Makanan – Makanan Yang Halal

Tags:

Allah ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” QS. Al-Maidah: 4.

Tafsir dan Penjelasan QS. Al-Maidah ayat 4 tersebut:

Mereka kaum mu’minin bertanya kepadamu wahai Muhammad, makanan dan daging apakah yang dihalalkan oleh Allah bagi mereka? Katakanlah: dihalalkan bagi kalian yang baik – baik, yakni apa saja yang dianggap baik oleh jiwa yang selamat dan fithrah serta makanan itu bukanlah makanan yang buruk. Disamping itu juga dihalalkan bagi kalian buruan yang ditangkap oleh binatang pemburu yang telah dilatih.

Adapun at-Thoyyibat (makanan yang baik – baik) adalah: apa saja selain yang disebutkan sebagai makanan yang diharamkan di dalam Al-Qur’an yakni sepuluh makanan yang diharamkan dalam pembahasan ayat sebelumnya (QS. Al-Maidah: 3) dan tambahan – tambahan makanan yang diharamkan di dalam as-Sunnah Nabawiyah.

Imam Ahmad, Muslim, dan para pemilik kitab Sunan meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ وَعَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ الطَّيْرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan melarang setiap burung yang bercakar (tajam).”

Dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam beliau bersabda:

كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

“Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” HR. Muslim dan yang lainnya.

Maka hal ini menjadikan apa saja yang tidak dinyatakan oleh nash, ia tergolong dalam salah satu dari dua hal yaitu: halal thayyib (baik) dan haram khabits (buruk). Penjelasan bagi makanan yang baik dan buruk di sini adalah makanan yang baik dan buruk menurut seleranya orang – orang Arab di Hijaz.

As-Sabu’un ( السبع ) atau binatang buas, menurut Abu Hanifah adalah setiap hewan yang memakan daging. Adapun menurut As-Syafi’i adalah hewan apa saja yang menyerang/menerkam manusia dan hewan – hewan.

Kemudian dibangunlah pendapat atasnya, setiap jenis hewan laut adalah halalan thayyiban, sama saja apakah hewan itu makan rumput – rumputan (tumbuh – tumbuhan) atau memakan daging. Adapun hewan darat yang halal diburu dapat dimakan kecuali binatang buas dan burung bercakar tajam. Tidak halal memakan hewan yang hidup di darat dan laut (dua alam) seperti katak, buaya, ular, dan kura – kura karena buruknya hewan – hewan tersebut dan beracunnya ular.

Dihalalkan bagi kalian (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kalian ajar dengan melatih nya untuk berburu, yakni halal bagi kalian untuk mendapatkan hewan yang terlatih seperti itu, menjualbelikannya, dan memberikannya serta halal hewan buruan yang ditangkapnya. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ

“Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu.” QS. Al-Maidah: 4.

Firman Allah ta’ala dalam QS. Al-Ma’idah ayat 4 di awal tadi: ( مُكَلِّبِينَ ), yakni keadaan kalian yang mengajari dan melatih, adalah hal (keterangan keadaan) dari fa’il/subjek ( عَلَّمْتُمْ -kamu ajar). Adapun firman Allah ta’ala ( تُعَلِّمُونَهُنَّ- kamu mengajarnya ) adalah juga hal dari subjek ( عَلَّمْتُمْ -kamu ajar) atau dari kata ganti di dalam kata ( مُكَلِّبِينَ ) yakni keadaan kalian yang mengajari hewan tersebut dengan apa saja yang diajarkan oleh Allah kepada kalian.

Dapat dipahami dari ayat tersebut bahwa sudah seharusnya dalam urusan pengajaran itu ada tiga hal:
1. Binatang buas itu adalah binatang yang terlatih.
2. Orang yang mengajari hewan – hewan tersebut adalah orang yang mahir dalam mengajar pelatihan itu.
3. Mengajarkan binatang buas dengan apa yang diajarkan Allah kepadanya dengan menyengaja pemburuan dengan dilepaskannya hewan pemburu tersebut oleh tuannya, mengendalikan hewan tersebut dengan melarangnya (untuk menyerang), hewan tersebut menahan hewan buruan dan tidak memakannya bila anjing pemburu itu terlatih. Anjing yang terlatih akan kembali kepada pemiliknya, dan hewan pemburu akan kembali ketika pemiliknya memanggilnya bila hewan tersebut adalah burung semisal burung elang. Anjing dikatakan sebagai telah terlatih bila ia tidak memakan hewan buruan yang ditangkapnya sebanyak tiga kali. Burung elang diketahui bahwa ia telah terlatih dengan kembalinya elang tersebut kepada pemiliknya ketika dipanggil.

Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, yakni makanlah hewan buruan yang ditangkap oleh hewan pemburu itu bagi kalian yang tidak dimakan olehnya. Bila hewan pemburu itu memakan hewan buruan tersebut, maka tidak halal memakan sisanya menurut pendapat jumhur berdasarkan hadits Adiy bin Hatim di sisi Ahmad dan Syaikhain (Bukhari dan Muslim) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَرْسَلْتَ كِلَابَكَ الْمُعَلَّمَةَ وَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ فَأَمْسَكْنَ فَكُلْ وَإِذَا رَمَيْتَ بِالْمِعْرَاضِ فَخَزَقَ فَكُلْ

“Jika kau lepas anjingmu yang terlatih dengan kau sebut nama Allah, lantas anjingmu menerkam mangsanya, maka makanlah dari yang diterkamnya, dan jika kamu melempar dengan batang panah namun batang panah itu melukai (melukai kulit, atau mengalirkan darah,) maka makanlah.”

Dalam sebuah riwayat dari Adiy bin Hatim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قَتَلَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ فَكُلْهُ

“Apabila kamu melepaskan anjing buruan maka sebutlah nama Allah, jika ia mendapatkan hewan buruan yang masih hidup maka sembelihlah dia, jika ia mendapatkan hewan buruan telah mati, sedangkan ia tidak memakannya, maka makanlah hewan buruan tersebut.” HR. Muslim.

“Sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya).” QS. Al-Ma’idah ayat 4.

Ayat tersebut juga didukung oleh hadits Adiy bin Hatim di atas. Hukum membaca bismillah di sini: wajib menurut jumhur dan mustahab atau disukai menurut as-Syafi’i.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Tafsir Al-Munir karya Syaikh Wahbah Zuhaili.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *