan shalat id.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2]:185). Continue reading

Najis

Published by:

Setiap yang mengalir yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) adalah najis kecuali air mani. Dari Anas bin Malik beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَبَرَّزَ لِحَاجَتِهِ أَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فَيَغْسِلُ بِهِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat aku mendatanginya dengan membawa bejana berisi air, sehingga beliau bisa bersuci dengannya.” (HR. Bukhari).

(تَبَرَّزَ لِحَاجَتِهِ): keluar ke tempat buang hajat, yakni tanah kosong/lapang, untuk menunaikan hajatnya dari buang air kecil maupun buang air besar. (فَيَغْسِلُ بِهِ): membasuh bekas sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur. Continue reading

Orang yang Memulai Kebiasaan Baik atau Buruk (1)

Published by:

Dari Abi Amru Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

كُنَّا في صَدْر النَّهارِ عِنْد رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَجاءهُ قوْمٌ عُرَاةٌ مُجْتابي النِّمار أَو الْعَباءِ. مُتَقلِّدي السُّيوفِ عامَّتُهمْ من مضر، بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضرَ، فَتمعَّر وجهُ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، لِما رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقة، فدخلَ ثُمَّ خَرَجَ، فَأَمر بِلالاً فَأَذَّن وأَقَامَ، فَصلَّى ثُمَّ خَطبَ، فَقالَ: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ} إِلَى آخِرِ الآية: {إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً} ،وَالآيةُ الأُخْرَى الَّتِي في آخر الْحشْرِ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ} تَصدَّق رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاع بُرِّه مِنْ صَاعِ تَمرِه حَتَّى قَالَ: وَلوْ بِشقِّ تَمْرةٍ” فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كادتْ كَفُّهُ تَعجزُ عَنْهَا، بَلْ قَدْ عَجزتْ، ثُمَّ تَتابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْميْنِ مِنْ طَعامٍ وَثيابٍ، حتَّى رَأَيْتُ وجْهَ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، يَتهلَّلُ كَأَنَّهُ مذْهَبَةٌ، فَقَالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “مَنْ سَنَّ في الإِسْلام سُنةً حَسنةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وأَجْرُ منْ عَملَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ ينْقُصَ مِنْ أُجُورهِمْ شَيءٌ، ومَنْ سَنَّ في الإِسْلامِ سُنَّةً سيَّئةً كَانَ عَليه وِزْرها وَوِزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بعْده مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزارهمْ شَيْءٌ” رواه مسلم.

Ketika kami berada dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada permulaan siang, tiba-tiba datang segerombongan orang berpakaian lusuh, berpakaian selembar kain yang diselimutkan ke badan mereka sambil meletakkan pedang di leher – leher mereka. Kebanyakan mereka, mungkin seluruhnya berasal dari suku Mudlar. Ketika melihat mereka, wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terharu lantaran kemiskinan mereka. Beliau masuk ke rumahnya dan keluar lagi. Maka disuruhnya Bilal adzan dan iqamah, sesudah itu beliau shalat. Sesudah shalat, beliau berkhutbah. Beliau membacakan firman Allah: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri…, ” hingga akhir ayat, “Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.” kemudian ayat yang terdapat dalam surat Al Hasyr: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…, ” telah bersedekah seorang laki-laki dengan dinar dan dirhamnya, pakaiannya, satu sha’ gandum, satu sha’ kurma sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Meskipun hanya dengan setengah biji kurma.” Maka datanglah seorang laki-laki Anshar membawa sekantong yang hampir tak tergenggam oleh tangannya, bahkan tidak terangkat. Demikianlah, akhirnya orang-orang lain pun mengikuti pula memberikan sedekah mereka, sehingga kelihatan olehku sudah terkumpul dua tumpuk makanan dan pakaian, sehingga kelihatan olehku wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah menjadi bersinar bagaikan emas. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Barangsiapa yang memulai mengerjakan kebiasaan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim). Continue reading

Panduan Sholat Id Madzhab Syafi’i

Published by:

Download Panduan Lengkap Shalat Id Mazhab Syafi’i

Segala puji bagi Allah rabb semesta alam, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan juga para pengikutnya hingga hari akhir kelak.

Pada dasarnya kitab ‘kecil’ yang saya tulis ini adalah kumpulan catatan pribadi saya mengenai pelaksanaan shalat idul fithri maupun shalat idul adha. Meski demikian, semoga saja kumpulan catatan pribadi saya ini juga bisa memberikan manfaat bagi kaum muslimin yang berbahasa Indonesia pada umumnya.

Dalam menyusun kitab ini saya merujuk kepada kitab – kitab mu’tabar mazhab Syafi’i terutama kitab – kitab karya al-Imam an-Nawawi rahimahullah seperti majmu’ syarah al-Muhadzdzab, Khulashatul Ahkam, Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, dll. Begitu juga kitab – kitab fiqh mazhab Syafi’i kontemporer seperti Fiqh al-Manhaji karya Dr. Musthafa Dib al-Bugha dkk.

Semoga saja Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita semua sebagai orang yang faqih terhadap agamaNya dan mampu mengamalkannya dengan segenap kemampuan yang diberikan olehNya.

Apabila ada kritik, saran, dan koreksi, silahkan melayangkannya melalui alamat email admin@alqolam.web.id.

Depok, 9 Dzulhijjah 1434H,

Abu Harits Abdurrahman