Nama – Nama Allah Dan Sifat – Sifatnya

Allah ta’ala memiliki sembilan puluh sembilan nama yang terdapat di dalam nash – nash, nama – nama tersebut adalah Asma’ul Husna (nama – nama yang terbaik). Di antaranya ada nama yang agung bagi Allah azza wa jalla yaitu nama yang mencakup makna – makna sifat Allah, nama Dzat yang pengertian – pengertiannya mendalam, luas, dan berfaidah. Maka bagi setiap muslim hendaknya mengenal makna – makna dan pengertian – pengertiannya karena hal itu akan menambah keimanannya. Allah ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” QS. Al-A’raf: 180.

Setiap muslim hendaknya juga mengenal sifat – sifat Allah ta’ala agar keimanannya shahih. Sifat – sifat ini adalah bahwasanya Ia adalah tuhan yang maujud (ada), qadim (ada sejak dahulu), terus ada dan tidak fana. Allah ta’ala berfirman:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. Al-Hadid: 3.

Dia adalah tuhan yang satu, satu – satunya tempat meminta segala sesuatu, Dzat yang kekal abadi, Ia adalah Dzat yang tak terbagi – bagi, Ia bukanlah jauhar (esensi/inti) dan bukan pula ‘aradh (indikasi), Ia bukanlah jism atau jasad, Ia berdiri sendiri, Ia tidak butuh kepada yang lainnya, Ia Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, Ia berfirman, Ia terus hidup, terus berkuasa, terus mengetahui, terus berkehendak, terus mendengar, terus melihat, terus dapat berfirman, Ia senantiasa memiliki sifat – sifat tersebut, sifat – sifat-Nya tidak menyerupai sedikitpun sifat – sifat makhluk yang diciptakan-Nya.

Jangan katakan sifat dzat itu adalah dzat itu sendiri bukan selainnya, tidaklah sifat dzat itu dzat dan selain dzat. Jangan memisahkannya atau membagi -baginya (seperti kaum mu’tazilah yang mengatakan bila Allah memiliki sifat yang qadim, berarti Allah itu berbilang karena berbilangnya yang qadim). Akan tetapi itu adalah sifat baginya sejak azali. Sifat Allah itu abadi ada padanya. Sifat – sifat itu ada dengan adanya Dia, terus menerus ada, bukan indikasi – indikasi, tidak baru ada, tidak berbentuk anggota tubuh, tidak dapat dibahas bagaimananya dalam benak pikiran, dan tidak dapat dimisalkan dalam pikiran.

Maka qudrahnya Allah itu berlaku bagi segala sesuatu yang dikuasai, ilmuNya berlaku bagi segala sesuatu yang diketahui, kehendakNya berlaku bagi segala kehendak, tidak ada yang dapat terjadi kecuali atas kehendakNya dan tidak dikehendakiNya segala sesuatu yang tidak terjadi dari kejadian – kejadian yang mustahil.

Ia Maha Tinggi dari batas – batas, arah, dan tujuan. Ia Maha Kaya dari tempat – tempat dan zaman, Ia tidak butuh kepada sesuatu, tidak ada yang dapat menyentuhnya baik itu manfaat -manfaat ataupun bahaya -bahaya. Ia tidak diikuti dengan rasa lezat, pendorong dan syahwat. Tidak ada sesuatupun yang boleh bagiNya segala sifat yang boleh bagi makhluk.

Hal ini maknanya adalah bahwa Allah ta’ala tidak boleh disifati dengan pergerakan dan diam, berkumpul dan berpisah, bersebelahan dan berhadapan, bersentuhan dan berdekatan, tidak ada yang baru ada padaNya, tidak batal sifat azaliyah dariNya, tidak ada padaNya sebuah ketiadaan atau kefanaan secara mutlak.

Mustahil bagiNya memiliki anak, istri, sekutu, Ia berkuasa untuk mematikan segala sesuatu yang hidup selainNya, memfanakan segala sesuatu selainNya, dan mengembalikan kembali tubuh -tubuh seperti sedia kala. Ia menciptakan contoh – contohnya tanpa dibatasi oleh batas tertentu. Ia berkuasa atas segala sesuatu, bagiNya kerajaan dan keputusan, Ia memperbuat hikmah, Ia memelihara segala urusan dan mengarahkannya dengan ketetapan hikmah dan kehendakNya. Segala sesuatu yang diberi nikmat adalah sebuah keutamaan dariNya, segala sesuatu yang berasal dariNya adalah adil, tidak boleh bagiNya tidak adil, dan tidak sah dariNya sebuah kezhaliman.

Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab:

أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ
{ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ }
وَالصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ لَأَنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُولَدُ إِلَّا سَيَمُوتُ وَلَا شَيْءٌ يَمُوتُ إِلَّا سَيُورَثُ وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمُوتُ وَلَا يُورَثُ
{ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ }
قَالَ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَبِيهٌ وَلَا عِدْلٌ وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; sebutkan nasab Tuhanmu kepada kami! Kemudian Allah menurunkan ayat: QUL HUWALLAAHU AHAD, ALLAAHUSH SHAMAD (QS. Al-ikhlas 1-2), dan Ash Shamad adalah Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, karena tidaklah sesuatu yang terlahir melainkan ia akan mati, dan tidak ada sesuatu yang mati melainkan ia akan diwarisi, sedangkan Allah ‘azza wajalla tidak mati dan tidak diwarisi, serta tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Beliau bersabda: “Tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya, serta tidak ada yang sama dan tidak ada sesuatupun yang seperti Dia.”

Adapun nama – nama Allah yang terbaik (Asma’ul Husna), penjelasannya terdapat dalam sunnah nabawiyah. At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim mengeluarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ الْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ الْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ الْحَلِيمُ الْعَظِيمُ الْغَفُورُ الشَّكُورُ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ الْحَفِيظُ الْمُقِيتُ الْحَسِيبُ الْجَلِيلُ الْكَرِيمُ الرَّقِيبُ الْمُجِيبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيمُ الْوَدُودُ الْمَجِيدُ الْبَاعِثُ الشَّهِيدُ الْحَقُّ الْوَكِيلُ الْقَوِيُّ الْمَتِينُ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ الْمُحْصِي الْمُبْدِئُ الْمُعِيدُ الْمُحْيِي الْمُمِيتُ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْوَاجِدُ الْمَاجِدُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْآخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَالِيَ الْمُتَعَالِي الْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفُوُّ الرَّءُوفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ الْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِي الْمَانِعُ الضَّارُّ النَّافِعُ النُّورُ الْهَادِي الْبَدِيعُ الْبَاقِي الْوَارِثُ الرَّشِيدُ الصَّبُورُ

“Sesungguhnya Allah ta’ala memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang hafal, mengamalkan dan membenarkannya akan masuk Surga. Yaitu; Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Quddus, As Salamu, Al Mukmin, Al Muhaiminu, Al ‘Aziz, Al Jabbar, Al Mutakabbir, Al Khaliq, Al Bari-u, Al Mushawwiru, Al Ghaffaru, Al Qahhar, Al Wahhab, Ar Razzaq, Al Fattah, Al ‘Alim, Al Qabidh, Al Basith, Al Khafidh, Al Mu’iz, Al Mudzill, As Sami’, Al Bashir, Al Hakam, Al ‘Adlu, Al Lathif, Al Khabir, Al Halim, Al ‘Azhim, Al Qhafur, Asy Syakur, Al ‘Aliyyu, Al Kabir, Al Hafizh, Al Muqitu, Al Hasib, Al Jalil, Al Karim, Ar Raqib, Al Mujib, Al Wasi’, Al Hakim, Al Wadud, Al Majid, Al Ba’its, Asy Syahid, Al Haqqu, Al Wakil, Al Qawiyyu, Al Matin, Al Waliyyu, Al Hamid, Al Muhshi, Al Mubdi`, Al Mu’id, Al Muhyi, Al Mumit, Al Hayyu, Al Qayyum, Al Wajid, Al Majid, Al Wahid, Ash Shamad, Al Qadir, Al Muqtadir, Al Muqaddim, Al Muakhkhir, Al Awwalu, Al Akhir, Azh Zhahir, Al Bathin, Al Wali, Al Muta’ Ali, Al Barru, At Tawwab, Al Muntaqimu, Al Qafuwwu, Ar Rauf, Malikul Mulk, Dzul Jalal wal Ikram, Al Muqsith, Al Jami’, Al Ghani, Al Mani’, Adh Dharr, An Nafi’, Al Hadi, Al Badi’, Al Baqi, Al Warits, Ar Rasyid, Ash Shabur.”

Dalam riwayat lain: (المانع) menggantikan sabdanya (الرافع), dan (الوالي المتعالي) mengikuti (الباطن).

Nama – nama ini, 28 di antaranya adalah nama bagi Dzat Ilahiyah, 28 di antaranya adalah nama bagi sifat – sifat Dzat, 43 di antaranya adalah sifat perbuatan yang berasal dari Allah ta’ala.

Makna masing – masing Asma’ul Husna tersebut akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Dr. Wahbah Zuhailiy. Ushul al-Iman wa al-Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *