Diberi Kemerdekaan Namun Enggan Taat Kepada Allah (Kisah Kaum Nabi Musa)

Tags:

Allah ta’ala berfirman mengisahkan Nabi Musa dan kaumnya:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ * يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ * قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ * قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ * قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ * قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”. Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”. QS. Al-Ma’idah: 20-26.

Allah ta’ala mengabarkan kisah Kalimullah (orang yang diajak bicara oleh Allah secara langsung) yaitu Musa bin Imran ‘alaihissalam ketika beliau mengingatkan kaumnya akan nikmat Allah atas mereka yang mana Allah menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat bagi mereka apabila mereka istiqomah di atas jalan yang lurus. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad perihal ini: berilah peringatan wahai Muhammad kepada Bani Israil dan seluruh manusia yang sampai seruanmu kepada mereka ketika Musa berkata kepada kaumnya setelah Musa menyelamatkan mereka dari kezhaliman Fir’aun dan kaumnya: ingatkanlah mereka atas tiga nikmat:

1. Ingatkanlah mereka atas nikmat Allah berupa kesinambungan nabi – nabi di antara kalian dari garis keturunan Bapak kalian yaitu Ibrahim dan yang setelahnya hingga ditutup oleh Isa ‘alaihissalam. Kemudian Allah mewahyukan kepada penutup para nabi dari keturunan Ismail bin Ibrahim dan bagi Bani Israil dari keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Adalah seluruh nabi – nabi mereka setelah Musa itu berhukum dengan Taurat.

Sebagai ringkasan: bahwasanya Allah tidak mengutus pada suatu umat sebagaimana Allah mengutus nabi – nabi bagi Bani Israil.

2. Allah telah menjadikan kalian penguasa – penguasa, yakni menjadi merdeka setelah dikuasai oleh al-Qibthi, Allah menyelamatkan kalian sehingga menyebut kalian sebagai penguasa (malik). Dikatakan: malik adalah orang yang memiliki tempat tinggal dan pembantu, dikatakan juga bahwa malik adalah orang yang memiliki harta sehingga ia tidak butuh lagi untuk bekerja dan bersusah payah.

Sebagai ringkasan:
Bahwasanya mereka dianggap sebagai orang yang merdeka di sisi mereka karena cukup istri, pembantu, dan rumah dengan dalil riwayat Abu Dawud dari Abi Sa’id al-Khudriy secara marfu’:

كَانَ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِذَا كَانَ لأَحَدِهِمْ خَادِمٌ وَدَابَّةٌ وَامْرَأَةٌ كُتِبَ مَلِكًا

“Adalah Bani Israil ketika salah seorang di antara mereka punya pembantu, hewan tunggangan, dan istri dicatat sebagai seorang malik/penguasa”.

Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dari Zaid bin Aslam:

 مَنْ كَانَ لَهُ بَيْتٌ وَخَادِمٌ فَهُوَ مَلِكٌ

“Barang siapa yang ada padanya rumah dan pembantu maka dia adalah malik.”

Praktek hari ini menguatkan hal ini. Dikatakan kepada majikan yang memegang kuasa tempat tinggalnya dan nyaman kehidupannya sebagai: malik zamanuhu (raja zamannya).

3. Allah memberi mereka sesuatu yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun di alam semesta pada zaman mereka mulai dari terbelahnya lautan, ditenggelamkannya musuh mereka, naungan awan, diturunkannya al-manna dan as-salwa serta perkara – perkara agung lainnya.

Kemudian setelah itu, Allah memerintahkan Musa untuk masuk ke dalam Palestina dan berjihad melawan musuh. Nabi Musa berkata kepada mereka: Wahai kaumku masuklah ke bumi yang suci (yaitu Baitul Muqaddas atau Palestina). Mereka masuk ke sana dalam rangka untuk tinggal bukan untuk menguasai karena Baitul Muqoddas adalah tempat tinggal para Nabi dan tempat tinggal kaum yang beriman.

Memgenai hal ini Allah berfirman: ( الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ) “yang telah ditentukan Allah bagimu” yakni memisahkannya bagi kalian dan memuliakannya. Sungguh Allah telah menjanjikan tempat tinggal yang haq dalam negeri yang suci tersebut kepada Nabi Ibrahim, bukan karena ia penguasa mereka karena ini tidak sesuai dengan fakta. Kemudian kaum Yahudi menggali hukum dari janji Allah tersebut bahwasanya sudah seharusnya janji kekuasaan tersebut diberikan kepada mereka. Ini adalah pendapat yang tidak shahih karena Allah berfirman setelahnya:

فَإِنَّها مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ

“Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka” QS. Al-Ma’idah: 26.

Ibnu Abbas berkata: itu adalah pemberian Allah, kemudian Allah mengharamkannya bagi mereka karena keburukan dan pembangkangan mereka. Juga karena firman-Nya: ( كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ-“yang telah ditentukan Allah bagimu” ) bersyarat dengan adanya ketaatan. Maka ketika tidak dipenuhi syaratnya maka tidak ada pula yang disyaratkan.

Allah berfirman:

وَلا تَرْتَدُّوا عَلى أَدْبارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خاسِرِينَ

“Dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” QS. Al-Ma’idah: 21.

Yakni janganlah kembali kebelakang karena takut kepada orang – orang yang gagah perkasa dan janganlah menolak berjihad sehingga kalian menjadi orang – orang yang merugi di dunia dan akhirat. Dikatakan juga maksudnya adalah janganlah kembali dari agama yang shahih kepada keraguan terhadap kenabian Musa ‘alaihissalam serta kembali kepada penyembahan berhala dan berbuat kerusakan di muka bumi.

Sebab mereka enggan masuk adalah karena di dalamnya terdapat kaum yang gagah perkasa yakni kaum yang sangat tinggi yang dapat memaksa manusia sekehendak mereka. Mereka berasal dari kaum Kan’an. Kaum Bani Israil berkata bahwa mereka tidak akan memasukinya selamanya hingga kaum tersebut keluar darinya, apabila kaum tersebut telah keluar maka mereka akan masuk. Mereka berkata yang demikian itu untuk menunjukkan kemustahilan hal tersebut sebagaimana ungkapan dalam firman-Nya:

وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” QS. Al-A’raf: 40.

Ini adalah dalil lain atas pembangkangan mereka terhadap perintah masuk ke dalam Baitul Maqdis dan tidak adanya hak mereka sedikitpun atas tanah Palestina yang suci.

Berkatalah dua orang dari para pemimpin mereka yang takut kepada Allah ta’ala (sungguh Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berupa hidayah, keimanan, ketaatan, dan taufik kepada apa yang diridhai-Nya, percaya dan bersandar dengan pertolongan Allah ta’ala. Kedua laki -laki tersebut adalah orang yang shalih dari kaumnya Nabi Musa: Yusya’ bin Nun dan Kalib bin Yufana), mereka berdua berkata: masuklah kepada mereka dari pintu kotanya, apabila kalian melakukannya, Allah akan menolong dan membantu kalian dengan tentara-Nya dan kalian menjadi orang – orang yang menang.

Apabila kalian bertawakal kepada Allah, mengikuti perintah-Nya, dan menerima Rasul-Nya, Allah akan menolong kalian atas musuh – musuh kalian dan menguatkan kalian sehingga kalian masuk ke dalam negeri yang telah ditentukan bagi kalian. Tawakal kepada Allah itu adalah sifat kaum mu’minin.

Bersamaan dengan ini, kaum Yahudi mengulangi penolakan mereka dan tetap atas pendirian dan pembangkangan mereka, tidak bermanfaat sama sekali nasehat dua orang laki – laki yang sholih tersebut. Mereka berkata: Wahai Musa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Makna selama – lamanya adalah: komentar untuk menafikan yang dinyatakan dengan jangka waktu yang sangat panjang. Perkataan mereka: sebelum mereka ke luar daripadanya; merupakan penjelas bagi kata “selama – lamanya”.

Mereka berkata: pergilah engkau dan Tuhanmu yang telah memerintahkanmu untuk berjihad dan keluar dari Mesir dan datang ke tempat ini, perangilah olehmu dan tuhanmu kaum yang gagah perkasa itu, sesungguhnya kami duduk di sini menunggu engkau berjihad. Perkataan ini bertujuan untuk ingkar kepada Nabi Musa ‘alaihissalam tanpa adab.

Maka Nabi Musa pun berkata dengan marah dan sedih menyampaikan keluhannya kepada Allah dan mengungkapkannya kepada-Nya meminta maaf dari kesalahan kaumnya: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.”, yakni tidak ada yang mentaatiku seorang pun dari mereka, tidak ada yang mentaati perintah Allah dan merespon seruan tersebut kecuali aku dan saudaraku Harun. Dalam perkataan Nabi Musa tersebut terdapat tanda bahwa dia tidak memiliki keyakinan terhadap keteguhan Yusya’ dan Kalib karena jumlahnya yang sedikit. Sehingga Nabi Musa pun berkata: maka putuskanlah dan pisahkanlah antara aku dan orang – orang yang fasik yang keluar dari ketaatan kepada-Mu, maka tetapkanlah bagi kami dengan apa yang menjadi hak kami dan tetapkanlah bagi mereka dengan apa yang menjadi hak mereka. Inilah makna doa tersebut atas mereka.

Oleh karena itu disambung dengan firman-Nya:

فَإِنَّها مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ

“(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka.” QS. Al-Ma’idah: 26.

Doa Nabi Musa tersebut juga dapat dimaknai: maka jauhkanlah antara kami dan mereka, serta selamatkanlah kami dari persahabatan dengan mereka. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” QS. At-Tahrim: 11.

Allah ta’ala berfirman tatkala Musa ‘alaihissalam menyeru mereka ketika mereka menolak untuk berjihad:

فَإِنَّها مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ

“(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu.” QS. Al-Ma’idah: 26.

Yakni sesungguhnya bumi yang suci itu diharamkan atas mereka untuk memasukinya selama empat puluh tahun. Maka mereka berputar – putar kebingungan di gurun yang kosong yakni mereka berjalan berputar – putar di dalamnya tanpa mengetahui petunjuk jalan dan di mana tempat kembali mereka. Diriwayatkan bahwasanya mereka menetap selama empat puluh tahun dalam satuan jarak enam farsakh (Ibnu Abbas berkata: dalam sembilan farsakh). Mereka berjalan di setiap harinya hingga mereka bosan dan sampai lagi ditempat semula. Mereka berjalan seperti itu malam dan siang. Dimunculkanlah bagi mereka cahaya di malam hari untuk menerangi mereka dan awan meneduhi mereka dari panasnya sinar matahari di siang hari. Diturunkanlah bagi mereka al-manna dan as-salwa hingga mereka semuanya mati kecuali orang – orang yang tidak sampai usia dua puluh tahun.

Dikatakan: mereka berjumlah enam ratus ribu orang, Harun meninggal di padang pasir dan Musa meninggal setelahnya selama setahun. Itu adalah rahmat bagi mereka berdua dan adzab bagi kaumnya. Musa meminta kepada Rabbnya agar Ia mendekatkannya dari bumi yang suci dengan sekali lemparan batu saja dan Allah pun mendekatkannya.

Yusya’ memerintahkan untuk memerangi kaum yang gagah perkasa itu setelah empat puluh tahun. Ia pun berangkat dengan orang – orang yang tersisa dan memerangi mereka di hari jum’at, matahari dihentikan sejenak baginya hingga ia selesai dari peperangannya.

Ahmad meriwayatkan dalam Musnad nya sebuah hadits:

إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ لِبَشَرٍ إِلَّا لِيُوشَعَ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ

“Sesungguhnya matahari tidak pernah ditahan untuk menusia kecuali untuk Nabi Yusya` ketika malam perjalanan dia menuju Baitul Maqdis.”

Allah pun menutup firman-Nya menghibur Musa dari mereka:

فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”. QS. Al-Ma’idah: 26.

Yakni janganlah engkau bersedih atas kaum yang menentang apa yang telah engkau putuskan atas mereka, sesungguhnya mereka berhak atas balasan tindakan mereka.

Az-Zamakhsyari dan yang lainnya saling bertanya: bagaimana menyelaraskan antara firman-Nya: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka”; dengan firman-Nya: “masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu”. Mereka menjawab dengan dua jawaban:

Yang pertama: bahwasanya maksud dari kata “ditentukan bagi kalian”, itu hendaknya dipenuhi dengan syarat mereka berjihad terhadap kaum yang tinggal di dalamnya. Maka ketika mereka menolak berjihad, dikatakan: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka”.

Yang kedua: bahwasanya maksud dari diharamkannya tanah tersebut bagi mereka adalah selama empat puluh tahun saja, ketika telah berlalu empat puluh tahun, maka tanah itu adalah tanah yang telah ditentukan bagi mereka.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Rujukan:
Tafsir Al-Munir karya Syaikh Wahbah Zuhaili.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *