Keutamaan dan Anjuran Dzikir – Subhanallah Wa Bihamdihi

Published by:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Dari Abu Hurairah menuturkan; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan disukai Arrahman, Subhanallah wabihamdihi (Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya) dan Subhaanallahil ‘azhiim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung).” HR. Bukhari dan Muslim.

Hadits ini menjelaskan anjuran untuk berdzikir kepada Allah dengan menyucikan-Nya, memuji-Nya, dan mengagungkannya. Dzikir – dzikir ini lebih baik daripada dunia karena ia termasuk amal – amal akhirat dan pahalanya tidak pernah habis dan terputus. Sementara dunia itu pasti lenyap.

Keutamaan Sholawat Kepada Nabi

Published by:

عن عبد الله بن عمرو بن العاص، رضي الله عنهما: أنَّه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)). رواه مسلم

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma: bahwasanya beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membacakan satu sholawat untukku, maka dengannya Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali”. HR. Muslim.

Makna sholawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia memuji dan mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat, di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk.

Berkumpullah Dengan Orang – Orang Sholeh!

Published by:

Kitab Riyaadhus Shaalihiin Bab Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Setiap Perbuatan & Perkataan Baik yang Tampak Maupun yang Tersembunyi (Hadits kedua)

وعن أمِّ المؤمِنينَ أمِّ عبدِ اللهِ عائشةَ رضي الله عنها، قالت: قالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم: «يغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وآخِرِهِمْ».

قَالَتْ: قلتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ يُخْسَفُ بأوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهمْ أسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ؟! قَالَ: «يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيّاتِهمْ». مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. هذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ.

Dari Ummul Mukminin, ibunda Abdullah, Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada satu pasukan yang hendak menghancurkan Ka’bah. Setelah mereka berada di suatu padang pasir, maka mereka dibenamkan ke tanah dari yang pertama sampai yang terakhir dari mereka”. Aisyah bertanya, “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedang di antara mereka itu ada para pedagang dan juga orang yang bukan termasuk golongan mereka?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya, semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka itu akan dibangkitkan dari kuburnya masing – masing sesuai niat-niatnya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim, hadits ini menurut lafadz Bukhari).

Bahasa Hadits: Continue reading

Makna Islam

Published by:

Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwasanya Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai iman di depan para pendengar dari kalangan para sahabat, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruknya.”

Kemudian Jibril bertanya mengenai Islam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Continue reading

Syarat – Syarat Wajibnya Sholat (Hal – Hal yang Menjadikan Seseorang Wajib Menunaikan Sholat)

Published by:

Syarat – syarat wajibnya sholat (lima waktu) ada tiga hal:

  1. Islam.
  2. Baligh.
  3. Berakal.

Itulah tiga hal batasnya taklif (pembebanan hukum) sholat. Yakni ketika terdapat ketiga hal tersebut di atas maka terdapat kewajiban untuk sholat serta melaksanakan hukum – hukum cabang syariah yang lainnya, dan ketika tidak terdapat ketiga hal tersebut maka hilanglah beban taklif.

Dalil atas syarat Islam adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman dan beliau bersabda: Continue reading

Beratnya Hukuman Bagi Orang yang Beramar Makruf dan Nahi Mungkar Namun Ia Sendiri Tidak Mengerjakannya

Published by:

Dari Abu Zaid Usamah bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُؤْتَى بالرَّجُلِ يَوْمَ القيَامَةِ فَيُلْقَى في النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أقْتَابُ بَطْنِهِ فَيدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ في الرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْه أهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلانُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُ تَأمُرُ بالمعْرُوفِ وَتنهَى عَنِ المُنْكَرِ؟ فَيقُولُ: بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بِالمَعْرُوفِ وَلا آتِيهِ، وأنْهَى عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Akan didatangkan seorang laki – laki pada hari Kiamat, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka, lalu keluarlah isi perutnya. Lalu orang itu berputar – putar pada isi perutnya, sebagaimana seekor keledai mengelilingi gilingan. Para ahli neraka berkumpul di sekelilingnya dan bertanya, ‘Mengapa engkau ini, hai fulan? Bukankah engkau dahulu suka memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Benar, aku dahulu memerintahkan kepada kebaikan, tetapi aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarang kemungkaran tetapi aku sendiri mengerjakannya’”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahasa Hadits: Continue reading

Silih Bergantinya Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi – Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 30

Published by:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah 2 : 30).

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perihal anugerah-Nya kepada Bani Adam, yaitu sebagai makhluk yang mulia; mereka disebutkan di kalangan makhluk yang tertinggi —yaitu para malaikat— sebelum mereka diciptakan. Untuk itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Continue reading