Iman Kepada Allah ‘Azza Wa Jalla

Cabang pertama dari cabang – cabang keimanan atau pokok yang pertama adalah ucapan:

لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Tiada tuhan selain Allah”.

Ucapan itu adalah intisari dan asasnya keimanan serta porosnya keyakinan, ucapan itu adalah pondasi diterimanya amal – amal sholih di sisi Allah ta’ala berdasarkan firman-Nya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah.” QS. Muhammad: 19.

Juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Mandah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.”

Deklarasi syahadat untuk mentauhidkan Allah ini terdiri atas keyakinan dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan mengikutinya dengan amal sholih. Kesaksian bahwasanya tiada tuhan selain Allah mengandung beberapa hal:

Pertama: menetapkan adanya Sang Pencipta yang Maha Mulia dan Maha Agung, terhindar dari peniadaan ketuhanan.

Kedua: menetapkan ke-Esaan Allah ta’ala, untuk berlepas diri dari kesyirikan.

Ketiga: menetapkan bahwasanya Allah itu bukan jauhar (substan/zat) dan ‘aradh (karakter benda/zat) agar berlepas diri dari penyerupaan dengan makhluk.

Keempat: menetapkan bahwa segala sesuatu yang maujud itu dahulunya tidak ada sebelum Allah menciptakannya untuk berlepas diri dari ucapan orang yang berkata dengan konsep sebab akibat, yakni hubungan absolut antara yang memberi dampak dengan dampaknya. (‘illat dan ma’lul atau sebab akibat adalah sebuah konsep para filosof yang mengatakan bahwa alam raya ada karena ada yang mewujudkannya, bila yang mewujudkannya itu qadim, maka yang diwujudkannya juga qadim pula sebab menurut mereka mustahil alam ini tercipta dari ketiadaan).

Kelima: menetapkan bahwasanya Allah ta’ala adalah pengatur apa saja yang Ia adakan dan Ia mengubahnya sesuai dengan apa yang Ia kehendaki untuk berlepas diri dari ucapan orang yang mengatakan bahwasanya itu terjadi secara alami, atau diatur oleh malaikat, atau diatur oleh bintang -bintang.

Adapun menetapkan adanya Sang Pencipta Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah untuk melepaskan diri dari peniadaan (ta’thil) yang bersumber dari orang – orang atheis yang mengatakan bahwa tidak ada pencipta terhadap alam semesta ini, tidak ada yang terwujud kecuali materi dan sesuatu yang konkrit. Mereka juga mengatakan bahwa alam semesta ini ada secara alami yang terwujud dari empat komposisi yaitu air, api, udara, dan tanah. Mereka juga mengatakan bahwa tidak ada pengatur alam semesta ini. Barang siapa yang menetapkan adanya Allah ta’ala dan bahwasanya Ia adalah tuhan semesta alam, maka ia sungguh telah menjauhkan diri dari atheisme dan ta’thil.

Adapun berlepas diri dari syirik dengan menetapkan ke-Esaan Allah maka itu adalah untuk membantah kaum “tsanawiyah” yang mengatakan bahwa ada dua tuhan yaitu tuhan cahaya dan tuhan kegelapan, atau tuhan yang melakukan kebaikan dan tuhan yang melakukan keburukan, atau juga orang – orang yang menyekutukan Allah dengan tuhan yang lain. Bila seseorang telah menetapkan bahwa tiada tuhan selain Allah, bahwasanya Dia itu Esa, tidak ada al-Khaliq (Pencipta) selain Dia, dan tidak ada yang dahulu selain Dia, maka sungguh ia telah menjauhkan diri dari klaim orang – orang yang musyrik yang berada dalam kebatilan dan sifat kufur sebagaimana orang yang atheist dan ta’thil.

Adapun berlepas diri dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluknya) dengan menetapkan bahwasanya Dia bukanlah jauhar dan ‘aradh, adalah untuk membatalkan ucapannya orang – orang yang mensifati Allah dengan sifat – sifat makhluk yang muhdats (baru diadakan) seperti adanya jauhar (substan/zat), jasad, atau keadaan-Nya yang duduk di atas Arsy sebagaimana seorang raja berada di atas tempat tidurnya. Yang demikian itu semuanya kufur sebagaimana halnya orang yang meniadakan dan menyekutukan-Nya. Maka bila seseorang menetapkan bahwasanya tidak ada satupun yang serupa dengan Allah, bahwasanya Dia bukanlah jauhar dan ‘aradh, maka sungguh ia telah terhindar dari tasybih. Kalau tidak demikian, maka segala sesuatu yang bisa jadi ada pada jauhar dan ‘aradh akan ada pada Allah seperti memiliki komposisi dan jasad, menduduki tempat, gerakan, dan diam. Juga bahwasanya ‘aradh itu adalah baru ada dan tidak kekal abadi.

Adapun berlepas diri dari ta’thil atau peniadaan dengan bahwasanya Allah ta’ala yang memulaikan segala sesuatu selain-Nya, ini untuk membatalkan ucapannya kaum mu’atthilah yang mengatakan: sesungguhnya Sang Maha Pencipta itu ada tanpa menjadi ‘illat atau sebab bagi segala sesuatu yang ada, yakni sesungguhnya keberadaan-Nya memerlukan keberadaan segala sesuatu yang ada sebagian demi sebagian, dan bahwasanya sebab dan akibat itu tidak dapat dipisahkan (bila yang menjadi sebab itu qadim maka yang menjadi akibat juga haruslah qadim). Hal ini akan kembali kepada paham qadimnya (dahulunya) alam semesta atau bahwasanya materi alam semesta ini ada terus bersama-Nya. Juga menurut paham tersebut sesungguhnya Allah tidak membangkitkan sesuatu atas sesuatu sebab kalau tidak demikian ia akan kekurangan. Maka barang siapa yang menetapkan bahwasanya Allah adalah yang memulai segala sesuatu yang ada selain-Nya baik itu jauhar maupun ‘aradh dengan pilihan dan kuasa-Nya, Ia pencipta baginya, maka sungguh ia akan jauh dari perkataannya kaum yang meniadakan bahwa Allah adalah sebab bagi segala sesuatu yang ada yang mereka itu disifati dengan kufur sebagaimana kaum ta’thil.

Adapun berlepas diri dari adanya sekutu dalam mengatur urusan alam semesta ini adalah dengan menetapkan bahwasanya tidak ada yang mengatur segala sesuatu ini kecuali Allah. Untuk membantah klaim orang -orang yang mengatakan bahwa malaikat -malaikat itulah yang mengatur alam semesta ini dan mereka menamakannya malaikat (seperti malik atau raja), Allah berfirman:

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

“Dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” QS. An-Naziat: 5.

Makna mudabbirat (yang mengatur) adalah melaksanakan apa yang telah diatur oleh Allah atasnya, sebagaimana dikatakan bagi orang yang melaksanakan hukum Allah di antara orang yang berselisih: sesungguhnya ia adalah hakim.

Segolongan kaum juga ada yang mengklaim bahwasanya bintang – bintang mengatur apa – apa yang ada di bawahnya dan bahwasanya apa saja yang terjadi di bumi merupakan efek dari pergerakan bintang -bintang.

Barangsiapa yang menetapkan bahwasanya Allah adalah pengatur bagi apa saja dan tidak ada pengatur selain Dia maka ia akan jauh dari menyekutukan Allah dalam hal pengaturan Allah, orang yang menyekutukan Allah dalam hal pengaturannya adalah kufur sebagaimana menyekutukan-Nya dalam hal qidamnya (dahulunya) Allah serta dalam hal penciptaan.

Sebagai ringkasan: sesungguhnya Allah ta’ala mengumpulkan seluruh makna ini dengan satu kalimat yaitu:

لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Tiada tuhan selain Allah”.

Allah juga memerintahkan untuk beriman terhadap yang demikian itu dalam firman-Nya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah.” QS. Muhammad: 19.

Allah mencela kaum musyrikin dari bangsa Arab dengan berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ * وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “La ilaha illallah” (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?” QS. As-Shaffat: 35-36.

Yakni sesungguhnya ketika dikatakan kepada mereka: “La ilaha illallah”, mereka menyombongkan diri dan tidak mengucapkannya. Mereka mengatakan sebagai penggantinya: “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”

Kalimat itu adalah kalimat yang ditawarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada pamannya yaitu Abu Thalib dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah:

قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Ucapkanlah “laa ilaha illallah”, sebuah kalimat yang dengannya aku akan bersaksi bagimu di sisi Allah.”

Ibnu Sa’ad di dalam at-Thabaqat al-Kubra meriwayatkan dari Utsman bin Affan bahwasanya Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai jalan keselamatan, maka beliau menjawab:

مَنْ قَبِلَ الْكَلِمَةَ الَّتِي عَرَضْتُها عَلَى عَمِّي فَهِيَ لَهُ نَجَاةٌ

“Barang siapa yang menerima sebuah kalimat yang aku tawarkan kepada pamanku maka itu adalah keselamatan baginya”.

Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang akhir perkataannya adalah “laa ilaha illallah”, maka dia masuk surga.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa meninggal dan dia mengetahui bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, maka dia masuk Surga.”

Al-Bazzar dan At-Thabrani dalam al-Auwsath dan as-Shaghir meriwayatkan dengan para perawinya perawi yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، نَفَعَتْهُ يَوْمًا مِنْ دَهْرِهِ أَصَابَهُ قَبْلَ ذَلِكَ مَا أَصَابَهُ

“Barangsiapa mengucapkan ‘Laa Ilaaha Ilallaah’, niscaya kalimat tersebut suatu saat akan menyelamatkannya dari kurun waktu yang sebelumnya ia telah terlebih dahulu terkena siksa adzab yang ditimpakan kepadanya.”

Abu Sa’ad Ahmad bin Muhammad al-Malini mengabarkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Ibnu Umar beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ عَلَى أَهْلِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْشَةٌ فِي قُبُورِهِمْ ، وَلا فِي نُشُورِهِمْ ، وَكَأَنِّي بِأَهْلِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَنْفُضُونَ عَنْ رُءُوسِهِمْ ، يَقُولُونَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ

“Tidak ada ketakutan di dalam kubur mereka dan di hari berbangkit mereka bagi orang yang biasa mengucapkan “Laa ilaha illallah”, seakan – akan aku dengan orang yang biasa mengucapkan “Laa ilaha illallah” membersihkan debu dari kepala mereka sambil mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.”

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Dr. Wahbah Zuhailiy. Ushul al-Iman wa al-Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *