Terjemah Nukhbah Al-Fikr (Pendapat Pilihan Dalam Istilah Ahli Hadits)

Published by:

Download: Pendapat Pilihan Dalam Istilah Ahli Hadits Terjemah Nukhbah al-Fikr

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أَشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمدٍ وعلى آله وأصحابه والمهتدين بهدْيه إلى يوم الدين

Segala puji bagi Allah rabb semesta alam, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarganya, sahabat – sahabatnya, dan orang – orang yang mendapat petunjuk dengan perkataannya hingga hari kiamat kelak.

Alhamdulillah akhirnya selesai juga penerjemahan kitab Nukhbah al-Fikr ini dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Sebuah kitab yang mungil namun padat berisi yang mengulas ringkasan istilah – istilah dalam bidang periwayatan hadits. Kitab ini adalah salah satu kitab pendahuluan kepada luasnya ilmu mustholah al-hadits yang dibahas panjang lebar dalam kitab yang lain.

Semoga terjemah kitab Nukhbah al-Fikr ini bermanfaat bagi kami, keluarga kami, dan juga bagi kaum muslimin di Indonesia pada umumnya hingga yaumil akhir kelak.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

 

Tangerang Selatan,

21 Ramadhan 1437 H

 

 

Abu Harits Abdurrahman

Tantangan Bagi Orang – Orang yang Ingkar Untuk Membawakan Semisal Surat Al-Qur’an Yang Paling Pendek – Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 23-24

Published by:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang memang benar. Maka jika kalian tidak dapat membuat(nya) dan pasti kalian tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah 2 : 23-24).

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan penetapan masalah kenabian sesudah menetapkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Untuk itu, Allah mengarahkan seruan-Nya kepada orang-orang kafir melalui firman-Nya: Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – Hukum Tentang Ilmu Ushulluddin (Pokok – Pokok Agama)

Published by:

Ilmu adalah pengetahuan mengenai hakikat sesuatu. Maka barangsiapa misalnya meyakini bahwasanya sholat dhuhur itu empat rakaat maka sungguh dia telah mengetahui hukum syar’i tersebut. Barangsiapa yang tidak mengetahui jumlah rakaat sholat dhuhur maka dia jahil (tidak tahu) terhadap hukum tersebut. Akan tetapi tingkat kejahilannya adalah basith (sederhana) yakni tidak berlipat – lipat. Barangsiapa yang meyakini bahwasanya sholat dhuhur itu tiga rakaat maka dia jahil terhadap hukum tersebut jahil yang murakkab (kebodohan yang rangkap) yakni kebodohan yang berlipat – lipat, karena ia bodoh namun tidak menyadari bahwa ia bodoh.

Barangsiapa yang meyakini bahwasanya Allah ta’ala pencipta segala sesuatu maka dia ‘Alim (berpengetahuan) terhadap masalah tersebut. Barangsiapa yang mengatakan: saya tidak tahu siapa yang menciptakan segala sesuatu, maka dia jahil terhadap masalah tersebut dengan kejahilan yang tidak berlipat – lipat. Barangsiapa yang meyakini bahwasanya segala sesuatu terwujud dari tiada wujud maka dia dalam hal ini jahil murakkab atau bodoh yang berlipat – lipat.

Ushuluddin Islami: adalah keyakinan – keyakinan yang berdiri di atasnya agama Islam ini. Maksud dari keyakinan – keyakinan di sini adalah hal – hal yang dibenarkan oleh seorang muslim dengan pembenaran yang pasti (tashdiqan jaziman). Sama saja apakah dalilnya adalah qath’I (pasti) atau dhanni (dugaan atau di bawah derajat pasti). Adapun perkataan sebagian ulama: “Sesungguhnya dalam masalah aqidah tidak diterima kecuali dalil yang mutawatir (qath’i)”, sesungguhnya yang dimaksud dengan aqidah dalam kaidah ini adalah apa – apa yang menjadikan seseorang kafir ketika mengingkarinya. Akan kami sampaikan penjelasan mengenai kaidah ini insya Allah ta’ala pada penjelasan makna al-iman. Continue reading

Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq: Nama, Nasab, dan Julukannya

Published by:

Ia adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib al-Qurasyiy At-Taimiy.[1] Nasabnya bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada kakek keenam, yaitu Murrah bin Ka’ab.[2]

Ia mendapatkan julukan atau nama panggilan Abu Bakar, yang berasal dari kata al-bikru yang berarti unta muda. Bentuk pluralnya adalah Bakaarah dan Abkur. Orang – orang Arab menamai Bakar bila ia seorang ayah dari suatu kabilah yang besar.[3]

Abu Bakar mendapatkan banyak gelar, yang semuanya menunjukkan keluhuran martabat dan derajat, serta kemuliaan kedudukannya. Di antaranya adalah:

  1. Al-Atiq

Gelar ini diberikan kepadanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pernah bersabda kepadanya:

أَنْتَ عَتِيقُ اللهِ مِنَ النَّارِ

“Engkau adalah orang yang dibebaskan Allah dari api neraka.” Continue reading

Tayammum

Published by:

Syarat – syarat tayammum ada lima:

  1. Adanya udzur karena safar atau sakit.

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا

Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah. (QS. Al-Maidah 5 : 6).

Dari Imran bin Hushain al-Khuzai: Continue reading

Larangan Tentang Bid’ah dan Perkara yang Baru (1)

Published by:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أحْدَثَ في أمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ .مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. وفي رواية لمسلم: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيهِ أمرُنا فَهُوَ رَدٌّ.

“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”. Muttafaqun ‘Alaih. Di dalam riwayat Muslim:

“Barangsiapa mengamalkan suaru perkara yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.”

Bahasa Hadits:

(في أمْرِنَا) di dalam agama kami.

(رَدٌّ) tertolak, tidak berpaling kepadanya dan tidak beramal dengannya.

Faidah Hadits: Continue reading

Perintah Untuk Menyembah Allah Semata Dan Bukti – Bukti Adanya Allah – Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 21-22

Published by:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (QS. Al-Baqarah 2 : 21-22).

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang sifat uluhiyyah-Nya (ketuhanan-Nya) Yang Esa, bahwa Dialah yang memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka dari tiada ke alam wujud. Kemudian Allah melimpahkan kepada mereka segala macam nikmat lahir dan batin yaitu dengan menjadikan bagi mereka bumi sebagai hamparan yakni bentangan seperti tempat tidur, diperkokoh kestabilannya dengan gunung-gunung yang tinggi lagi besar; dan Dia menjadikan langit sebagai atap, sebagaimana disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya: Continue reading