Cinta Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam Merupakan Bagian Dari Iman

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

“Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya”. HR. Bukhari.

Dari Anas berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya”. HR. Bukhari.

Penjelasan Lafadz – Lafadz Hadits

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
Artinya “Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya”. Ini merupakan bentuk sumpah yang paling agung. Maksud dari sumpah itu adalah sebagai penegasan pembicaraan dengan menunjukkan pentingnya urusan itu. Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersumpah dengan kemuliaan dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala bahwa keimanan tidak akan benar dan sempurna kecuali ketika cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam lebih besar daripada cinta kepada segenap makhluk lainnya.

Anas menambahkan riwayat Abu Hurairah dengan redaksinya:

وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Dan dari manusia seluruhnya”. HR. Bukhari.

sebagai penjelas bahwasanya cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk perkara syar’iyah yang sangat penting.

Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي

“Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala-galanya selain diriku sendiri.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Maka Umar berkata:

فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي

“Sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku”.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْآنَ يَا عُمَرُ

“Sekarang (baru benar) wahai Umar.” HR. Bukhari.

أَحَبَّ إِلَيْهِ
Artinya “lebih dicintainya”. Yang dimaksud dengan cinta di sini adalah cinta yang diniatkan dan diusahakan, bukan cinta yang alami. Karena manusia secara alaminya mencintai setiap yang membawa kebaikan bagi dirinya sendiri, cinta Rasul di sini adalah tambahan dari yang demikian itu. Yang demikian itu, apabila terdapat ancaman bahaya terhadap diri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, wajib bagi seorang mu’min untuk mendahulukan dirinya sebagai tebusan bagi diri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila dirinya sangat ingin terhadap sesuatu yang diperingatkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, wajib baginya meninggalkan perkara yang ia cintai bagi dirinya sendiri itu dan mengambil apa yang Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam cintai. Demikianlah berlaku dalam segala sesuatunya.

Mahabbah atau cinta itu ada tiga:

Pertama adalah cinta yang bersifat emosional seperti mencintai anaknya, istrinya, dan cintanya kepada orang yang telah memberinya kebaikan.

Kedua adalah cinta yang fitrah seperti cinta kepada makanan, minuman, dan cinta kepada keinginan – keinginan lainnya sebagaimana disebutkan dalam hadits:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Aku dijadikan senang mencintai wanita, wangi-wangian dan yang menjadi penyejuk hatiku adalah shalat”. HR. Ahmad.

Allah ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” QS. Ali Imran: 14.

Ketiga adalah cinta karena memuliakan dan mengagungkan seperti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang seperti ini diisyaratkan dengan firman Allah ta’ala:

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir…” QS. Al-Ma’idah: 54.

Faidah Yang Dapat Diambil Dari Hadits

Pertama, bolehnya bersumpah atas suatu urusan yang di dalamnya ada kemaslahatan diniyah atau tersampaikannya maksud pentingnya sebagaimana disebutkan dalam hadits:

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ

“Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya”.

Kedua, dalam hadits ini terdapat pemuliaan urusan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan pengagungannya serta mentaatinya pada apa saja yang beliau bawa dan mengikutinya sebagai contoh dalam perjalanan hidupnya. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. Ali Imran : 31.

Ketiga, dalam hadits ini terdapat pengutamaan maslahat agama atas maslahat duniawi. Cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kewajiban agama.

Ibnu Hajar berkata: termasuk tanda – tanda cinta yang disebutkan adalah seorang mu’min mengharapkan kalaulah ia hidup di zaman Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ia akan menolong dan membantunya serta menyingkirkan semua yang ia benci.

Qadhi Iyadh berkata: termasuk cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam adalah menolong sunnahnya, melindungi syariatnya, mengharapkan kehidupannya, dan mengorbankan hartanya serta jiwanya selain Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Termasuk ekspresi cinta yang benar adalah apa yang dikatakan oleh sahabat ‘Amru bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu:

وَمَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا أَجَلَّ فِي عَيْنِي مِنْهُ وَمَا كُنْتُ أُطِيقُ أَنْ أَمْلَأَ عَيْنَيَّ مِنْهُ إِجْلَالًا لَهُ

“Dan tidak ada seorang pun yang lebih saya cintai daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak ada yang lebih jelas pada mataku daripada beliau, dan aku tidak mampu untuk memenuhi kedua mataku (dengan sesuatupun) daripada beliau karena pengagungan kepada beliau.” HR. Muslim.

Benar dan Ikhlasnya Para Sahabat Dalam Cinta Kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

لَمَّا كَانَ يَوْمُ أُحُدٍ انْهَزَمَ النَّاسُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو طَلْحَةَ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُجَوِّبٌ بِهِ عَلَيْهِ بِحَجَفَةٍ لَهُ وَكَانَ أَبُو طَلْحَةَ رَجُلًا رَامِيًا شَدِيدَ الْقِدِّ يَكْسِرُ يَوْمَئِذٍ قَوْسَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا وَكَانَ الرَّجُلُ يَمُرُّ مَعَهُ الْجَعْبَةُ مِنْ النَّبْلِ فَيَقُولُ انْشُرْهَا لِأَبِي طَلْحَةَ فَأَشْرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَى الْقَوْمِ فَيَقُولُ أَبُو طَلْحَةَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي لَا تُشْرِفْ يُصِيبُكَ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ الْقَوْمِ نَحْرِي دُونَ نَحْرِكَ وَلَقَدْ رَأَيْتُ عَائِشَةَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ وَأُمَّ سُلَيْمٍ وَإِنَّهُمَا لَمُشَمِّرَتَانِ أَرَى خَدَمَ سُوقِهِمَا تُنْقِزَانِ الْقِرَبَ عَلَى مُتُونِهِمَا تُفْرِغَانِهِ فِي أَفْوَاهِ الْقَوْمِ ثُمَّ تَرْجِعَانِ فَتَمْلَآَنِهَا ثُمَّ تَجِيئَانِ فَتُفْرِغَانِهِ فِي أَفْوَاهِ الْقَوْمِ وَلَقَدْ وَقَعَ السَّيْفُ مِنْ يَدَيْ أَبِي طَلْحَةَ إِمَّا مَرَّتَيْنِ وَإِمَّا ثَلَاثًا

“Ketika perang Uhud orang-orang kabur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan Abu Thalhah tetap bertahan di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang yang ahli memanah yang apabila mengenai target langsung menembus kulit. Pada perang itu dia telah mematahkan dua atau tiga anak panah karena sangat kerasnya bidikannya. Ada seorang laki-laki lewat di hadapannya dengan membawa sarung anak panah dan berkata; “Berikan ini kepada Abu Thalhah”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendongakkan kepala beliau melihat keberadaan musuh, maka Abu Thalhah berkata; “Wahai Nabi Allah, demi ayah ibuku sebagai tebusannya, janganlah baginda mendongakkan kepala sebab bisa jadi ada panah musuh yang mengenai baginda. Cukup aku saja sebagai taruhannya. Sungguh aku melihat ‘Aisyah binti Abu Bakr dan Ummu Sulaim, keduanya mengangkat pakaiannya setinggi mata kakinya sehingga terlihat perhiasan yang ada pada betisnya. Keduanya membawa kendi-kendi air untuk memberi minum kepada mulut-mulut dari orang yang terluka. Sementara itu pedang musuh telah mengenai badan Abu Thalhah dua atau tiga kali.” HR. Bukhari.

Ini adalah cinta yang benar yang ditunjukkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahkan beberapa di antara mereka mati syahid dalam perang Uhud tersebut karena berkorban melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu ‘alam bi as-shawab.

Disarikan dari Syarah al-Muyassar Li Shahih al-Bukhari oleh Syaikh Muhammad ‘Ali As-Shabuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *