Iman dan Islamnya Anak – Anak Kecil

Seorang anak yang dilahirkan dan meninggal sebelum baligh atau anak kecil yang diwafatkan oleh Allah ta’ala sebelum baligh adalah mu’min dan selamat di sisi Allah ta’ala. Maka anak – anak non muslim yang meninggal saat masih kecil, mereka itu selamat dan tidak diadzab. Karena mereka itu sebelum baligh bukanlah termasuk mukallaf yang mendapatkan taklif (beban) hukum dari Allah. Sesungguhnya taklif, pertanggungjawaban, dan balasan itu baru ada setelah baligh.

Dalil bahwasanya anak yang dilahirkan saat baru lahir itu mu’min adalah firman Allah ta’ala:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

“(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” QS. Ar-Rum: 30.

Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menegaskan hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ وَأَبَوَاهُ بَعْدُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ فَإِنْ كَانَا مُسْلِمَيْنِ فَمُسْلِمٌ كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ يَلْكُزُهُ الشَّيْطَانُ فِي حِضْنَيْهِ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang yahudi, nasrani dan majusi (penyembah api). Apabila kedua orang tuanya muslim, maka anaknya pun akan menjadi muslim. Setiap bayi yang dilahirkan dipukul oleh syetan pada kedua pinggangnya, kecuali Maryam dan anaknya (Isa).”

Imam as-Syafi’i rahimahullah menyampaikan mengenai hadits ini bahwa ia adalah fithrah yang Allah ciptakan atas penciptaannya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan tidak ada hukum bagi diri mereka. Sesungguhnya hukum bagi mereka sesuai dengan bapak – bapak mereka pada saat mereka dilahirkan, mereka tergantung kondisi bapak -bapaknya apakah dia mu’min kemudian ia ada di atas keimanannya atau kafir kemudian ia ada di atas kekafirannya.

Apa yang disampaikan oleh Imam As-Syafi’i ini sesuai dengan ayat:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” QS. At-Thur: 21.

Yang disampaikan oleh Imam As-Syafi’i tersebut mengandung faedah bahwasanya Allah ta’ala menciptakan anak yang baru lahir dalam keadaan tidak memiliki hukum bagi dirinya sendiri, sesungguhnya ia mengikuti kedua orang tuanya dalam hal agama pada hukum dunia hingga diungkapkan oleh dirinya sendiri setelah baligh.

Adapun dalam hukum akhirat, ada sebagian ulama’ yang mengikutkan mereka kepada bapak -bapak mereka. Sebagian besar ulama’ berpendapat bahwa anak – anak kaum muslimin mengikuti mereka sedangkan anak – anak kaum musyrikin menjadi pelayan – pelayan ahli surga, yakni mereka ada di surga juga. Sebagian ulama’ yang lain menyerahkan urusan tersebut kepada Allah ta’ala.

Ketika bapak dan ibunya masuk Islam atau salah satunya masuk Islam, maka anaknya menjadi muslim dengan Islamnya kedua orang tuanya atau salah satunya. Maka seorang anak mengikuti orang tuanya yang baik dalam urusan agama, sama saja apakah yang muslim bapaknya atau ibunya dihubungkan dengan kemaslahatannya.

Adapun Islamnya anak kecil atas kehendaknya sendiri tanpa paksaan maka Islamnya diterima. Dalilnya adalah Islamnya Ali radhiyallahu ‘anhu sedangkan ia adalah anak – anak berusia sepuluh tahun saat masuk Islam.

Ketika seorang anak kecil telah baligh berakal, maka ia menjadi seorang mukallaf dengan seluruh taklif syar’iyah mulai dari keimanan dst. Ia dituntut untuk melaksanakan berbagai kewajiban dan adab – adab Islami semisal meminta izin kepada kedua orang tuanya atau selain keduanya berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur dewasa, maka hendaklah mereka (juga) meminta izin, seperti orang-orang yang lebih dewasa meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” QS. An-Nur: 59.

Dalam ayat tersebut Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya Ia menetapkan wajibnya meminta izin bila mereka telah baligh.

Demikian juga dengan ayat – ayat berikut ini:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” QS. Al-Baqarah: 164.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” QS. Ali ‘Imran: 190.

Dalam ayat – ayat tersebut, Allah ta’ala menyerukan kewajiban -kewajiban atas akal mereka.

Adapun anak – anak yang belum baligh maka mereka tidak memiliki taklif (beban hukum) syar’i sama sekali. Dalilnya adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُرَ

“Pena pencatat amal dan dosa itu diangkat dari tiga golongan; orang yang tidur hingga terbangun, orang gila hingga ia waras, dan anak kecil hingga ia baligh.”

Adapun dakwah kepada Islam maka hal itu bersifat umum bagi orang – orang dewasa maupun bagi anak – anak non muslim dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Dakwah kepada orang yang belum pernah sampai dakwah Islam kepadanya adalah wajib, sedangkan dakwah kepada orang yang telah sampai dakwah Islam kepadanya ketika hujah belum dapat menyampaikan kepada ketetapan hati adalah mustahab (disukai).

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Mu’adz berkata:

بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu pada setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah’.”

Hadits yang mulia ini mengandung ushul dakwah kepada Islam dengan ucapan, hujah, dan bukti yang jelas yaitu menyatakan tauhid dengan syahadat dan ini adalah akarnya akidah. Kemudian memberikan taklif kepada orang yang masuk Islam dengan menunaikan lima kali sholat wajib dalam sehari semalam. Ini adalah ibadah mahdhah badaniyah yang menghubungkan manusia dengan Rabbnya, sehingga ia menundukkan dirinya sendiri dan mengajarkan kepada keutamaan dan kebaikan serta mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar. Kemudian selanjutnya adalah ibadah harta yaitu wajibnya zakat untuk mencapai solidaritas sosial dalam masyarakat muslim. Zakat mal diambil dari harta yang pertengahan tidak diambil dari harta yang paling baik atau yang paling berharganya, tidak juga dari yang paling buruknya. Kemudian juga hendaknya seorang da’i yang menyeru kepada Allah sudah semestinya tetap menegakkan kebenaran dan menetapkan hukum dengan timbangan yang adil di antara manusia yang berselisih hingga ia tidak mengembalikannya kepada orang yang zhalim, sesungguhnya doa orang yang dizhalimi itu maqbul.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Dr. Wahbah Zuhailiy. Ushul al-Iman wa al-Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *