Melaksanakan Hukum – Hukum Kepada Manusia Sesuai Zhahirnya

Published by:

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada tuhan kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.” HR. Bukhari dan Muslim.

Bahasa Hadits:

Continue reading

Sebagian Dalil – Dalil Adanya Allah Ta’ala Dan KeEsaannya

Published by:

Alam semesta adalah segala sesuatu selain Allah. Alam semesta tersusun atas jism (benda atau tubuh) dan a’radh (karakteristik dari benda). Semuanya itu ada dari ketiadaan. Allah lah yang mewujudkannya dan menciptakannya sendiri. Allah ta’ala berfirman:

وَهُوَ ٱلَّذِی یَبۡدَؤُا۟ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ یُعِیدُهُ

“Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali”. QS. Ar-Rum: 27.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai permulaan urusan ini (penciptaan makhluk). Beliau bersabda:

Continue reading

Orang Yang Murtad Akan Diganti Dengan Kaum Yang Lebih Baik

Published by:

Allah ta’ala berfirman:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَن یَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَسَوۡفَ یَأۡتِی ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ یُحِبُّهُمۡ وَیُحِبُّونَهُۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ یُجَـٰهِدُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَلَا یَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَاۤىِٕمࣲۚ ذَ ٰ⁠لِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” QS. Al-Ma’idah: 54.

Riddah (الردة) adalah kembali dari Islam kepada kekufuran atau kepada selain agama, atau meninggalkan salah satu rukun dari rukun – rukun Islam, seperti meninggalkan menunaikan zakat, secara terang – terangan dan teguh pendirian.

Continue reading

Kenabian

Published by:

Ini adalah pembahasan yang kedua dari pembahasan – pembahasan ilmu tauhid. Pembicaraan di dalamnya adalah mengenai hal – hal yang berhubungan dengan para nabi ‘alaihim as-sholatu wassalam. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai apa saja yang wajib, mustahil, dan boleh bagi para Nabi (semoga sholawat dan salamNya tercurah kepada mereka semua).

Nabi secara syar’i adalah seorang laki – laki yang Allah wahyukan kepadanya hukum syar’i. Sama saja apakah ia diperintahkan untuk menyampaikannya ataukah tidak. Bila ia diperintahkan untuk menyampaikannya maka ia adalah Nabi sekaligus Rasul. Berdasarkan atas hal ini, dapat kami uraikan adanya seorang Nabi yang bukan Rasul yaitu ketika Allah ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam kepada seseorang sehingga Jibril menyampaikan hukum – hukum untuk ia amalkan namun ia tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada yang lainnya. Akan tetapi tidak dapat kami uraikan seorang Rasul yang bukan Nabi karena pada waktu turun wahyu kepadanya berdasarkan hukum syar’i ia telah menjadi seorang Nabi yakni seorang Nabi dan Rasul. Oleh karena itulah kita dapati kaum muslimin menyatakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul dan Nabi. Kita katakan biasanya: “Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. Juga kita katakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda”. Maksud dari kedua ungkapan tersebut adalah sama yaitu al-Habib al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam.

Continue reading

Puasa Berdasarkan Perkataan Ahli Hisab dan Astrolog

Published by:

Tidak boleh menetapkan bulan Ramadhan dengan tanda – tanda yang bersifat dugaan yang dibangun di atas hisab atau pengamatan bintang – bintang. Maka tidak diterima perkataannya ahli astronomi mengenai kemungkinan terlihatnya hilal.

Akan tetapi ahli hisab yang mengikuti tempat – tempat beredarnya bulan dan ukuran perjalanannya, jika kita tidak menetapkan bulan Ramadhan dengan perhitungannya, ia boleh berpuasa bagi dirinya sendiri jika kuat dugaannya masuk bulan Ramadhan. Puasanya ini mencukupi kewajibannya jika telah dipastikan masuk bulan Ramadhan dengan dalil – dalil syar’i.

Yang demikian ini bila ahli hisab tersebut menetapkan bahwa hilal dapat terlihat. Jika ia menetapkan tidak adanya kemungkinan terlihatnya hilal maka hal itu akan kami jelaskan dalam pembahasan selanjutnya mengenai persaksian seseorang yang melihat hilal.

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou

Puasa dan Latihan Pengendalian Diri Untuk Taat Kepada Allah

Published by:

Puasa dan Latihan Pengendalian Diri Untuk Taat Kepada Allah

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ

أما بعد: 

Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

Bulan puasa adalah bulan tarbiyah bagi seorang muslim. Bulan untuk mendidik dan melatih dirinya agar memiliki kelurusan akhlak yang menjernihkan perilakunya dan memperbarui kepribadiannya sehingga ia memperoleh balasan yang baik di dunia dan akhirat.

Dalam satu hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Continue reading

Tata Cara Menetapkan Bulan Ramadhan

Published by:

Sesungguhnya puasa Rammadhan dan penetapan bulan Ramadhan dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut:

Pertama, dengan ru’yatul hilal (melihat hilal) bulan Ramadhan pada malam ke tiga puluh bulan Sya’ban. Bila terlihat hilal pada malam tersebut, maka berarti telah masuk bulan Ramadhan dan wajib berpuasa. Sementara bulan Sya’ban dalam keadaan ini menjadi dua puluh sembilan hari.

Continue reading