Category Archives: Tafsir

Yesus/Nabi Isa Adalah Tetap Hamba Allah Bukan Anak Tuhan Meski Lahir Tanpa Ayah

Published by:

Suatu ketika, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam kedatangan pendeta – pendeta dari Najran. Mereka marah kepada Rasulullah karena Rasul menyebut Nabi Isa atau Yesus sebagai hamba Allah dan bukan anak tuhan sebagaimana kaum Nasrani biasa menyematkan gelar tersebut kepada Yesus. Mereka bertanya kepada Rasul: “Apakah engkau pernah melihat seorang manusia yang dilahirkan tanpa bapak? Kalaulah kamu benar maka kami pasti menjumpai yang semisal dengan Yesus”. Maka kemudian Allah menurunkan surat Ali Imran ayat 59 yang merupakan jawaban atas lemahnya argumentasi mereka. Allah berfirman bahwa ada yang semisal dengan Isa atau Yesus yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam. Bahkan Nabi Adam jauh lebih dahsyat penciptaannya daripada Nabi Isa karena Nabi Adam diciptakan tanpa adanya Ibu dan Bapak. Lalu mengapa mereka tidak menyembah Nabi Adam juga? Sungguh lemah argumentasi mereka dan Maha Suci Allah dari yang mereka persekutukan. Allah ta’ala berfirman: Continue reading

Tiket ke Surga

Published by:

Tiket ke Surga itu ada dua, yaitu jihad dan sabar. Allah ta’ala berfirman:

(أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” QS. Ali Imran 142.

Syaikh Wahbah Zuhaili menjelaskan di dalam tafsirnya Al-Munir yaitu apakah kalian mengira akan masuk surga sementara kalian tidak berjihad di jalan Allah dan bersabar dalam peperangan? Kalian tidak akan mendapatkan surgaNya sebelum mengalaminya dan Allah melihat kalian sebagai mujahidin fi sabilillah dan orang – orang yang bersabar dalam melawan musuh. Hal ini semisal dengan firman Allah: Continue reading

Belajar Dari Kekalahan di Perang Uhud

Published by:

Umat Islam sudah sangat sering kalah. Baik itu di masa kini maupun di masa Rasul. Perang Uhud misalnya, kaum muslimin kalah telak. Para sahabat bertanya mengapa kita bisa kalah padahal Allah telah berjanji untuk menolong kita? Allah menjawab pertanyaan tersebut di surat Ali Imran 152 sekaligus memberitahukan sebab kekalahan di perang Uhud. Allah ta’ala berfirman:

(وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ)

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” QS. Ali Imran 152. Continue reading

Setiap Jiwa Akan Mengalami Kematian dan Mendapatkan Balasan Perbuatannya

Published by:

Semua yang berjiwa pasti akan mati. Setiap manusia pasti akan mati dengan membawa amalnya masing – masing, baik amal keburukan maupun amal kebaikan. Setiap manusia akan diberi balasan atas amal – amal kebaikannya dengan tidak dikurangi sedikitpun dan seadil – adilnya. Demikian juga dengan amal-amal buruknya akan dibalas dengan balasan yang sempurna. Allah ta’ala berfirman:

(كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. Ali Imran 185. Continue reading

Haramnya Memakan Harta Anak Yatim

Published by:

Di masa Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam terdapat seorang lelaki dari Ghathfan yang padanya terdapat harta yang sangat banyak kepunyaan anak saudaranya yang telah yatim. Ketika anak yatim tersebut telah baligh, ia meminta hartanya tersebut namun pamannya itu menghalanginya. Kemudian sampailah hal tersebut kepada Nabi dan turunlah ayat berikut ini:

(وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا)

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.” QS. An-Nisa’ 2. Continue reading

Bolehnya Poligami (Bukan Wajib atau Disunnahkan) Dengan Syarat Mampu Adil Dalam Pembagian Nafkah

Published by:

Suatu ketika Urwah pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai firman-Nya,

(وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا)

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. QS. an-Nisa’ 3.

Aisyah menjelaskan, “Wahai anak saudaraku, maksudnya adalah anak perempuan yatim yang tinggal di rumah walinya, lalu sang wali pun berhasrat pada kecantikan dan juga hartanya. Namun sang wali itu hendak mengurangi maharnya. Karena itu, mereka pun dilarang untuk menikahi anak-anak perempuan yatim itu kecuali dengan menyempurnakan maharnya. Akhirnya mereka pun diperintahkan untuk menikahi wanita-wanita selain mereka.” Aisyah juga menjelaskan, “Setelah itu, orang-orang pun pada meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Allah menurunkan ayat, Continue reading