Dalil / Bukti – Bukti Adanya Allah Sang Pencipta Alam Semesta

  1. Sebagian orang Arab ketika ditanya, “Manakah bukti yang menunjukkan adanya Rabb Yang Maha Tinggi?” Maka dia menjawab, “Subhanallah (Mahasuci Allah), sesungguhnya kotoran unta menunjukkan adanya unta, jejak kaki menunjukkan adanya orang yang lewat. Langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki gunung-gunung serta lautan yang memiliki ombak-ombak, bukankah semua itu menunjukkan adanya Rabb Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui?”
  2. Dari Abu Hanifah bahwa ada sebagian orang Zindiq bertanya kepadanya mengenai keberadaan Zat Yang Maha Pencipta. Maka Abu Hanifah berkata kepada mereka, “Biarkanlah aku berpikir sejenak untuk mengingat suatu hal yang pernah diceritakan kepadaku. Mereka menceritakan kepadaku bahwa ada sebuah perahu di tengah laut yang berombak besar, di dalamnya terdapat berbagai macam barang dagangan, sedangkan di dalam perahu itu tidak terdapat seorang pun yang menjaganya dan tiada seorang pun yang mengendalikannya. Tetapi sekalipun demikian perahu tersebut berangkat dan tiba berlayar dengan sendirinya, dapat membelah ombak yang besar hingga selamat dari bahaya. Perahu itu dapat berlayar dengan sendirinya tanpa ada seorang pun yang mengendalikannya.” Mereka berkata, “Ini adalah suatu hal yang tidak akan dikatakan oleh orang yang berakal.” Maka Abu Hanifah berkata, “Celakalah kamu, semua alam wujud berikut apa yang ada padanya mulai dari alam bagian bawah dan bagian atas, semua yang terkandung di dalamnya berupa berbagai macam benda yang teratur ini, apakah tidak ada penciptanya?” Akhirnya kaum Zindiq itu terdiam dan mereka sadar, lalu kembali kepada perkara yang hak dan semuanya masuk Islam di tangan Abu Hanifah.
  3. Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa ia pernah ditanya mengenai masalah ini, ia menjawab bahwa ada sebuah benteng yang kuat lagi licin, tidak mempunyai pintu dan tidak mempunyai lubang. Bagian luarnya putih seperti perak, sedangkan bagian dalamnya kuning mirip emas dan emas murni. Ketika benteng tersebut dalam keadaan demikian, tiba-tiba temboknya terbelah dan keluarlah darinya seekor hewan yang dapat mendengar dan melihat, bentuk dan suaranya lucu. Dia bermaksud menggambarkan telur bila menetas dan keluar ayamnya.
  4. Dalam surat al-Hajj 22:73 Allah memberikan permisalan mengenai sesembahan yang disembah selain Allah, yaitu bahwasanya mereka tidak dapat menciptakan seekor lalat pun dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali. Termasuk dalam permisalan ini adalah batilnya klaim bahwa makhluk hidup itu tercipta dengan sendirinya oleh alam semesta. Tidakkah orang – orang atheis itu memikirkan bahwa bagi manusia untuk menciptakan lalat dengan sengaja saja tidak bisa apatah lagi lalat itu dapat tercipta dengan sendirinya secara random di alam semesta? Bahkan sampai saat ini pun tidak ada satupun manusia yang dapat menciptakan satu makhluk hidup pun (meskipun makhluk hidup paling sederhana sekalipun) dari benda – benda anorganik (benda – benda mati). Dengan demikian, makhluk hidup pasti ada penciptanya, dialah Allah yang Esa.
  5. Bukti dari diri manusia, salah satunya yang sederhana adalah adanya kotoran pada telinga manusia. Kotoran/serumen itu adalah hasil produksi kelenjar – kelenjar liang telinga, lapisan kulit, dan debu. Berbau khas sebagai pelindung agar serangga tidak masuk ke telinga. Bila manusia dan alam semesta ini tidak ada yang menciptakannya dan makhluk hidup itu adalah hasil evolusi dari makhluk hidup sederhana yang tercipta di alam dengan sendirinya, bagaimana kita bisa menjelaskan adanya kotoran telinga pada manusia yang berfungsi sebagai pelindung agar serangga tidak masuk dan merusak pendengaran manusia? Teori evolusi apapun akan gagal menjelaskannya karena pada faktanya kelenjar – kelenjar liang telinga itu mengeluarkannya sendiri tanpa adanya kemauan sadar dari kita. Bahkan kita secara pribadi tidak mampu mengendalikannya. Bagaimana mungkin kita berevolusi membuat sistem perlindungan tersebut kalau memegang kendali terhadapnya saja kita tidak bisa? Ibarat robot yang dibuat di masa ini, semua sistemnya harus dibuat secara sengaja agar bisa berfungsi dengan baik. Begitupun juga dengan manusia, ada sang Pencipta yang menciptakan sistem kehidupannya. Bila manusia ada yang menciptakan, lalu siapa yang menciptakan yang menciptakan? Itu bukanlah sesuatu yang dapat menjadi topik bahasan karena sudah diluar jangkauan akal. Kalau sudah diluar jangkauan akal, maka yang ada hanyalah imajinasi saja kecuali sang Pencipta tersebut yang memberi tahu kita hal ihwalnya.
  6. Sebuah ilustrasi yang dibuat berikut ini mengenai iPhone 6 plus yang ateis sangat mengena sekali. Berikut dialognya:iPhone 6: Halo namaku iPhone 6 plus, Aku seorang ateis.iPhone 6: Aku tidak percaya pada dongeng tentang adanya makhluk cerdas yang menciptakanku. (Pada video nya muncul foto Steve Jobs yaitu orang yang menciptakan iPhone).iPhone 6: Katakanlah, aku tidak perlu mempercayai hal itu. Aku hanyalah produk dari sebuah kebetulan.iPhone 6: Kamu lihat, aku terbuat dari beberapa logam dan plastik.

    iPhone 6: Aku memiliki baterai litium, yang terbuat dari beberapa bahan seperti seng, kadmium, nikel dan lainnya.

    iPhone 6: Aku memiliki RAM DDR3 yang dibangun dari ribuan micro transistor dan kapasitor, semuanya tersusun dalam chip.

    iPhone 6: Aku memiliki unit pemrosesan pusat dan grafis yang tersusun dari silikon dan semikonduktor yang lain.

    iPhone 6: Aku juga memiliki flash memori, layar safir, dan banyak komponen lainnya.

    iPhone 6: Semua elemen itu saling menyatu melalui beberapa dekade evolusi dan seleksi alam.

    iPhone 6: Kami tahu asal usul dan nenek moyang kami, kami bahkan bisa melihat sisa – sisa dan jejak mereka di mana pun. (sambil muncul gambar – gambar telepon dari yang paling jadul sampai paling baru).

    iPhone 6: Cerita evolusi mereka benar – benar masuk akal. Dan inilah kami…iPhone.

    iPhone 6: Jadi kenapa aku harus percaya cerita mitos bahwa ada yang menciptakanku dengan tangan mereka? Apakah kamu bercanda?

    iPhone 6: Tahu nggak? Aku nggak percaya kalau Steve Jobs itu ada.

    Demikianlah kisah si iPhone 6 plus yang ateis. Anda yang menonton video tersebut pasti tersenyum – senyum karena merasa lucu dengan ateisnya atau tidak percayanya si iPhone 6 plus dengan adanya Steve Jobs yang menciptakannya. Bagaimana mungkin sebuah sistem iPhone yang demikian canggih dapat tercipta dengan sendirinya. Begitupun juga dengan manusia yang memiliki sistem hidup jauh lebih kompleks daripada sekedar iPhone. Iphone yang ateis saja sudah sangat lucu, tentunya lebih lucu lagi kalau ada manusia yang tidak percaya bahwa ada Sang Pencipta yang menciptakannya.

    Silahkan tonton videonya di sini:

     

  7. Salah satu bukti adanya Sang Pencipta / Tuhan adalah adanya kematian dan kehidupan. Salah satu argumen kaum ateis adalah bahwasanya manusia itu dan juga makhluk hidup lainnya tercipta dengan sendirinya dari benda mati secara alami melalui proses evolusi jutaan tahun. Namun pada kenyataannya mereka gagal untuk membuktikan adanya kehidupan yang dapat tercipta dengan sendirinya dari benda – benda mati. Orang ateis yang agak cerdas sedikit tentunya dapat menjawab siapa pencipta dirinya, jawaban paling minimal adalah ayah dan ibunya yang menciptakannya di dalam perut ibunya. Pertanyaan selanjutnya, apakah ayah dan ibunya yang menghendaki bentuk sebuah janin, lamanya proses pembentukan janin, dan hidup serta matinya sang janin? Jawabannya tentu tidak. Hidup dan matinya sang janin adalah suatu hal yang berada di luar segala kehendak kita. Apakah mungkin alam yang menciptakan sistem kehidupan manusia mulai dari janin hingga lahir sebagai manusia? Penciptaan kehidupan manusia mirip seperti laptop dan hand phone yang hidup dan matinya diluar kehendak laptop ataupun hand phone itu sendiri. Namun ada kekuatan dari luar yang menciptakan sistemnya sehingga ia dapat hidup. Ada yang menciptakan baterai baginya, ada yang menciptakan processor sebagai otaknya sehingga alat – alat tersebut dapat hidup, dsb. Setiap sistem pasti ada yang menciptakannya. Percaya bahwa bisa jadi ada suatu sistem yang hidup sendiri tanpa adanya orang yang menciptakannya sama saja halnya dengan mengatakan bahwa bila kita letakkan sebuah laptop, kemudian baterai di sampingnya, kemudian charger yang belum dicolokkan ke listrik dalam satu tempat yang berdekatan, lalu kita tunggu jutaan tahun kemudian niscaya laptop tersebut akan hidup karena baterai dan charger telah terpasang sendiri secara random jutaan tahun. Lucu kan? Begitu juga dengan ateisme, sebuah paham yang lucu karena ia tidak percaya adanya pencipta dari sebuah sistem kehidupan.

Penciptaan Manusia

8. DNA (Deoxyribonucleic Acid) adalah bukti adanya Allah sang pencipta. DNA ibarat sebuah buku yang menjelaskan mengenai detil pembuatan, pemasangan, penggunaan, dan operasional sebuah mobil. DNA adalah sebuah cetakan yang menentukan apa warna mata kita, kulit kita, berapa detak jantung kita, apa yang harus dilakukan sel darah merah, enzim apa saja yang kita miliki, makanan apa saja yang dapat kita cerna, mengapa kita tidak makan rumput, bagaimana cara mencerna makanan, rambut kita ikal atau keriting, dan lain – lain. DNA adalah sebuah buku cetakan kehidupan. Nah sekarang saat kita memiliki sebuah buku cetakan mobil tadi, yang menentukan aliran listrik dari aki ke busi, berapa banyak injeksi bensin ke dalam mesin pembakar, berapa laju pendinginan radiator, ada berapa ‘gigi’ kecepatan, di mana pedal gas, yang mana pedal rem, dst, apakah buku itu bisa ada begitu saja dengan evolusi milyaran tahun? Mungkinkah setelah milyaran tahun evolusi terciptalah sebuah buku yang memuat informasi yang lengkap mengenai cetak biru sebuah mobil? Jawabannya tentu saja tidak mungkin! Buku tersebut pasti ada penciptanya. Demikian jugalah dengan buku cetakan kehidupan seluruh makhluk hidup yaitu DNA, pasti ada yang menciptakannya. Dalam DNA manusia terkandung trilyunan informasi mengenai cetakan manusia. Tidak mungkin bila buku cetakan kehidupan manusia tersebut ada dengan sendirinya selama milyaran tahun evolusi. Ada Allah sang pencipta yang telah menciptakannya.

9. Salah satu bukti adanya Allah ta’ala Sang Pencipta adalah bentuk gigi hewan. Hewan pemakan daging giginya adalah gigi taring yang runcing dan tajam, berfungsi untuk mengoyak daging. Hewan pemakan tumbuhan giginya gigi seri yang tumpul, fungsinya untuk memotong dedaunan. Hewan pemakan segala giginya campuran antara gigi taring dan gigi seri. Hewan pemakan tumbuhan, dikasih makan daging selama jutaan tahun lamanya pun giginya tidak akan berubah menjadi gigi taring. Kenapa? Karena bentuk gigi tersebut tidaklah diusahakan melainkan sebuah pemberian. Sekalipun induk kambing giginya berhasil ia kikir atau ia amplas menjadi gigi taring, tetap saja anak yang ia lahirkan giginya adalah gigi seri karena DNA nya atau cetakannya memang adalah gigi seri. Cetakan itu bukan atas pilihan atau usaha seekor kambing, melainkan sudah ada yang mendesain dan menciptakannya. Maka pastilah ada yang mendesain dan menciptakannya. Dia lah Allah ta’ala yang menciptakan dan mendesainnya.