Kenabian

Ini adalah pembahasan yang kedua dari pembahasan – pembahasan ilmu tauhid. Pembicaraan di dalamnya adalah mengenai hal – hal yang berhubungan dengan para nabi ‘alaihim as-sholatu wassalam. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai apa saja yang wajib, mustahil, dan boleh bagi para Nabi (semoga sholawat dan salamNya tercurah kepada mereka semua).

Nabi secara syar’i adalah seorang laki – laki yang Allah wahyukan kepadanya hukum syar’i. Sama saja apakah ia diperintahkan untuk menyampaikannya ataukah tidak. Bila ia diperintahkan untuk menyampaikannya maka ia adalah Nabi sekaligus Rasul. Berdasarkan atas hal ini, dapat kami uraikan adanya seorang Nabi yang bukan Rasul yaitu ketika Allah ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam kepada seseorang sehingga Jibril menyampaikan hukum – hukum untuk ia amalkan namun ia tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada yang lainnya. Akan tetapi tidak dapat kami uraikan seorang Rasul yang bukan Nabi karena pada waktu turun wahyu kepadanya berdasarkan hukum syar’i ia telah menjadi seorang Nabi yakni seorang Nabi dan Rasul. Oleh karena itulah kita dapati kaum muslimin menyatakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul dan Nabi. Kita katakan biasanya: “Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. Juga kita katakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda”. Maksud dari kedua ungkapan tersebut adalah sama yaitu al-Habib al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sungguh telah ada pada umat – umat yang telah lalu para Nabi yang bukan Rasul. Akan tetapi kita tidak mengetahui nama – nama mereka secara pasti. Karena mereka itu tidak disebutkan namanya dalam al-Qur’an al-Karim dan Sunnah yang shahih. Para Nabi yang disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim semuanya adalah Rasul. Jumlah mereka ada dua puluh lima Rasul.

Para ulama’ tauhid membahas secara khusus di dalam kitab – kitab mereka masalah kenabian ini untuk menjelaskan apa saja yang terkait dengan mereka dalam masalah akidah.

Secara bahasa makna rasul adalah orang yang diutus oleh orang lain untuk menyampaikan risalah atau pesan darinya. Adapun yang dimaksud dengan Rasul di sini dan dalam istilah para ulama’ Islam adalah seorang laki – laki yang Allah ta’ala turunkan kepadanya Malaikat Jibril sehingga ia memberi wahyu kepadanya agar ia menyampaikan wahyu dari Allah ta’ala kepada saudara – saudaranya apa saja yang dapat menjadikan mereka tetap pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ini adalah keutamaan, kenikmatan, dan salah satu bentuk dari rahmat Allah ta’ala dan pertolonganNya terhadap manusia.

Mari kita perhatikan hal – hal sebagai berikut:

  1. Apa saja yang Allah berikan bagi manusia berupa pendengaran, penglihatan, panca indra, dan anggota – anggota badannya, mempermudah kehidupannya di dunia.
  2. Apa saja yang Allah mudahkan baginya di atas bumi ini berupa kebutuhan – kebutuhan kehidupan dan apa saja yang Allah tundukkan baginya berupa kekuatan alam semesta
  3. Apa saja yang Allah liputi bagi manusia berupa pertolongannya dalam segala urusan dari urusan – urusan kehidupannya sedemikian rupa sehingga manusia tidak mampu untuk menghitung nikmat Allah ta’ala atasnya. Allah ta’ala berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَاۤ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” QS. Ibrahim: 34.

Bila kita perhatikan hal – hal tersebut, kita ketahui bahwa rahmat Allah ta’ala sama sekali tidak melalaikan manusia pada bagian – bagian penting lainnya yaitu:

1.Penjelasan mengenai sistem yang shahih bagi manusia untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri dan bersama dengan saudara – saudaranya sedemikian rupa sehingga terjamin adanya kebahagiaan di muka bumi. Sesungguhnya sistem – sistem yang dibuat oleh manusia jauh dari petunjuk Allah ta’ala dan tidak dapat menjadikan manusia bahagia dan selalu berubah – ubah.

2. Pengertian manusia tentang apa – apa yang ada di balik materi. Hal ini karena panca indra manusia itu terbatas oleh batas – batas materi. Ia butuh kepada yang mengetahui apa saja yang ada di balik materi. Agar pemikirannya dan tingkah lakunya selaras dengan fakta alam materi dan selain alam materi.

3. Mengenal Allah ta’ala. Sesungguhnya manusia itu tidak memiliki tingkat kecerdasan yang sama sedemikian rupa sehingga mampu untuk menyimpulkan adanya Pencipta makhluk dan alam semesta. Maka sudah seharusnya ada seorang utusan yang menunjukkan mereka kepada pengetahuan mengenai Allah ta’ala. Pengetahuan itu merupakan suatu hal yang paling penting bagi manusia. Jahil mengenainya adalah sebuah kerugian yang tidak tergantikan. Dari sini, salah seorang yang arif menjelaskan dengan perkataannya:

إلهي، ماذا وجد من فقدك؟ وماذا فقد من وجدك؟

“Tuhanku, apa yang didapat oleh orang yang kehilangan Engkau? Dan apa yang dirasa kurang bagi orang yang mendapatkan Engkau?” Karena segala pengetahuan – pengetahuan yang lainnya tidak dapat memenuhi jiwa manusia dan memberinya ketenangan. Ruhnya adalah berasal dari alam yang lain bukan berisikan materi – materi.

4. Kemerdekaan manusia. Karena thaghut – taghut itu dengan cara – cara yang berbeda menyesatkan orang – orang biasa sehingga mereka menuhankan selain Allah. Para thaghut – thaghut itu mengambil manfaat dari yang demikian itu dan apa saja yang mengikutinya berupa peraturan adat dan sistem – sistemnya sebagaimana yang dilakukan oleh Fir’aun, Namrud dan selainnya. Maka sudah seharusnya ada utusan yang menyingkap kedustaan keyakinan – keyakinan ini untuk membebaskan manusia dan menghadapkan mereka kepada Allah ta’ala.

Oleh karena inilah dan juga yang lainnya, rahmat Allah menghendaki untuk mengutus Rasul bagi manusia dari kalangan mereka sendiri yang berbicara dengan bahasa mereka sendiri dan menunjuki mereka kepada kebenaran pada apa saja yang mereka butuhkan dalam urusan agama dan dunia mereka. Ini bukanlah sebuah kewajiban bagi Allah ta’ala sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Mu’tazilah dan orang – orang yang sepakat dengan mereka. Tidak pula mustahil bagi Allah ta’ala sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Barahimah dan orang – orang yang sepakat dengan mereka. Akan tetapi hal ini adalah jaiz (boleh) saja ketika tidak mungkin hal itu wajib ataupun mustahil bagi Allah ta’ala. Segala sesuatu yang tidak wajib dan tidak mustahil adalah jaiz.

Sungguh Allah ta’ala telah mengutus Rasul sebagai pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, pemberi petunjuk, dan yang mengajarkan ilmu kepada mereka. Maka segala puji bagi Allah atas hal ini dan semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada seluruh para Nabi dan Rasul-Nya. Wajib bagi kita untuk beriman terhadap mereka sebagaimana yang diajarkan oleh Allah ta’ala kepada kita melalui firman-Nya:

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰۤىِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ أَحَدࣲ مِّن رُّسُلِهِۦ

“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” QS. Al-Baqarah: 285.

Al-Qur’an al-Karim telah menyebutkan sebagian nama – nama Rasul itu dan menjelaskan bahwasanya Allah ta’ala telah mengutus selain mereka juga. Akan tetapi mereka itu tidak disebutkan namanya kepada kita. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلࣰا مِّن قَبۡلِكَ مِنۡهُم مَّن قَصَصۡنَا عَلَیۡكَ وَمِنۡهُم مَّن لَّمۡ نَقۡصُصۡ عَلَیۡكَۗ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” QS. Al-Ghafir: 78.

وَإِن مِّنۡ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِیهَا نَذِیرࣱ

“Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan.” QS. Fathir: 24.

Oleh karena itulah, wajib bagi seorang muslim hal – hal sebagai berikut:

  1. Beriman terhadap setiap Rasul yang disebutkan namanya di dalam al-Qur’an. Mereka adalah: Adam, Nuh, Idris, Hud, Sholih, Ibrahim, Luth, Ismail, Ilyasa’, Dzulkifli, Ilyas, Yunus, Ishaq, Yaqub, Yusuf, Syu’aib, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ayyub, Zakariya, Yahya, Isa, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga atas seluruh saudara – saudara mereka dari kalangan para Nabi dan Rasul.
  2. Beriman bahwasanya Allah ta’ala mengutus para Rasul selain yang disebutkan tadi meskipun kita tidak mengetahui nama – nama mereka, negeri – negeri mereka, dan umat – umat mereka. Maka kita mengimani adanya Rasul Allah dan para Nabi-Nya baik itu yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Syaikh Nuh Ali Salman al-Qudhah, Al-Mukhtashar al-Mufid fii Syarh Jauharat at-Tauhid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *