Darah Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ada tiga jenis darah yang keluar dari farji: yaitu darah haid, nifas, dan istihadhah.

Darah haid adalah: darah yang keluar dari farji wanita yang sehat tanpa sebab melahirkan. Warnanya hitam menyala (merah kehitam – hitaman) dan menyakitkan (keluarnya).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

خَرَجْنَا لَا نَرَى إِلَّا الْحَجَّ فَلَمَّا كُنَّا بِسَرِفَ حِضْتُ فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي قَالَ مَا لَكِ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاقْضِي مَا يَقْضِي الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

“Kami keluar dan tidak ada tujuan selain untuk ibadah haji. Ketika tiba di Sarif aku mengalami haid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya: “Apa yang terjadi denganmu? Apakah kamu datang haid?” Aku jawab, “Ya.” Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang haji, kecuali thawaf di Ka’bah.” HR. Bukhari dan Muslim.

(نَرَى): kami meyakini diri kami adalah orang – orang yang berihram.

(بِسَرِفَ): Sarif, nama tempat dekat Mekah.

(أَنُفِسْتِ): apakah kamu haid?

(فَاقْضِي): maka kerjakanlah manasik yang dikerjakan oleh orang – orang yang berhaji.

Dari Fathimah binti Abi Hubaisy bahwasanya dia terkena darah penyakit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

“Apabila itu darah haid, maka ia berwarna hitam sebagaimana yang diketahui (oleh wanita). Apabila darah itu ternyata demikian, maka tinggalkanlah shalat. Namun apabila darah itu lain, maka berwudhulah dan kerjakanlah shalat, karena itu hanyalah cucuran darah (dari urat)”. HR. Abu Dawud.

(يُعْرَفُ): kaum wanita mengetahuinya berdasarkan kebiasaan.

(الْآخَرُ): yaitu darah yang tidak memiliki sifat yang demikian.

(عِرْقٌ): cucuran darah.

Nifas adalah: darah yang keluar setelah melahirkan.

Istihadhah adalah: darah yang keluar diluar masa haid dan nifas.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي

“Fatimah binti Abu Hubaiys datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita yang keluar darah istihadhah (darah penyakit) hingga aku tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menjawab: “Jangan, sebab itu adalah cucuran darah (dari urat) dan bukan darah haid. Jika datang haidmu maka tinggalkan shalat, dan jika telah terhenti maka bersihkanlah sisa darahnya lalu shalat.” HR. Bukhari dan Muslim.

Masa haid yang paling sedikit adalah sehari semalam, yang paling banyak adalah lima belas hari, dan pada umumnya adalah tujuh hari. Masa nifas yang paling sedikit adalah sesaat setelah melahirkan, yang paling banyak adalah enam puluh hari, dan pada umumnya adalah empat puluh hari.

Masa suci antara dua haid yang paling sedikit adalah lima belas hari dan tidak ada batasan masa paling banyaknya.

Masa yang paling sedikit bagi seorang anak perempuan untuk haid adalah umur sembilan tahun.

Perkiraan masa – masa haid, nifas, dan suci di atas adalah berdasarkan pada penelitian, yakni mengikuti masa barunya dan wujudnya, dan sungguh hal ini adalah sesuai fakta yang ada. Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah beliau berkata:

كَانَتْ النُّفَسَاءُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقْعُدُ بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَكُنَّا نَطْلِي عَلَى وُجُوهِنَا الْوَرْسَ تَعْنِي مِنْ الْكَلَفِ

Wanita-wanita yang nifas pada masa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam, biasa menahan dirinya selama empat puluh hari atau empat puluh malam. Dan kami biasa mengoleskan bedak pada wajah-wajah kami. HR. Abu Dawud.

Hadits ini menunjukkan kepada umumnya masa nifas dan tidak menafikan masa nifas yang lebih lama dari itu.

Masa hamil yang paling sedikit adalah enam bulan, paling lamanya adalah empat tahun, dan pada umumnya adalah sembilan bulan.

Dalil masa hamil yang paling sedikit adalah firman Allah ta’ala:

وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan (QS. Al-Ahqaf 46:15).

Juga firman-Nya:

وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ

dan menyapihnya dalam dua tahun. (QS. Luqman 31:14).

Bila masa mengandung dan menyapih digabungkan lamanya adalah tiga puluh bulan, sedangkan masa menyapihnya sendiri adalah dua tahun (24 bulan), maka masa hamilnya adalah enam bulan. Adapun dalil masa hamil pada umumnya dan yang paling banyak adalah berdasarkan penelitian.

Maraji’:

al-Bugha, Dr. Musthafa Diib. At-Tadzhib fii Adillat Matan al-Ghayah wa at-Taqrib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *