Bulan Yang Wajib Untuk Berpuasa

Bulan yang wajib untuk berpuasa adalah saat bulan Ramadhan berdasarkan firman Allah ta’ala:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ فِیهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدࣰى لِّلنَّاسِ وَبَیِّنَـٰتࣲ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡیَصُمۡهُ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.” QS. Al-Baqarah: 185.

Tidak wajib berpuasa di luar bulan Ramadhan berdasarkan pokok syariat yaitu ijma’. Yang demikian itu karena apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat seorang Arab Badui bertanya kepadanya mengenai Islam sehingga beliau menjawab “Dan berpuasa di bulan Ramadhan”. Arab Badui itu kemudian bertanya: “Apakah atasku ada yang lainnya?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak, kecuali puasa sunnah”.

Dikecualikan, bila ia wajib berpuasa karena sebab – sebab yang jelas seperti puasa kafarat, denda karena membunuh binatang buruan saat ihram, dan sebagainya.

Adapun hukum – hukum puasa dan atas siapa saja puasa itu wajib, akan kami jelaskan sebentar lagi.

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou

Pengertian Puasa (الصيام)

Arti puasa (الصيام) secara bahasa adalah menahan (الإمساك). Digunakan pada setiap hal yang bersifat menahan. Dikatakan: (صام) ketika diam. Dikatakan: (صامت الخيل) ketika kuda itu berhenti. Sebagaimana juga dikatakan: (صام) ketika menahan diri dari berbicara. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala:

إِنِّی نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَـٰنِ صَوۡمࣰا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡیَوۡمَ إِنسِیࣰّا

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” QS. Maryam: 26.

Adapun arti puasa (الصيام) secara syar’i adalah menahan yang tertentu, dari sesuatu yang tertentu, pada waktu tertentu, dan oleh seseorang yang tertentu.

Sesuatu yang tertentu yang menahan diri dari melakukannya adalah yang membatalkan puasa sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Waktu yang tertentu adalah hari puasa, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Rujukan:

Fiqih As-Shiyam oleh Dr. Muhammad Hasan Hitou

Banjir Itu Disebabkan Oleh Kemaksiatan Manusia

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِی ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَیۡدِی ٱلنَّاسِ لِیُذِیقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِی عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” QS. Ar-Rum: 41.

Tafsir Al-Muyassar

ظهر الفساد في البر والبحر، كالجدب وقلة الأمطار وكثرة الأمراض والأوبئة وذلك بسبب المعاصي التي يقترفها البشر ليصيبهم بعقوبة بعض أعمالهم التي عملوها في الدنيا كي يتوبوا إلى الله -سبحانه- ويرجعوا عن المعاصي، فتصلح أحوالهم، وتستقيم أمورهم.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, seperti kekeringan pertanian, sedikitnya hujan, banyaknya penyakit – penyakit dan wabah – wabah. Yang demikian itu disebabkan oleh kemaksiatan – kemaksiatan yang diperbuat oleh manusia agar mereka ditimpa balasan atas sebagian perbuatan – perbuatan yang mereka kerjakan di dunia sedemikian sehingga mereka bertaubat kepada Allah subhanahu dan mereka kembali dari perbuatan maksiat. Sehingga keadaan mereka menjadi baik dan urusan mereka menjadi lurus.

Continue reading

Menghidupkan Malam Lailatul Qodar Adalah Bagian Dari Iman

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan lailatul qodar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” HR. Bukhari.

Penjelasan Lafadz – Lafadz Hadits

Continue reading

Tafsir Surat Al-Ashr ~ Pesan – Pesan Kehidupan

Surat ini adalah Surat Makkiyah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ وَٱلۡعَصۡرِ * إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ * إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ

“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” QS. Al-Ashr: 1-3.

At-Thabrani menyebutkan riwayat dari Ubaidullah bin Hafs beliau berkata: ada dua orang laki – laki dari sahabat Rasulullah ketika keduanya bertemu tidak berpisah kecuali salah satunya membaca kepada yang lainnya Surat Al-Ashr hingga akhir surat. Kemudian salah satunya mengucapkan salam kepada yang lainnya.

Continue reading

Tanda – Tanda Kaum Munafiq Itu Ada Empat

Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru ia melampaui batas”. HR. Bukhari.

Penjelasan Hadits

Continue reading

Pengumpat Dan Pencela Manusia Serta Balasannya

Tafsir Surat Al-Humazah

Surat ini adalah surat Makkiyah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ وَیۡلࣱ لِّكُلِّ هُمَزَةࣲ لُّمَزَةٍ * ٱلَّذِی جَمَعَ مَالࣰا وَعَدَّدَهُۥ * یَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥۤ أَخۡلَدَهُۥ * كَلَّاۖ لَیُنۢبَذَنَّ فِی ٱلۡحُطَمَةِ * وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ * نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ * ٱلَّتِی تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ * إِنَّهَا عَلَیۡهِم مُّؤۡصَدَةࣱ * فِی عَمَدࣲ مُّمَدَّدَةِۭ

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huthamah. Dan tahukah kamu apakah (neraka) Huthamah itu? (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” QS. Al-Humazah: 1-9.

Al-hammaz (الْهَمَّازُ) adalah pencela dengan perkataan, sedangkan al-lammaz (اللَّمَّازُ) adalah pencela dengan perbuatan, yakni menghinakan manusia dan mencela mereka. Ibnu Abbas berkata: (هُمَزَةࣲ لُّمَزَةٍ) adalah suka mencela. Ar-Rabi’ bin Anas berkata: al-humazah adalah menusuk di wajahnya sedangkan al-lumazah adalah menusuk dari belakang. Qatadah berkata: al-humazah dan al-lumazah adalah mencela dengan lisan dan matanya, ia memakan daging manusia dan mencela mereka. Mujahid berkata: al-humazah itu mencela dengan tangan dan mata, sedangkan al-lumazah itu mencela dengan lisan.

Continue reading