Lafadz – Lafadz Keimanan

Masuk ke dalam agama Islam menuntut adanya ucapan dua kalimat syahadat yaitu:

شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

“Bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad Rasulullah”

Demikian pula dengan berlepas diri dari agama yang sebelumnya juga dituntut dengan adanya dua kalimat syahadat ini. Bila seseorang datang dengan ucapan yang semakna dengannya, maka dapat dikatakan bahwa terdapat keimanan padanya meskipun tanpa kalimat tersebut yang telah diketahui secara umum. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ * إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ * وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku; karena sungguh, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Dan (Ibrahim) menjadikan (kalimat tauhid) itu kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu).” QS. Az-Zukhruf: 26-28.

Maksud dari “kalimat yang kekal” dalam ayat tersebut adalah kalimat laa ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah).

Hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh para pemilik Kutubus Sittah menguatkan apa yang dimaksudkan oleh ayat tersebut. Hadits tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia (kaum musyrikin arab dan penyembah berhala) hingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka barangsiapa yang mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka sungguh dia telah menjaga harta dan jiwanya dari (seranganku) kecuali dengan hak Islam, dan hisabnya diserahkan kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Muslim juga mengeluarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مَا أَحْبَبْتُ الْإِمَارَةَ إِلَّا يَوْمَئِذٍ قَالَ فَتَسَاوَرْتُ لَهَا رَجَاءَ أَنْ أُدْعَى لَهَا قَالَ فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا وَقَالَ امْشِ وَلَا تَلْتَفِتْ حَتَّى يَفْتَحَ اللَّهُ عَلَيْكَ قَالَ فَسَارَ عَلِيٌّ شَيْئًا ثُمَّ وَقَفَ وَلَمْ يَلْتَفِتْ فَصَرَخَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى مَاذَا أُقَاتِلُ النَّاسَ قَالَ قَاتِلْهُمْ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ فَقَدْ مَنَعُوا مِنْكَ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Sungguh aku akan menyerahkan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan RasulNya, dan Allah akan memberikan kemenangan dengan tangannya. Umar bin Khaththab berkata: Sungguh aku tidak pernah menginginkan sebuah kepemimpinan kecuali hanya pada hari itu saja. Ia berkata: lalu akupun menampakkan wajahku dengan harapan agar aku dipanggil untuk menerima bendera itu. Ia berkata: kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Ali bin Abi Thalib dan beliau memberikan bendera itu kepadanya seraya berkata: ‘ Berangkatlah dan janganlah kamu menoleh ke belakang hingga Allah memenangkanmu.’ Abu Hurairah berkata: kemudian Ali berjalan lalu berhenti dengan tidak menoleh ke belakang ia berteriak: ‘Wahai Rasulullah, atas dasar apa aku memerangi manusia? Beliau menjawab: “Perangilah mereka hingga mereka mau bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah melaksanakan hal itu berarti mereka telah mencegahmu untuk menumpahkan darah mereka dan mengambil harta mereka kecuali yang menjadi haknya (Islam) sedang hisab (perhitungan) mereka ada di sisi Allah”.

Imam as-Syafi’i rahimahullah berkata: pengakuan terhadap keimanan ada dua: bagi siapa saja dari kalangan penyembah berhala dan siapa saja yang tidak memiliki agama yang diklaim sebagai agama nubuwwah, maka bila ia bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah mengakui dengan keimanan, manakala ia kembali kepada agamanya setelah ucapan itu maka ia dibunuh (dihukum mati karena murtad). Bagi siapa saja yang berada di atas agama Yahudi atau Nasrani yang mereka klaim sebagai agamanya Musa dan Isa ‘alaihumassalam yang sungguh telah mereka ubah – ubah, dihilangkan atas mereka isi mengenai keimanan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalamnya, maka mereka kafir dengan meninggalkan keimanan dan mengikuti agamanya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersamaan dengan apa saja yang mereka ingkari dengannya sebelumnya yaitu dusta kepada Allah. Sungguh telah dikatakan kepadaku: sesungguhnya pada mereka itu ada yang tetap dalam agama mereka dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah sembari berkata dia tidak diutus kepada kami. Maka jika ada pada mereka yang seperti itu dan berkata salah satunya: ‘aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah’, tidaklah hal ini menjadi ikrar keimanan yang sempurna hingga dia mengatakan: ‘dan sesungguhnya agama Muhammad adalah haq dan suatu keharusan’, serta melepaskan diri dari segala sesuatu yang menyelisihi agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau agama Islam. Apabila dia mengatakan hal ini maka sempurnalah pengakuan keimanannya.

Diqiyaskan atas perkataan ini, siapa saja yang melafadzkannya dengan perkataan yang mengandung kemungkinan, maka tidak dianggap sebagai pengakuan keimanan yang sharih atau jelas hingga ia datang dengan sesuatu yang menghilangkan kemungkinan -kemungkinan itu.

Pengakuan keimanan juga terdapat pada kata selain pada kata yang telah diketahui yaitu dua kalimat syahadat bila pengakuan tersebut memiliki makna yang serupa dengan dua kalimat syahadat. Siapa saja dari kalangan orang – orang musyrik yang mengatakan: “aku seorang muslim atau aku berserah diri kepada Allah”, maka diterima perkataannya tersebut berdasarkan riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Miqdad bin al-Aswad bahwasanya beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ لَقِيتُ رَجُلًا مِنْ الْكُفَّارِ فَقَاتَلَنِي فَضَرَبَ إِحْدَى يَدَيَّ بِالسَّيْفِ فَقَطَعَهَا ثُمَّ لَاذَ مِنِّي بِشَجَرَةٍ فَقَالَ أَسْلَمْتُ لِلَّهِ أَفَأَقْتُلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَعْدَ أَنْ قَالَهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقْتُلْهُ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ قَدْ قَطَعَ يَدِي ثُمَّ قَالَ ذَلِكَ بَعْدَ أَنْ قَطَعَهَا أَفَأَقْتُلُهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقْتُلْهُ فَإِنْ قَتَلْتَهُ فَإِنَّهُ بِمَنْزِلَتِكَ قَبْلَ أَنْ تَقْتُلَهُ وَإِنَّكَ بِمَنْزِلَتِهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ كَلِمَتَهُ الَّتِي قَالَ

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu seandainya aku berjumpa dengan seorang lelaki dari golongan orang-orang kafir, lalu mereka menyerangku dan memotong salah satu dari tanganku dengan pedangnya. Kemudian dia lari dariku dan berlindung di balik sepohon kayu’, lalu orang yang melakukan itu berkata, ‘Aku menyerahkan diri karena Allah. Wahai Rasulullah, apakah aku boleh membunuhnya setelah dia mengucapkan ungkapan itu (tauhid)? ‘ Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu membunuhnya.” Miqdad membantah, “Wahai Rasulullah! Lelaki itu telah memotong tanganku, dan setelah memotongnya ia (sengaja) mengucapkannya! Apakah aku boleh membunuhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Janganlah kamu membunuhnya, seandainya kamu membunuh lelaki itu, maka sungguh dia seperti kamu sebelum kamu membunuhnya, sedangkan kamu berkedudukan sepertinya sebelum dia mengucapkan perkataan tersebut (maksudnya kafir).”

Adapun hukum bagi orang yang mengkafirkan sesama muslim adalah haram. Bila lawan bicaranya adalah memang orang kafir maka pernyataannya tentang kekafirannya adalah shahih, adapun bila ia adalah seorang muslim maka tuduhan tersebut akan kembali kepada yang mengatakannya, sehingga ia akan menjadi kafir. Barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim maka ia kafir berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut.”

Di dalam riwayat yang lain disebutkan dengan redaksi:

إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Apabila sebagaimana yang dia ucapkan. Namun apabila tidak maka ucapan tersebut akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

Al-Halimi rahimahullah berkata: apabila seorang muslim mengatakan yang demikian itu kepada seorang muslim, maka ada dua pandangan mengenai hal ini: apabila ia memaksudkan bahwa agama yang diyakininya adalah kufur maka ia menjadi kafir dengan yang demikian itu. Apabila ia memaksudkan bahwa ia kafir di dalam hatinya akan tetapi ia menunjukkan keimanan karena ia munafik maka ia tidak menjadi kafir dengan menyatakan hal itu. Apabila ia tidak memaksudkan apa – apa maka ia tidak menjadi kafir karena pada zhahirnya ia melemparkan tuduhan tersebut tanpa mengetahui contohnya pada dirinya.

Dalil dalam kondisi seorang munafik yang menjadi lawan bicara adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqiy rahimahullah dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata mengenai Hatib bin Abi Balta’ah ketika dia mengkhianati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menulis surat kepada ahli Makkah (yakni Quraisy Ahlu Makkah sebelum peristiwa fathu Makkah): “Biarkan aku memukul leher munafik ini!”. Umar menyebutnya dengan sebutan munafik sementara ia bukanlah orang munafik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya bahwa Hatib melakukannya bukan karena ia munafik atau kafir namun loyalitasnya itu karena perbuatan baik Quraisy sebelumnya kepadanya. Umar tidak menjadi kafir dengan hal ini karena ia mengkafirkannya dengan takwil dan apa yang datang kepadanya adalah suatu kemungkinan.

Sebagai ringkasan: bahwasanya perkataan “Islam karena Allah” menjaga manusia dari pembunuhan atau penyerangan, ia adalah sebuah perkataan yang agung yang tidak boleh bagi seorang pun untuk membuangnya atau menyentuh dengannya. Maka tidak dibenarkan bersegera membunuh seseorang yang menyerangnya setelah ia mengumumkan keislamannya. Tidak boleh bagi seorang muslim menuduh kaum muslimin lainnya bahwasanya ia kafir, atau menyerunya dengan kata – kata: “wahai orang kafir”. Kalimat tersebut adalah kalimat yang serius yang akan membawa bebannya kepada yang mengatakannya apabila yang diserunya adalah seorang muslim.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Dr. Wahbah Zuhailiy. Ushul al-Iman wa al-Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *