Peran Orang Tua Dalam Mempersiapkan Anak Untuk Gemilang di Usia Belia

Published by:

Setelah memasuki jenjang pernikahan, sudah sewajarnya bagi pasangan suami istri untuk memiliki buah keturunan sebagai sebuah fitrah manusia. Sebuah fitrah yang menjadikan orang tua bergembira karena datangnya buah hati tersebut sebagai perhiasan dunia di samping adanya harta. Allah berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al-Kahfi 18 : 46).

Setelah bergembira dengan datangnya buah hati dalam sebuah keluarga, setiap keluarga juga pastinya menginginkan agar anaknya kelak menjadi anak yang sukses secara gemilang. Bagi umat Islam, tentunya kesuksesan yang hakiki adalah ketika seorang anak sukses di dunia dan akhirat sebagaimana doa sapu jagat yang senantiasa dibaca dalam setiap kesempatan: Continue reading

Al-Ajurumiyyah – I’rab

Published by:

اَلْإِعْرَابُ

I’rab

اَلْإِعْرَابُ هُوَ تغيير أَوَاخِرِ اَلْكَلِمِ لِاخْتِلَافِ اَلْعَوَامِلِ اَلدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا لَفْظًا أَوْ تَقْدِيرًا.

I’rab adalah perubahan (bunyi) akhir kata karena perbedaan amil yang masuk kepadanya secara lafadz maupun secara taqdir (diperkirakan keberadaannya).

Amil adalah lafadz maupun makna yang mempunyai ‘amal (tugas) terhadap kalimah lain, sehingga menyebabkan suatu kalimah menjadi marfu’, manshub, majrur (khusus pada isim), atau majzum (khusus pada fi’il).

Contoh:

حَضَرَ مُحَمَّدٌ– Muhammad telah hadir. Muhammad di sini kedudukannya adalah marfu’ karena sebagai fail (subjek).

رَاَيْتُ مُحَمَّدًا – Aku telah melihat Muhammad. Muhammad di sini kedudukannya adalah manshub karena sebagai maf’ul (objek). Continue reading

Hadits Aziz (العزيز)

Published by:

  1. Definisinya:
  • Secara bahasa: adalah sifat musyabbahah (sifat yang dibentuk dari Masdar Tsulati Lazim, sebagai penunjukan suatu makna yang menetap pada yang disifati secara tetap), dari kata (عَزَّ يَعِزُّ) dengan harokat kasrah yang bermakna sedikit dan jarang, atau berasal dari (عَزَّ يَعَزُّ) dengan harokat fathah yang bermakna kuat dan menjadi kuat. Dinamakan demikian mungkin karena hadits tersebut sedikit ataupun jarang, dan mungkin karena kuatnya hadits tersebut karena datang dari jalan yang lainnya.
  • Secara istilah: adalah hadits yang diriwayatkan oleh tidak kurang dari dua orang dalam seluruh tingkatan sanad.

 

  1. Penjelasan Definisi

Yakni dalam suatu tingkatan sanad dari seluruh tingkatan sanad tidak ada yang kurang dari dua orang, adapun ketika dalam sebagian tingkatan sanad terdapat tiga orang atau lebih yang meriwayatkan maka hal itu tidaklah mengapa dengan syarat terdapat tingkatan meski hanya satu tingkatan yang di dalamnya hanya terdapat dua orang perawi. Hal ini karena penjelasan sedikitnya tingkatan atau thobaqat itu dari seluruh tingkatan sanad. Continue reading

Rukun – Rukun Islam dan Pondasinya yang Agung

Published by:

عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول: بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Dari Abi Abdurrahman Abdullah bin Umar bin al-Khattab radhiyallahu ta’ala ‘anhuma beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam dibangun diatas lima hal; persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan”. HR. Muslim.

Kedudukan Penting Hadits Ini

Hadits arkanul Islam ini adalah hadits yang sangat agung sekali. Hadits ini adalah salah satu qaidah – qaidah Islam dan pengumpul hukum – hukumnya, di dalamnya terdapat pengenalan terhadap agama dan apa – apa yang menjadi sandarannya serta kumpulan rukun – rukunnya. Rukun – rukun ini telah ditetapkan di dalam al-Qur’an al-Karim. Continue reading

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah – Makna Iman

Published by:

Makna iman secara Bahasa adalah at-tashdiq (pembenaran), at-tashdiq itu sendiri adalah ketundukan terhadap hukumnya, menerimanya, dan mengakuinya. Kata iman diambil dari kata al-amnu (aman) yang merupakan lawan kata dari al-khauf (takut). Hal ini karena siapa yang mempercayai terhadap suatu hukum maka ia selamat dari pendustaan atau ingkar kepadanya. Maka ketika kita katakan: (Muhammad Rasulullah) artinya kita berhukum dengan risalahnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, barangsiapa yang membenarkan dan tunduk terhadap hukum ini maka ia telah beriman/mukmin dengannya.

Adapun makna iman secara istilah ahli syariat adalah apa – apa yang menyelamatkan orang yang mempercayainya dari kekekalan di dalam api neraka dan memperoleh kemenangan dengan berada di surga selama – lamanya walaupun pernah diadzab di neraka dalam beberapa masa. Untuk mengetahui makna yang dalam mengenai keimanan ini kami perlihatkan gambaran keadaan manusia secara nyata, dengan menyebutkannya secara kontradiktif sehingga tampak perbedaan segala sesuatunya sebagai berikut: Continue reading

Sholat Wajib dan Waktu – Waktunya

Published by:

Sholat yang diwajibkan itu ada lima: (zhuhur, ashar, maghrib, isya’, dan subuh).

Asal disyariatkannya sholat adalah:

  1. Ayat – ayat al-Qur’an di antaranya:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa’ 4 : 103).

  1. Hadits – hadits di antaranya:

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. HR. Bukhari dan Muslim.

Dalam hadits al-isra’:

فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلَاةً …… فَرَاجَعْتُ رَبِّي فَقَالَ هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ

“Lalu Allah memfardhukan shalat lima puluh waktu atas umatku.’……..”Lalu aku kembali pada Rabbku.’ Maka Allah berkata, ‘Ia lima waktu, dan ia lima puluh waktu. Perkataan tersebut tidak diganti di sisiku.’ HR. Bukhari dan Muslim.

( خَمْسٌ) lima waktu yakni dari sisi perbuatan. (خَمْسُونَ) lima puluh waktu yakni dari sisi pahala. Continue reading

Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar (1)

Published by:

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Bahasa Hadits:

(رَأَى) Melihat. Maksudnya mengetahui, karena menganggap sesuatu itu sebagai kemungkaran harus didasarkan pada pengetahuan, baik ia melihat atau tidak. Continue reading