Larangan Berdzikir Dan Berbicara Di Dalam Toilet

Makruh berdzikir dan berbicara ketika menunaikan hajat, sama saja baik itu di padang pasir atau di dalam bangunan. Sama saja pada yang demikian itu seluruh dzikir – dzikir atau pembicaraan kecuali pembicaraan yang darurat hingga sebagian sahabat Imam Nawawi berkata: jika bersin (di dalam toilet) jangan mengucapkan alhamdulillah, jangan mendoakan orang yang bersin, jangan menjawab salam, jangan menjawab muadzin, seseorang yang mengucapkan salam saat itu adalah tidak sopan, tidak berhak untuk mendapatkan jawaban. Semua pembicaraan ini adalah makruh tanzih (ringan), tidak haram. Maka bila seseorang bersin di dalam toilet, cukup mengucapkan alhamdulillah di dalam hatinya, tidak perlu menggerakkan lisannya, hal ini tidaklah mengapa. Demikian juga saat ia dalam kondisi berjima’.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: Continue reading

Makna – Makna Sifat Dzat Ilahiyah Dan Perbuatan – Perbuatan Yang Berasal Dari Allah Ta’ala

Bagi Dzat Ilahiyyah terdapat sifat – sifat yang berjumlah dua puluh delapan yang berkaitan dengan sifat qudrah, ilmu, sama’, bashar, hayah, baqa’, dan kalam.

Bagi Allah ta’ala juga terdapat sifat – sifat perbuatan yang berjumlah empat puluh tiga sebagaimana telah dibahas sebelumnya.

Adapun makna – makna sifat – sifat Dzat ilahiyah yang berhubungan dengan sifat Qudrah adalah sebagai berikut:

1. Al-Qāhir (القَاهِر) (Maha Berkuasa Mutlak), yakni yang menang.
2. Al-Qahhar (القَهَّار) (Maha Mengalahkan), yakni yang tidak dikalahkan dan tidak dikuasai. Continue reading

Kaum Mu’minin Dapat Melihat Allah Ta’ala Di Akhirat

Termasuk aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah ta’ala itu dapat dilihat oleh kaum mu’minin di akhirat dan bahwasanya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihatNya di dunia pada malam isra’ dan mi’raj.

Kelompok mu’tazilah menyelisihi hal ini seluruhnya. Syiah Imamiyah dan Ibadhiyah juga yang semisal dengan kelompok – kelompok tersebut. Berikut ini adalah hujjah – hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan kelompok – kelompok tersebut:

Kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah berhujjah dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun dalil dari al-Qur’an adalah sebagai berikut: Continue reading

Tata Cara Menguburkan Jenazah

1. Jenazah dikuburkan dalam liang lahat dengan menghadap ke kiblat.

Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash berkata di waktu sakit yang menyebabkan kematiannya:

الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Buatkan bagiku lahad dan susunkan batu-batu di atas kuburanku sebagaimana yang diperbuat pada kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR. Muslim.

Lahad itu adalah celah di bagian bawah samping arah kiblat dari kubur. Continue reading

Peringatan Agar Tidak Menyakiti Orang Yang Sholih

Dari Jundab bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah, oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu dari kalian sebagai imbalan jaminan-Nya, sehingga Allah menangkapnya dan menyungkurkannya ke dalam neraka jahannam.” HR. Muslim. Continue reading

Menjadikan Orang Kafir (Kaum Yahudi dan Nasrani) Sebagai Wali (Sebagai Penolong, Sekutu)

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ * فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ * وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۚ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu) [wali, penolong atau sekutu]; mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia [wali, penolong atau sekutu], maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau suatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan berkata, “Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu?” Segala amal mereka menjadi sia-sia, sehingga mereka menjadi orang yang rugi.” QS. Al-Ma’idah: 51-53.

Sebab Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul) Continue reading