Kulit Bangkai

Kulit bangkai binatang dapat menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi, serta kulit hewan yang lahir dari perkawinan silang keduanya atau dari salah satunya.

Dari Abdullah bin Abbas beliau berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

“Apabila kulit telah disamak, maka sungguh ia telah suci.” (HR. Muslim)

(الْإِهَابُ) adalah kulit.

(دُبِغَ) adalah menghilangkan sisa – sisa air (lendir) ataupun kelembapan yang menempel pada kulit sehingga kulit tidak rusak/busuk bila direndam dalam air.

Adapun kulit bangkai babi dan anjing dikecualikan dari kebolehan menyamak karena kedua binatang tersebut adalah binatang yang najis pada saat dia hidup, maka demikian pula pada saat dia mati juga menjadi najis secara mutlak.

Tulang dan rambut bangkai binatang najis kecuali tulang dan rambut manusia sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai (QS. Al-Maidah 5:3)

(الْمَيْتَةُ) adalah setiap hewan yang hilang nyawanya tanpa disembelih secara syar’I, yang termasuk dalam kategori ini (bangkai) adalah:

  1. Yang tidak boleh dimakan dagingnya ketika telah disembelih, misalnya saja keledai.
  2. Yang tidak boleh dimakan dagingnya karena tidak terpenuhinya syarat – syarat penyembelihan, misalnya saja sembelihan orang yang murtad, meskipun hal tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Dalam ayat tersebut, pengharaman bangkai adalah dalil bagi kenajisannya. Hal ini karena pengharaman sesuatu yang tidak mengandung bahaya dan yang pada mulanya tidak diharamkan adalah dalil bagi kenajisannya. Kenajisan bangkai tersebut berlaku bagi keseluruhan bagiannya.

Adapun manusia, tidak najis bangkainya dan seluruh bagian – bagiannya sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (QS. Al-Isra’ 17:70).

Ayat tersebut membantah pendapat yang menyatakan bahwa manusia itu najis setelah kematiannya. Selain itu, daging manusia haram dimakan karena kemuliaannya.

Maraji’:

  1. At-Tadzhib fii Adillat Matan al-Ghayah wa at-Taqrib. Dr. Musthafa Diib al-Bugha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *